BANGKALAN, SURYA.co.id - Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kini resmi membuka Fakultas Kedokteran (FK).
Usai mengantongi SK Mendiktisaintek RI Nomor 610/B/O/2026 pada Selasa (2/6/2026) malam, Fakultas Kedokteran UTM langsung membuka pendaftaran jalur mandiri tahun ini dengan kuota terbatas untuk 50 mahasiswa.
Kehadiran Fakultas Kedokteran UTM menjadi harapan baru, demi menyempurnakan kualitas pelayanan medis bagi masyarakat setempat.
Baca juga: UTM Buka Fakultas Kedokteran, PB IDI : Banyak Puskemas Kekurangan SDM Dokter
Berdasarkan data yang dihimpun, rasio dokter di Pulau Madura saat ini adalah satu dokter melayani 7.000 penduduk.
Angka ini terpaut jauh dari rata-rata nasional yang berada di angka 1 banding 3.000 penduduk.
Rektor UTM, Prof Dr Safi', menegaskan bahwa kehadiran FK UTM diharapkan dapat mempercepat pemerataan tenaga medis.
Dukungan penuh juga datang dari berbagai pihak, termasuk Ikatan Dokter Indonesia.
Wakil Ketua Humas PB IDI, dr Farhat Suryaningrat, menyatakan kebanggaannya atas pencapaian UTM ini.
"Ini bagus untuk peningkatkan SDM dokter. Sekarang di puskesmas-puskesmas masih kekurangan SDM dokter, termasuk di beberapa titik layanan kesehatan juga masih kekurangan dokter," ungkap dr Farhat kepada Tribun Madura.
"Warga Madura juga tidak perlu jauh-jauh belajar keluar karena di Bangkalan melalui UTM sudah ada Fakultas Kedokteran," jelasnya.
Meski baru mendapatkan izin, Fakultas Kedokteran UTM akan memulai penerimaan angkatan perdana pada tahun akademik 2026.
Pada tahap awal, program studi ini hanya menyediakan kuota sebanyak 50 mahasiswa yang nantinya dibagi ke dalam dua rombongan belajar.
Prof Safi' mengungkapkan bahwa informasi resmi mengenai mekanisme dan tahapan seleksi mahasiswa baru akan diumumkan mulai Rabu (3/6/2026).
Saat ini, pihak universitas masih merampungkan sejumlah kebutuhan administratif dan teknis untuk mendukung proses penerimaan calon mahasiswa.
Karena seluruh rangkaian seleksi masuk perguruan tinggi melalui jalur nasional telah berakhir, UTM memanfaatkan jalur mandiri sebagai skema penerimaan mahasiswa baru untuk Program Studi Kedokteran.
"Jadi kami masih ada kesempatan membuka pendaftaran mahasiswa baru prodi kedokteran di jalur mandiri karena jalur nasional sudah lewat. SDM Prodi Kedokteran maupun sarana prasarana dan kurikulum sudah siap," jelas Prof Safi'.
Dalam penyelenggaraannya, UTM telah menyiapkan infrastruktur medis yang matang.
RSUD Syamrabu Bangkalan telah disiapkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Satelit, sementara RSP Utama akan berlokasi di Pamekasan.
Dr Farhat, yang juga menjabat sebagai Direktur RSUD Syamrabu, menjelaskan komitmen rumah sakitnya dalam mendukung FK UTM, termasuk penyediaan tenaga pengajar spesialis.
"Prakteknya juga bisa di RSUD Syamrabu Bangkalan," pungkas dr Farhat.
Prof Safi' menjelaskan pembagian peran rumah sakit ini merupakan bagian dari persyaratan ketat pendirian fakultas.
"Keberadaan RSP Utama merupakan salah satu syarat khusus untuk pendirian Fakultas Kedokteran. RSUD Syamrabu Bangkalan akan berperan sebagai RSP Satelit untuk mendukung RSP Utama dalam kegiatan praktek mahasiswa Fakultas Kedokteran UTM," jelas Prof Safi'.
Senada dengan PB IDI, Ketua IDI Kabupaten Bangkalan, dr Nurul Hidayat, menyambut bahagia momentum bersejarah ini.
Pria yang akrab disapa Dokter Yayak itu menyatakan kesiapan organisasinya untuk bersinergi dengan FK UTM.
"Ini adalah momentum dan saya menukung penuh. Misalnya dibutuhkan kerjasama di segala bidang kedokteran, IDI Bangkalan siap," tegas dr Yayak.
Menurutnya, keberadaan FK di Madura akan mempermudah pemerataan layanan kesehatan hingga ke pelosok.
"Tentu saja momentum ini akan mengiskis kesenjangan perbedaan dokter dan masyarakat yang memerlukan ayanan kesehatan," pungkasnya.