Puluhan Bentor di Kota Yogyakarta Dihancurkan, Pengemudi Dialihkan ke Becak Listrik
Muhammad Fatoni June 03, 2026 06:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebanyak 50 unit becak motor (bentor) di Kota Yogyakarta dihancurkan secara fisik menggunakan alat berat, di Halaman UPT Pengujian Kendaraan Bermotor, Rabu (3/6/2026).

Melalui kegiatan rangkaian HUT ke-79 Pemkot Yogyakarta tersebut, upaya pembersihan kawasan sumbu filosofi dari polusi udara resmi dimulai.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan langkah ini diambil demi mewujudkan cita-cita kawasan Malioboro dan sumbu filosofi yang minim polutan.

Sebagai gantinya, para pengemudi bentor yang berkenan merelakan armadanya dimusnahkan, mendapat ganti becak listrik yang ramah lingkungan.

​"Ya, lambat tapi pasti bahwa becak konvensional harus habis. Kemudian secara bertahap becak listrik hadir. Hari ini 50 unit (bentor) kita hancurkan," tandasnya.

Ratusan Becak Listrik Sudah Mengaspal

​Hasto memaparkan, hingga saat ini sudah ada sekitar 260 unit becak listrik yang mengaspal di Kota Pelajar, terutama di seputaran kawasan Malioboro.

Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari pengadaan bertahap, mulai sejak peluncuran awal, hingga bantuan unit becak listrik dari berbagai pihak.

Secara keseluruhan, Pemkot Yogyakarta membidik total 900 becak listrik untuk menggantikan seluruh bentor yang ada pada kisaran 2028 mendatang.

​"Harapan saya dalam waktu dua tahun paling telat, 900 itu sudah tergantikan. Biar nanti tahun 2028 sudah semua, tidak ada lagi becak motor di Malioboro," ujarnya.

Baca juga: Kronologi Dugaan Penahanan Ijazah dan Pungutan Sumbangan di SMAN 2 Yogyakarta

​Untuk mempercepat target tersebut, Hasto berencana mengajukan anggaran pengadaan armada ramah lingkungan ini ke DPRD Kota Yogyakarta.

Kendati demikian, karena keterbatasan dana, alokasi anggaran yang dikucurkan tidak bisa serta merta langsung mencukup seluruh kebutuhan.

"Kalau saya beli 500 becak pakai APBD kan agak cepat. Saya mengusulkan anggaran di Perubahan 2026, kemudian APBD Murni 2027, harusnya bisa terbeli 500 becak," imbuhnya.

Pengetatan Organisasi

​Guna mengantisipasi munculnya bentor-bentor baru di jalanan, Pemkot Yogyakarta menerapkan strategi pengetatan organisasi, di mana kepemilikan becak listrik sengaja diberikan melalui wadah koperasi.

​Sistem by name by address para pengayuh becak kini telah dikunci rapat, supaya ke depan tidak ada celah bagi penarik bentor ilegal untuk menyusup.

​"Syarat menerima becak dalam bentuk koperasi, bukan individu. Koperasi inilah yang mengontrol, jangan sampai tambah. Sudah kita kunci jumlahnya, kita data melalui koperasi," tegasnya. 

​Di sisi lain, Wali Kota mengakui, bahwa operasional becak listrik saat ini masih dalam tahap penyesuaian sebelum resmi mengangkut penumpang.

Beberapa evaluasi terus dilakukan karena belum semua pengayuh familiar dengan teknologi baru ini, termasuk adaptasi terhadap medan jalanan kota.

​"Nanti becak-becak yang diproduksi ke depan ini sudah semuanya kompatibel, baik terhadap pengguna (pengayuh) maupun terhadap lingkungan," pungkasnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.