Laporan Wartawan Tribun Gayo Alga Mahate Ara | Aceh Tengah
Tribungayo.com, ACEH TENGAH - Harga berbagai jenis pupuk dan plastik mulsa di Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, mengalami lonjakan tajam.
Hal itu diungkap oleh salah seorang petani di Pegasing, Aceh Tengah, Muhammad Idham kepada TribunGayo.com, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, kenaikan harga berbagai kebutuhan pertanian menjadi beban berat karena merupakan komponen utama dalam aktivitas bertani.
Ia juga merasakan langsung dampak kenaikan harga mulsa. “Dulu harga mulsa merek CBA sekitar Rp500 ribu per gulung, sekarang dijual Rp700 ribu ,” ungkap Idham.
Idham mengaku dilema dalam proses tanam, karena di satu sisi harga bahan produksi tinggi, sementara di sisi lain harga panen tidak bisa diprediksi.
Meski demikian, ia tetap harus menanam dengan mengurangi luas lahan hingga sekitar 30 persen.
Baca juga: Pupuk Urea Langka, Petani di Aceh Tenggara Terancam Gagal Panen
"Jadi tidak semua lahan yang saya punya saya tanami. Kemarin alhamdulillah tomat memang harganya tinggi saat saya panen, tapi ke depan kan tidak bisa kita prediksi. Rencana saya tetap menanam cabai merah, hanya sebagian,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa harga bibit cabai merah keriting mengalami kenaikan signifikan.
"Sebelumnya cabai OR dijual sekitar Rp300 ribu, sekarang naik menjadi 500 ribu lebih harganya.”
Disebutkan, kenaikan harga pupuk dan mulsa ini dikhawatirkan dapat mengurangi minat masyarakat untuk bertani dan berdampak pada keberlanjutan produksi pertanian di Aceh Tengah.
Diketahui, berdasarkan ketetapan resmi dari Kementerian Pertanian yang berlaku merata di seluruh Indonesia, termasuk di Aceh Tengah, harga pupuk bersubsidi lebih terjangkau.
Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi seperti Urea Rp1.800 per kg atau Rp90.000 per sak, dan NPK Rp1.840 per kg atau Rp92.000 per sak, kemudian ZA Rp1.360 per kg atau Rp68.000 per sak.
Sementara itu akibat kenaikan harga pupuk dan mulsa, daya beli petani merosot hingga terpaksa memangkas volume pembelian hingga separuh dari biasanya.
M. Nasir, pengelola toko Pertanian/ Saprotan di Jalan HM Hasan Gayo, tepat di depan Terminal Lama Takengon, saat ditemui di tokonya membenarkan harga pupuk mengalami kenaikan.
Menurut Nasir, kenaikan harga terjadi merata pada hampir semua jenis pupuk, terutama produk-produk seperti NPK dan SS.
Kenaikan berkisar antara Rp100.000 hingga Rp200.000 per karung.
"Semua jenis naik, dari harga Rp700.000 sekarang jadi Rp850.000 sampai Rp900.000," kata M. Nasir kepada TribunGayo.com, Rabu (3/6/2026).
Dampak dari lonjakan harga ini, lanjut Nasir, para petani yang biasanya menggarap lahan dengan skala luas kini mulai membatasi kapasitas produksi dan mengurangi pembelian pupuk.
"Kebanyakan petani melakukan pengurangan pembelian. Yang biasanya menanam agak lebar, ini sudah dikurangi setengah," ujarnya.
Selain pupuk, harga plastik mulsa untuk pelapis tanah juga melambung tinggi.
Plastik mulsa yang biasa dijual Rp450.000 kini naik menjadi Rp600.000 per gulung.
Sementara untuk jenis mulsa yang sebelumnya seharga Rp620.000, kini melonjak hingga Rp800.000 per gulung.
Menyikapi kondisi tersebut, Nasir berharap harga barang-barang kebutuhan pertanian dapat kembali stabil agar tetap terjangkau oleh modal para petani lokal.
"Kami berharap harganya stabil sajalah seperti dulu, bisa dijangkau oleh petani," pungkasnya. (*)