Dampak Kebakaran Savana Propok Rinjani: 98 Hektare Lahan Ludes, Destinasi Tutup Sementara
Wahyu Widiyantoro June 03, 2026 08:21 PM

TRIBUNLOMBOK.COM - Savana Propok, salah satu destinasi wisata non-pendakian yang tengah naik daun di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang kini harus tutup sementara.

Tak hanya itu, padang savana, yang menjadi andalan destinasi ini juga ludes terbakar.

Kebakaran yang pertama kali dilaporkan pada Selasa (2/6/2026) sekitar pukul 11.00 WITA itu baru berhasil dipadamkan sepenuhnya pada Rabu pagi (3/6/2026), setelah tim gabungan berjumlah sekitar 50 orang berjibaku melawan api sejak siang hingga petang, lalu melanjutkan pemadaman keesokan harinya. 

Tim tersebut melibatkan unsur Balai TNGR, Dalkarhut Mataram Wilayah 3, Masyarakat Peduli Api (MPA), Masyarakat Mitra Polhut (MMP), TNI, Polri, hingga pengelola destinasi Savana Propok sendiri.

Balai TNGR mengonfirmasi luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai 98,28 hektare. 

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardi, menjelaskan bahwa vegetasi yang terbakar didominasi hamparan savana berkarakter rumput kering yang sangat mudah terbakar dan cepat merambat. 

Baca juga: Luas Areal Kebakaran Savana Propok Rinjani Diperkirakan Capai 98,28 Hektare

Jenis kebakaran yang terjadi adalah surface fire atau kebakaran permukaan yang menjalar horizontal mengikuti kondisi angin dan topografi hamparan terbuka.

Hingga laporan ini dibuat, penyebab pasti kebakaran belum dapat dipastikan. 

Penanggung Jawab Pengendalian Kebakaran Hutan Balai TNGR, MN. Fajrin, menyatakan pihaknya masih menunggu hasil identifikasi lapangan. 

Ia tidak menutup kemungkinan adanya unsur kelalaian manusia, meski faktor alam khususnya kondisi kemarau yang mempercepat penyebaran api.

Fajrin mengakui bahwa kebakaran di kawasan TNGR adalah peristiwa yang berulang setiap tahun, bergantian menyasar lokasi yang berbeda. 

Tahun 2025 lalu, giliran kawasan Sembalun dan Aikmel yang terdampak. Kini Savana Propok. 

Pola ini ini adalah gejala yang bisa diprediksi namun belum sepenuhnya bisa dicegah.

Kondisi cuaca kemarau yang semakin ekstrem dari tahun ke tahun memperbesar risiko. 

Rumput ilalang yang mengering menjadi bahan bakar alami dan hamparan terbuka savana membuat api bisa menjalar jauh lebih cepat dibandingkan di kawasan berhutan lebat. 

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.