Sawah Terdampak Banjir Sedang Dinormalisasi, Ini Harapan Kadistanbun Bireuen
Nurul Hayati June 03, 2026 08:37 PM

Laporan Yusmandin Idris I Bireuen

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN - Perbaikan atau rehabilitasi sawah yang rusak sedang  akibat banjir yang melanda Kabupaten Bireuen pada akhir November lalu sebagian sudah dilakukan, sedangkan sawah rusak berat
segera dilakukan. 

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Bireuen, Mulyadi SE MM kepada Serambinews.com, Rabu (3/6/2026) mengatakan, sawah rusak sedang yang sudah ditangani sejak beberapa
waktu lalu yaitu di Samalanga, Peusangan, Jangka, Kutablang dan Gandapura. 

“Sekarang sedang berlangsung penanganan atau rehabilitasi dengan sistem swakelola dengan kelompok tani, sebagian sudah selesai ditangani dengan mendatangkan alat berat ke masing-masing lokasi,” ujarnya.

Sawah yang telah dinormalisasi masih terhampar luas dan belum ada pematang sawah dan mengharapkan partisipasi kelompok tani, para petani untuk sama-sama membangun pematang sawah sehingga saat pengelolaan tanah nantinya sudah ada batas masing-masing. 

Kondisi hari ini katanya, sebagian sawah yang telah dibersihkan dengan buldozer lumpur endapan banjir  sawah masih terhampar luas karena belum ada pematang sawah atau pembatas sawah seperti di Samalanga. 

Para petani kata Kadistanbun Bireuen, sangat diharapkan partisipasinya maupun kelompok tani untuk segera membangun pematang sawah masing-masing.

Dengan adanya pematang sawah dipastikan areal persawahan saat musimtanam sudah mudah digarap.

Menjawab Serambinews.com, sawah terdampak sedang di Bireuen mulai dikerjakan, sedangkan sawah terdampak berat kapan dikerjakan, Mulyadi mengakui akan segera melakukan. 

Diakuinya, pemerintah baru melakukan rehab sawah terdampak sedang mulai dikerjakan.

Baca juga: Puluhan Huntara Penyintas Banjir di Aceh Utara Porak-Poranda Diterpa Angin Kencang

Namun sawah terdampak berat belum dimulai, sedangkan lokasi antara sawah terdampak sedangdan berat bersisian, sehingga terkesan pilih kasih.

Padahal program rehabilitasi sawah terdampak berat belum dilakukan dan menunggu kebijakan lanjutan. 

Disebutkan, pihaknya sudah melakukan musyawarah dengan sejumlah petani menyangkut teknis rehabilitasi sawah terdampak berat tentang solusi ke mana tanah endapan lumpur saat di-buldoser dibuang nantinya. 

“Kalau lokasi sawah terdampak berat dekat sungai mungkin tanah lumpur bawaan banjir bisa didorong ke pinggir sungai, namun sawah yang jauh dengan sungai memerlukan musyawarah ke mana diangkut nantinya,” ujarnya. 

Kadistanbun berharap partisipasi petani dalam rangka normalisasi sawah terdampak banjir dan juga ikut ambil bagian membangun pematang sawah di areal sawah yang sudah dinormalisasi. 

Kerusakan tersebut terbagi dalam tiga kategori, yaitu rusak berat seluas 1.323,07 hektar, rusak sedang 672,12 hektar, dan rusak ringan 2.736,60 hektare. (*)

 

 

 
 
 

 
 
 

 

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.