Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Puluhan hunian sementara (Huntara) yang ditempati penyintas banjir di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, porak-poranda diterpa angin kencang yang disertai hujan deras, Selasa (2/6/2026) sore.
Selain Huntara dan sat musalla juga mengalami kerusakan.
Ekses kejadian tersebut memaksa sejumlah warga kembali kehilangan tempat tinggal yang baru beberapa bulan mereka tempati pasca banjir besar akhir tahun lalu.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, musibah tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi para penghuni Huntara.
Warga yang sebelumnya menjadi korban banjir besar pada November 2025 lalu kini harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan tempat tinggal untuk kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.
“Angin kencang yang melanda wilayah tersebut terjadi bersamaan dengan hujan deras yang berlangsung cukup lama,” ujar Camat Langkahan, T. Reza Ichwan, kepada Serambinews.com, Rabu (3/6/2026).
Akibatnya, puluhan bangunan Huntara yang dibangun untuk menampung korban banjir mengalami kerusakan dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.
"Dari 58 unit bangunan Huntara yang terdampak, kerusakan tersebar di empat lokasi. Kerusakan paling parah terjadi di Gampong Rumoh Rayeuk,” ungkap Camat Langkahan.
Baca juga: Belum Pulih dari Banjir, 58 Huntara di Aceh Utara Rusak Diterpa Angin Kencang
Dari total 36 unit Huntara yang dibangun oleh BNPB di sana, sebanyak 11 unit mengalami rusak berat, 20 unit rusak sedang, dan lima unit rusak ringan.
Ia menjelaskan, di Desa Langkahan terdapat lima unit Huntara bantuan BNPB yang mengalami rusak ringan.
Sementara di Desa Buket Linteung, tepatnya Dusun Leubok Meuku, sebanyak tujuh unit Huntara dan satu unit mushala bantuan Kementerian Pekerjaan Umum mengalami kerusakan berat.
Sedangkan di Desa Geudumbak, dari 10 unit Huntara yang dibangun melalui program Insitu, empat unit mengalami rusak berat, empat unit rusak sedang, dan dua unit rusak ringan.
"Sudah kami sudah melaporkannya kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara melalui BPBD. Untuk warga yang Huntaranya rusak berat, sementara akan disiapkan tenda darurat di lokasi agar mereka tetap memiliki tempat berteduh," ujarnya.
Sementara itu, Geuchik Gampong Rumoh Rayeuk, Akthaillah, menyebutkan sebagian warga yang Huntaranya mengalami kerusakan berat dan sedang saat ini terpaksa mengungsi ke Huntara milik keluarga atau kerabat terdekat.
Menurutnya, selain kerusakan bangunan, terdapat tiga anak yang mengalami luka ringan akibat tertimpa material bangunan saat angin kencang menerjang kawasan Huntara.
"Kami sangat berharap pemerintah pusat segera mengambil langkah cepat untuk memperbaiki tempat tinggal kami yang rusak akibat angin kencang. Selain itu, kami juga meminta kejelasan mengenai bantuan Jaminan Hidup (Jadup) yang hingga kini belum pernah kami terima sejak banjir tahun lalu," harap Akthaillah.
Warga berharap perbaikan Huntara dapat segera dilakukan mengingat sebagian besar penghuni merupakan keluarga korban banjir yang hingga kini belum memiliki rumah permanen.
Kondisi tersebut membuat mereka kembali berada dalam situasi rentan, terutama anak-anak, perempuan, dan lansia yang masih berupaya memulihkan diri dari dampak bencana sebelumnya.(*)