IHSG Anjlok 4,11 Persen, Pengamat Sebut Investor Sedang Kehilangan Kepercayaan
Siti Fatimah June 03, 2026 10:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Penurunan tajam terjadi di pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok 254 poin atau 4,11 persen ke level 5.941 pada perdagangan Rabu (3/6/2026), sekaligus menjadi yang terendah dalam lima tahun terakhir.

Pengamat ekonomi dari Universitas Islam Nusantara (Uninus), Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, menilai koreksi tajam IHSG tidak dipicu oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi tekanan global dan domestik yang terjadi secara bersamaan.

Menurut Rizaldy, meningkatnya ketidakpastian ekonomi global membuat investor cenderung menghindari aset berisiko atau berada dalam kondisi risk-off.

Akibatnya, dana asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti dolar AS, obligasi pemerintah negara maju, serta emas.

"Penurunan IHSG kali ini menurut saya tidak bisa dilihat sebagai akibat satu faktor tunggal, melainkan kombinasi tekanan global dan domestik yang terjadi secara bersamaan," ujarnya, kepada Tribunjabar.id, Rabu (3/6/2026). 

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah hingga mendekati Rp18 ribu per Dollar AS turut memperbesar tekanan di pasar saham. Investor asing tidak hanya mempertimbangkan potensi keuntungan dari kenaikan harga saham, tetapi juga risiko kurs. 

"Ketika rupiah melemah, keuntungan investasi dapat tergerus sehingga memicu aksi jual yang lebih besar," katanya. 

Di sisi lain, faktor teknikal juga ikut menekan pasar.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar mengalami tekanan akibat perubahan komposisi indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell. 

"Ketika bobot suatu saham dikurangi atau dikeluarkan dari indeks global, dana institusi internasional umumnya melakukan penyesuaian portofolio yang berujung pada peningkatan tekanan jual di pasar domestik." 

Meski demikian, Rizaldy menilai kondisi saat ini berbeda dengan situasi pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020.

Saat itu, kata dia, pasar menghadapi ketidakpastian akibat terhentinya aktivitas ekonomi secara luas. Sementara saat ini, aktivitas bisnis masih berjalan dan pertumbuhan ekonomi tetap berlangsung.

"Karena itu, saya melihat situasinya lebih tepat disebut sebagai krisis kepercayaan investor daripada krisis ekonomi riil," katanya.

Dikatakannya, terdapat kemungkinan IHSG kembali menguji level yang pernah terjadi saat pandemi apabila tekanan global semakin memburuk dan arus modal asing keluar dalam jumlah besar. 

"Potensinya ada jika tekanan global terus memburuk dan arus modal asing keluar semakin besar. Namun untuk saat ini saya melihat pasar lebih sedang mencari titik keseimbangan baru," ucapnya.

Menurutnya, investor perlu mencermati bukan hanya pergerakan IHSG, tetapi juga kombinasi pelemahan rupiah, kenaikan biaya modal, serta menurunnya minat investasi yang dapat memengaruhi iklim usaha ke depan.

"Perlu diwaspadai bukan hanya level IHSG, tetapi juga kombinasi pelemahan rupiah, kenaikan biaya modal, dan menurunnya minat investasi," katanya. 

Di tengah tingginya volatilitas pasar, Rizaldy menyarankan investor menerapkan prinsip diversifikasi. 

"Instrumen yang relatif lebih defensif antara lain emas sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian global, obligasi pemerintah bagi investor yang mengutamakan stabilitas, deposito atau instrumen pasar uang untuk menjaga likuiditas, serta saham sektor defensif yang memiliki fundamental kuat dan dividen stabil," jelasnya. 

Ia juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat pasar bergejolak bukan hanya kondisi portofolio, melainkan psikologi investor. 

Kesalahan yang kerap terjadi adalah membeli saat pasar sedang naik karena takut ketinggalan momentum (fear of missing out/FOMO) dan panik menjual ketika harga turun.

"Dalam investasi, kerugian terbesar sering kali bukan berasal dari pasar, melainkan dari keputusan emosional investor," ujarnya.

Karena itu, investor disarankan tetap berfokus pada kualitas aset, disiplin melakukan investasi berkala, menjaga diversifikasi, serta menghindari keputusan yang didasarkan pada kepanikan sesaat.

Rizaldy menambahkan, anjloknya IHSG saat ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan, namun belum menjadi indikasi runtuhnya fundamental ekonomi nasional. 

"Hal yang dibutuhkan investor saat ini bukan keberanian mengambil risiko berlebihan, tetapi kesabaran, disiplin, dan kemampuan membedakan antara kepanikan pasar dengan kondisi fundamental ekonomi yang sebenarnya," jelasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.