Jika Inggris dianggap sebagai salah satu negara sepak bola besar yang sering gagal memenuhi ekspektasi, maka Belanda tak kalah dekat dalam daftar tersebut.
Ada kesejajaran antara perjalanan keduanya. Masing-masing hanya memiliki satu trofi utama, meskipun memiliki sejarah panjang dengan talenta luar biasa. Untuk Charlton, Moore, dan Piala Dunia 1966, setarakan dengan van Basten, Gullit, dan Euro 1988.
Keduanya juga mengalami banyak kekecewaan di partai final. Jika pendukung Inggris merasa mereka telah cukup menderita dalam dua Kejuaraan Eropa terakhir, bayangkan para penggemar Oranje yang harus menelan kekalahan di tiga final Piala Dunia — tahun 1974, 1978, dan 2010.
Ada pula beberapa kegagalan tipis di babak semifinal bagi kedua negara, belum lagi rasa malu ketika gagal lolos ke turnamen besar. Dalam dua dekade terakhir, Inggris gagal melaju ke Euro 2008, sedangkan Belanda secara mengejutkan absen di Euro 2016 dan Piala Dunia 2018.
Namun menjelang Piala Dunia yang akan datang, perbandingan itu berhenti. Inggris kini masuk dalam daftar pendek negara calon juara, sementara Belanda hanya dianggap sebagai tim dengan peluang kecil.
Saat Ronald Koeman mengumumkan skuad pada 27 Mei, alasan di balik pandangan skeptis itu menjadi jelas. Dua belas tahun setelah debutnya di Piala Dunia, Belanda masih mengandalkan Memphis Depay yang kini kerap cedera di lini depan. Dan ya, Wout Weghorst — yang hanya mencetak dua gol liga pada musim 2026 untuk Ajax yang terpuruk — tetap dipanggil. Kehilangan Xavi Simons, salah satu pemain menyerang paling kreatif mereka, juga menjadi pukulan telak. Undian grup pun tak bersahabat, mempertemukan mereka dengan Jepang, Swedia, dan Tunisia.
Namun, meminjam istilah dari iklan lama, mungkinkah masa depan Belanda di Amerika Utara nanti bukan hanya cerah, tapi juga benar-benar oranye?
Masih ada alasan bagi penggemar Belanda untuk berharap bahwa inilah saat mereka akhirnya menuntaskan dahaga gelar Piala Dunia:
Bagi para puris sepak bola mungkin ini kurang menarik, tapi faktanya, pertahanan yang solid sering kali menjadi kunci juara. Dalam turnamen besar, pertahanan yang kokoh sama pentingnya dengan serangan. Tak ada gunanya memiliki furnitur mewah jika atap rumah bocor.
Jika menelusuri skuad tim-tim unggulan lain, sulit untuk mengatakan ada yang punya pertahanan lebih baik dari Belanda. Bahkan bisa dibilang, Belanda memiliki lini belakang terbaik di turnamen ini.
Empat bek utama yang kemungkinan akan tampil adalah Denzel Dumfries, Jurriën Timber, Virgil van Dijk, dan Micky van de Ven. Memang tiga di antara mereka tidak bermain di posisi klub aslinya — Timber biasa bermain di bek kanan, van de Ven di bek tengah, dan Dumfries lebih menyerang sebagai wing-back. Namun semuanya tampil gemilang di bawah Koeman. Mereka punya fisik kuat, kemampuan duel udara, dan umpan yang akurat. Kecepatan pemain-pemain asal London Utara di sisi van Dijk menutupi kekhawatiran soal usianya yang hampir 35 tahun.
Kualitas pertahanan Belanda begitu bagus hingga meski Matthijs de Ligt cedera, Koeman tetap berani mencoret nama-nama seperti Jeremie Frimpong, Stefan de Vrij, Lutsharel Geertruida, dan Sven Botman. Di atas kertas, hanya tujuh bek yang dipilih, namun dengan Nathan Aké, Jan Paul van Hecke, dan Jorrel Hato sebagai pelapis, kekuatan lini belakang mereka masih sangat solid.
Salah satu alasan Koeman membawa satu bek lebih sedikit adalah karena ia yakin Mats Wieffer, yang biasanya bermain sebagai gelandang tengah, juga bisa mengisi posisi bek kanan. Hal ini mencerminkan salah satu kekuatan utama Belanda — hampir semua pemain mampu bermain di lebih dari satu posisi, yang sangat penting dalam turnamen.
Aké dan Hato bisa bermain sebagai bek kiri atau bek tengah. Jika Koeman ingin menambah lapisan pertahanan, Dumfries punya kemampuan menyerang yang cukup untuk tampil sebagai winger kanan, sementara Timber bisa ditarik ke posisi bek kanan. Di lini tengah, Koeman memiliki beberapa pemain yang bisa berperan sebagai gelandang bertahan atau lebih maju, seperti Frenkie de Jong, Teun Koopmeiners, Quinten Timber, dan Ryan Gravenberch. Gravenberch, yang kini tampil untuk Liverpool, dulu dikenal di Ajax sebagai gelandang box-to-box yang sering berkontribusi dalam serangan.
Meski opsi penyerang tengah tidak terlalu meyakinkan — walau Bryan Brobbey tampil bagus musim ini — Belanda punya banyak penyerang sayap yang fleksibel. Cody Gakpo dan Donyell Malen bisa bermain di kedua sisi maupun di tengah. Banyak pihak di Belanda menyerukan agar Malen menjadi striker utama setelah mencetak 14 gol dalam 18 laga Serie A bersama Roma. Gakpo, meski sering dikritik, tetap tampil impresif untuk tim nasional. Sementara Justin Kluivert dan Guus Til mungkin tidak terlalu mencolok, tapi mereka pemain serbaguna yang bisa berperan di lini depan atau gelandang serang.
Jika Koeman harus menyesuaikan taktik karena cedera, ia punya skuad yang adaptif. Fleksibilitas ini juga berlaku untuk formasi. Pada Piala Dunia sebelumnya, Louis van Gaal dikritik karena terlalu kaku dengan formasi tiga bek. Saat kembali melatih, Koeman menegaskan akan kembali ke formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1, namun timnya tetap mampu beralih ke sistem lama bila dibutuhkan. Formasi tiga bek ini juga ia gunakan di sebagian besar kualifikasi Euro 2024. Tidak banyak tim yang bisa berganti formasi seefisien Belanda.
Kemampuan beradaptasi bukan jaminan juara, tapi sangat berguna untuk melangkah jauh di turnamen.
Jika Liga Premier dianggap sebagai liga terbaik di dunia, dan jumlah pemain Belanda di sana mencapai rekor 36 pemain pada musim 2025/26, mungkin peluang tim nasional ini memang pantas dinilai lebih tinggi.
Lebih dari setengah (15) dari 26 pemain Koeman bermain di Premier League musim lalu, termasuk Malen sebelum pindah ke Italia pada Januari. Dalam 12 bulan terakhir, dari total 41 pemain yang dipanggil ke tim nasional, 22 di antaranya bermain di Premier League — termasuk Mark Flekken yang meninggalkan Brentford musim panas lalu. Bermain di liga sekompetitif itu memang tidak menjamin sukses internasional, tetapi tetap menjadi konteks penting yang sering diabaikan.
Dari sisi pengalaman, skuad Belanda tetap sarat pemain berpengalaman. Setengah dari skuad saat ini adalah bagian dari tim yang hampir mencapai final Euro 2024 — hanya terpaut satu pemain dari Inggris. Sebanyak 11 pemain juga tampil di Piala Dunia 2022. Konsistensi dan pengalaman di panggung besar ini sangat berharga.
Depay, meski menandakan kurangnya kedalaman di lini depan, tetap menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa bagi Oranje dengan 108 caps. Van Dijk memiliki 90 caps, Dumfries 71, dan De Jong 64. Total 10 pemain punya lebih dari 30 caps — dua lebih banyak dibanding Inggris.
Momentum juga penting. Dalam kualifikasi, Belanda menang enam kali dan imbang dua kali dari delapan laga, mencetak 27 gol dan hanya kebobolan empat. Sejak kekalahan di semifinal Euro 2024, mereka hanya kalah sekali dalam 18 pertandingan (termasuk perpanjangan waktu).
Menemukan keseimbangan di lini tengah sering jadi tantangan bagi banyak tim nasional, tapi Koeman tampaknya tak punya masalah itu. Ryan Gravenberch dan Frenkie de Jong mewakili semua kualitas klasik gelandang Belanda — kemampuan menguasai bola, kelincahan, kecerdasan membaca permainan, serta umpan yang presisi. Keduanya agresif dalam duel dan fleksibel dalam peran, bisa bertahan maupun maju membantu serangan. Keduanya tidak tampil di Euro 2024 — De Jong cedera, Gravenberch hanya jadi cadangan. Kini, duet mereka diyakini menjadi salah satu kombinasi gelandang terbaik di Piala Dunia.
Di depan mereka, meski Tijjani Reijnders kurang mendapat menit bermain belakangan ini, gelandang Manchester City itu tetap kemungkinan besar akan berperan sebagai 'nomor 10'. Dengan 10 gol dan assist dalam 30 laga internasional, ia sudah membuktikan diri di level ini. Kombinasi lini tengah Belanda kali ini seimbang — bertenaga dan kreatif sekaligus.
Pada Piala Dunia terakhir di Amerika Utara tahun 1994, Belanda mencapai perempat final. Banyak yang memperkirakan itu akan menjadi batas mereka lagi tahun ini, seperti pada 2022. Rasionalnya, mungkin benar.
Namun dengan pertahanan solid, lini tengah berkualitas, serta skuad yang berpengalaman dan fleksibel, Belanda tidak boleh diremehkan. Jika berhasil melangkah ke fase gugur, atribut-atribut ini bisa menjadi pembeda. Mungkin tahun ini akan ada sosok oranye yang benar-benar mencuri perhatian pada 19 Juli nanti.