TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Struktur ketenagakerjaan di Bali tengah menghadapi tantangan serius akibat ketidaksesuaian (mismatch) antara kompetensi lulusan sekolah menengah dengan kebutuhan riil industri.
Di tengah bayang-bayang angka pengangguran terdidik dari lulusan SMA dan SMK yang kerap mendominasi statistik pencaker pencari kerja daerah, desakan agar lembaga pendidikan beralih dari sekadar teori menuju pembelajaran berbasis pengalaman praktis kian menguat.
Isu krusial ini mendasari evaluasi mendalam pada tahun pertama fase kedua Zurich Entrepreneurship Program (ZEP) yang berjalan sejak Juli 2025.
Program intervensi edukasi yang digagas oleh Zurich Indonesia, Z Zurich Foundation, dan Prestasi Junior Indonesia (PJI) tersebut mencatat lonjakan keterlibatan hingga menjangkau lebih dari 10.000 siswa SMA dan SMK di tujuh kota di Indonesia termasuk di Denpasar, Bali.
Baca juga: Bupati Badung Adi Arnawa Pimpin Sosialisasi Program Beasiswa Nak Badung Tahun 2026
Lonjakan ini menembus 164 persen dari target awal.
Melalui skema ini, para siswa dipaksa keluar dari zona nyaman ruang kelas untuk melahirkan 35 bisnis pelajar baru yang secara kolektif meraup omzet hingga Rp339 juta.
Bagi Bali, urgensi transformasi kurikulum ini sangat terasa.
Ketergantungan ekonomi pada sektor tersier menuntut generasi muda tidak hanya cakap sebagai pencari kerja yang pasif, melainkan tangguh sebagai pencipta peluang usaha mandiri yang melek risiko finansial sejak dini.
Country Manager Zurich Indonesia dan Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara, menegaskan bahwa model pendidikan konvensional sudah tidak bisa lagi dipertahankan jika ingin mencetak generasi muda yang berdaya saing.
“Kami percaya pada pendidikan yang membekali generasi muda dengan keterampilan praktis untuk kehidupan nyata, kami ingin membantu siswa membangun kepercayaan diri, kemampuan membaca peluang, dan pengambilan keputusan finansial yang lebih baik," kata Edhi di Denpasar, pada Kamis 4 Juni 2026.
"Capaian tahun pertama ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman dapat memberikan dampak nyata dan mempersiapkan generasi muda dalam membangun masa depan,” imbuhnya.
Dalam implementasinya, para siswa tidak sekadar disuapi materi kewirausahaan di atas kertas. Mereka dituntut langsung mengenali peluang usaha lokal, menyusun rencana bisnis yang rigid, hingga mengelola usaha mikro secara mandiri di lingkungan sekolah.
Aspek krusial yang turut ditekankan adalah penguatan literasi keuangan terpadu meliputi manajemen penganggaran, kebiasaan menabung, investasi, hingga pemahaman mitigasi risiko keuangan yang dikombinasikan dengan paparan dunia profesional melalui asistensi dari para sukarelawan Zurich.
Skema kolaboratif ini dinilai menjadi salah satu formula untuk mengurai benang kusut keterbatasan serapan tenaga kerja lokal.
Sementara itu, Head of Enabling Social Equity Z Zurich Foundation, Adriana Poglia, menyatakan bahwa perluasan dampak positif terhadap potret pendidikan ini mustahil berjalan tanpa adanya sinergi lintas sektor di daerah.
“Tahun pertama fase ini menunjukkan bahwa dampak positif dapat semakin diperluas melalui kolaborasi," kata dia.
"Ketika sekolah, pendidik, sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat sipil bekerja bersama, semakin banyak generasi muda mendapatkan akses terhadap pembelajaran yang relevan dan peluang untuk membangun masa depan mereka,” imbuh Adriana.
Fenomena di lapangan juga menangkap adanya pergeseran animo dari pihak sekolah menengah di Bali dan kota-kota lainnya, yang kini jauh lebih terbuka terhadap metode experiential learning.
Keterlibatan aktif para tenaga pendidik menjadi kunci utama mengapa program ini mampu melampaui target partisipasi secara signifikan.
Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, Utami Anita Herawati, menambahkan bahwa tingginya ketertarikan sekolah menjadi sinyalemen kuat bahwa ruang kelas saat ini membutuhkan metode yang jauh lebih aplikatif.
Implementasi tersebut memberikan sinyal kuat bahwa pembelajaran berbasis pengalaman semakin diminati sekolah.
Pihaknya melihat guru secara aktif memperluas implementasi program karena siswa menjadi lebih terlibat ketika belajar melalui praktik langsung mulai dari membangun usaha, mengelola keuangan hingga memahami dunia kerja.
Ketika pendekatan seperti ini diterapkan secara konsisten oleh guru, dampaknya tidak hanya terlihat pada tingginya partisipasi.
"Tetapi juga pada lahirnya pengalaman belajar yang lebih relevan dan membantu siswa membangun keterampilan untuk masa depan,” beber Utami Anita Herawati.
Melihat signifikansi dampak terhadap struktur kesiapan kerja siswa, program intervensi edukasi terintegrasi ini dipastikan akan terus diperluas eksistensinya hingga tahun 2028.
Fokus keberlanjutan ke depan tidak hanya bertumpu pada kuantitas siswa yang tersasar, melainkan pada penguatan kapasitas guru secara struktural serta optimalisasi keterlibatan praktisi profesional.
Langkah ini diharapkan mampu menjadi bagian dari solusi jangka panjang dalam menekan laju pertumbuhan pengangguran terdidik, sekaligus mencetak stimulan wirausaha muda baru yang berbasis pada penguasaan literasi keuangan yang sehat di daerah. (*)