Dolar AS Kian Perkasa, Sektor Pariwisata DIY Hadapi Dampak Ganda
Muhammad Fatoni June 04, 2026 02:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Lonjakan nilai tukar Dolar AS terhadap Rupiah menempatkan sektor pariwisata di DI Yogyakarta dalam situasi yang cenderung dilematis. 

Fenomena ekonomi ini dinilai memberikan dampak ganda, yakni membawa angin segar bagi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), namun di sisi lain menekan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus).

​Ketua DPD Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby Ardiyanto Setyo Aji, menuturkan melemahnya Rupiah secara otomatis meningkatkan daya beli wisman saat menghabiskan waktu di Yogyakarta. 

Pasalnya, mata uang mereka menjadi jauh lebih berharga, yang diharapkan mampu mendongkrak tingkat belanja atau spending money selama berlibur.

​"Untuk wisman, ini poin positif. Nilai mata uang mereka jadi lebih berharga di sini, sehingga dorongan kunjungan wisman memang lumayan bagus. Harapannya, spending mereka juga akan lebih tinggi," katanya, Kamis (4/6/2026).

Namun, Bobby menyebut, pandangan mahalnya kurs dolar akan menahan wisnus untuk tidak berlibur ke luar negeri dan mengalihkan tujuannya ke destinasi domestik, cenderung kurang tepat.

Baca juga: Dolar AS Menguat, Lama Tinggal Wisatawan Mancanegara di Kota Yogyakarta Meningkat 

Sebab, kondisi ini dibarengi dengan bayang-bayang inflasi dan kenaikan harga BBM di dalam negeri,​yang membuat masyarakat segmen menengah ke bawah, mulai mengencangkan ikat pinggang. 

​"Pada saat kondisi keuangan seperti sekarang, pariwisata tidak menjadi prioritas nomor satu. Mereka lebih mengutamakan kebutuhan pokok atau primer. Jika inflasi naik tinggi, mereka pasti akan safety dulu. Dampak dari efisiensi domestik ini akan kita cermati bersama pada perkembangan triwulan ke depan," jelasnya.

​​Selain itu, dampak menguatnya dolar AS rupanya juga merembet ke dapur operasional para pelaku industri pariwisata di Yogyakarta, seiring kenaikan harga sejumlah komoditas yang ikut mengerek biaya operasional.

​Kendati beban produksi membengkak, para pengusaha wisata memilih bertahan dan memutar otak ketimbang menaikkan banderol produk atau jasa mereka, demi menjaga keterjangkauan di tengah daya beli.

​"Kenaikan biaya operasional itu pasti ada karena beberapa bahan komoditi kita ikut naik. Tapi tidak secara otomatis kita bisa menaikkan harga jual, karena daya beli masyarakat kita juga sedang turun. Teman-teman industri saat ini relatif memilih bertahan," katanya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.