TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman tengah bersiap mengambil langkah penting untuk menangani fenomena teror api yang menimbulkan kebakaran berulang di rumah Agusyani di Padukuhan Mriyan X, Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan.
Memasuki hari ke-13 sejak kali pertama api muncul pada Jumat (23/5/2026) dinihari, intensitas kemunculan titik api ini belum ada tanda berhenti bahkan kian meluas.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro mengatakan penyebab pasti dari fenomena aneh kebakaran berulang ini masih menjadi teka-teki.
Sedangkan dampak psikologis dan material yang ditimbulkan sudah sangat luar biasa.
Ia menyebut, berdasarkan data terakhir yang dihimpun BPBD Sleman, total akumulasi kemunculan api kini telah menembus angka 91 kali.
Akumulasi jumlah ini dipicu oleh rentetan kejadian susulan yang masih cukup masif. Kejadian terbaru, terjadi 3 kali kobaran api pada malam hari dan disusul 5 kali pada pagi hari berikutnya.
"Munculnya api ini sangat acak. Ada yang terjadi di spot tertentu, ada yang acak, bahkan sekarang areanya sudah mulai meluas hingga ke sisi sebelah utara dari rumah (Agus Yani)," ujar Bambang Kuntoro, Kamis (4/6/2036).
Akibat teror api misterius yang tak kunjung reda ini, pemilik rumah beserta keluarganya terpaksa harus mengosongkan rumah dari barang-barang yang berpotensi mudah terbakar.
Keluarga Agusyani juga harus mengungsi dan tidur di ruko yang berada di sebelah utara rumah, selama hampir dua pekan.
Mereka harus tetap berjaga dan siaga 24 jam sehingga menyebabkan aktivitas mata pencaharian mereka terganggu.
Baca juga: Lagi, Titik Api Muncul di Lahan Tetangga Rumah Seyegan
Skenario Status Tanggap Darurat Khusus
Mengingat situasi yang dinilai kian meluas dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda, BPBD Sleman kini membuka opsi untuk menaikkan status kebencanaan dari Siaga menjadi Tanggap Darurat Khusus.
Langkah ini diambil sebagai respons yang lebih intens mengingat penanganan fenomena langka ini membutuhkan instrumen kebijakan dan anggaran yang berbeda dari bencana reguler.
"Penjelasan resmi dari para peneliti yang kami undang siang ini (di Kantor Kapanewon Seyegan) akan menjadi dasar bagi kami untuk segera melaporkan dan merekomendasikan kepada Bupati Sleman untuk menerbitkan Surat Keputusan Tanggap Darurat Khusus," kata Bambang.
Status tanggap darurat khusus ini disiapkan karena karakteristik bencana di rumah Agusyani di Dusun Kasuran Seyegan ini tidak lazim.
Fenomena ini membutuhkan perhatian penuh. Karena api yang muncul bersifat acak, tidak bisa diprediksi kapan dan di mana api muncul.
Api bisa tiba-tiba muncul dan membakar apa saja. Hal ini membutuhkan kesiapsiagaan.
Jika api yang muncul tidak segera dipadamkan maka berpotensi menghanguskan seluruh perabotan di dalam maupun luar rumah.
Menurut Bambang, apabila status tanggap darurat khusus tersebut diberlakukan oleh Bupati, BPBD Sleman segera menyusun skenario operasi dan rencana kontingensi secara menyeluruh.
Termasuk rencana pengungsian warga dan relokasi atau pengosongan area terdampak bisa dilakukan jika rekomendasi akhir dari tim ahli menunjukkan adanya ancaman yang serius dan membahayakan.
Posko darurat di lokasi kejadian juga akan diperketat dengan peningkatan personel untuk mempercepat respon pemadaman api.
Soal anggaran, menurut Bambang, pembiayaan seluruh operasi darurat, logistik, dan operasional tim lapangan akan didukung dari pos Belanja Tak Terduga (BTT) Kabupaten Sleman.
Akan tetapi terkait penggunaan anggaran tersebut, Bambang memastikan akan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
"Kita akan gunakan dana BTT di luar anggaran reguler. Namun, penggunaannya akan sangat selektif dan hati-hati, hanya untuk pos-pos yang sifatnya mendesak dan seperlunya saja," jelas Bambang.
Hingga saat ini, penanganan di lapangan telah menerapkan konsep kolaborasi pentahelix dengan melibatkan instansi gabungan. Mulai dari BPBD, Basarnas, BPPTKG, BRIN, TNI, Polri, Tim Gegana Brimob Polda DIY, dan BPPTKG hingga akademisi dari pakar UGM dan UPN Yogyakarta.
Bahkan, Dinas DPUPKP Kabupaten Sleman turut diterjunkan untuk mengeruk sedimentasi di Sungai Nepen untuk memastikan segala kemungkinan di sekitar area rumah.
Pemkab Sleman melalui BPBD Sleman mengagendakan pertemuan bersama para ahli pada Kamis (4/6/2026) siang ini di Kantor Kapanewon Seyegan.
Pemkab Sleman akan mendengarkan paparan awal dari hasil penelitian para ahli, mengenai penyebab kebakaran berulang ini.
Apakah fenomena aneh ini dipicu oleh rembesan gas metana, gas hidrogen, atau gas rawa.
Penjelasan para ahli menjadi dasar bagi pemerintah untuk mengambil keputusan yang dinilai paling tepat.
Pantauan di rumah Agus Yani, hingga Kamis (4/6/2026) siang, kebakaran masih terjadi.
Kejadian terbaru, letupan api tiba-tiba muncul pada pukul 13.10 WIB membakar gulungan kabel yang tersimpan di belakang rumah. Anak Agus Yani, Mutfiana berteriak.
"Pak, api," katanya.
Agus Yani yang datang ke belakang rumah, langsung gerak cepat menyiramkan air untuk memadamkan api di gulungan kabel tersebut. Menurut Fia, kebakaran saat ini masih kerap terjadi.(*)