TRIBUNMANADO.CO.ID,SULUT - Museum daerah Sulut baru saja diresmikan oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon.
Bermacam benda bersejarah terpajang di dalam.
Ada yang sudah diketahui pengunjung, ada pula yang belum banyak diketahui.
Baca juga: Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara Potensi Besar Jadi Terbaik di Indonesia, Fadli Zon Optimistis
Benda-benda bersejarah tersebut tentu berkaitan erat dengan sejarah Sulawesi Utara.
Sejak diresmikan, tempat tersebut banjir pengunjung.
Di antara para pengunjung tersebut ada turis asing dari Korea Selatan, Swiss, Prancis dan beberapa negara lainnya.
Dan mereka puas dengan tampilan baru museum tersebut.
Itu nampak dari aneka komentar di buku tamu Museum.
Tribunmanado.com sambangi museum tersebut Kamis (4/6/2026) siang.
Suasana lagi ramai.
Tribun tiba hampir bersamaan dengan dua orang mahasiswi.
Di luar, masih ada beberapa pengunjung yang hendak menghampiri.
"Di dalam masih banyak pengunjung," kata seorang penjaga Museum.
Tribun manado masuk dengan dituntun seorang guide.
Suasana memang beda jauh dari sebelumnya.
Beberapa tahun lalu, Tribun sempat mendatangi lokasi itu dan mendapati ruangan yang pengap, gelap
serta panas.
Kini museum tampak modern dengan permainan lampu serta fasilitas digital.
Begitu memasuki pintunya, suasana sejuk langsung terasa di kulit yang sebelumnya hampir melepuh karena panas di luar sana.
Ikan Coelacanth langsung menyambut setiap pengunjung.
Tubuh ikan purba yang sudah diformalin tersebut berada dalam sebuah benda kaca mirip akuarium.
Di bawah ikan itu terdapat kertas dengan barcode.
"Nanti akan terpampang segala informasi tersebut melalui barcode," katanya.
Dari ikan ke Alkitab.
Sebuah ruangan memajang Alkitab yang sudah sangat tua, bersama dengan mimbar serta alat perjamuan.
Alkitab tersebut sudah lapuk dan ada robekan pada bagian luarnya.
Menurut informasi, itu adalah Alkitab yang dipakai misionaris saat membawa Injil di tanah Minahasa.
Ada pula baru tulis yang digunakan para misionaris Belanda saat mengajarkan Injil pada orang Minahasa zaman dulu.
Benda menarik lainnya adalah keramik Cina.
Salah satunya sebuah mangkok besar peninggalan Dinasti Song. Wow.
Ada pula barang peninggalan Dinasti Ming.
Ada pula deretan senjata kolonial, dari meriam hingga lantaka.
Bangunan itu bertingkat empat. Di lantai empat terdapat peninggalan para pejuang.
Salah satunya meja bundar yang diapit lima kursi.
Ini bukan benda biasa.
Ini adalah meja tempat para pejuang 14 Februari menyusun rencana untuk merebut Tangsi Belanda di Teling Manado.
Itu adalah Embrio dari peristiwa Merah Putih yang bersejarah itu.
Sayang meja itu dan sejumlah barang lainnya dilarang untuk di foto.
Menyusuri museum itu merupakan perjalanan panjang menyusuri lorong waktu.
Informasi yang dihimpun Tribun manado, terdapat 1800 barang di dalam Museum.
Barang barang di sana ditempatkan dalam bangunan empat tingkat museum tersebut.
Jika anda tertarik menyusurinya, butuh waktu sekira 45 menit.
Saat tribun manado keluar, masih banyak yang antre masuk.
Di halaman para pengunjung yang baru keluar melakukan selfie dengan latar taman
yang indah depan museum. (Arthur Rompis)