Festival Golo Koe 2026:  Warga Angkut  Sampah di Pantai Sudamala Labuan Bajo
Nofri Fuka June 04, 2026 05:47 PM

Laporan Reporter TribunFlores.com, Tari Rahmaniar

TRIBUNFLORES.COM, LABUAN BAJO – Ribuan warga memadati pesisir Pantai Sudamala, Pantai Pede, Labuan Bajo, Kamis (4/6/2026) pagi. 

 Aksi bersih pantai  menjadi penanda dimulainya Festival Golo Koe Labuan Bajo Maria Asumta Nusantara 2026, yang tahun ini mengusung tema “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan” dengan tagline “Melangkah Bersama, Pulihkan Bumi.”

Berdasarkan pantauan TRIBUNFLORES.COM sejak pukul 06.30 WITA, peserta dari berbagai unsur masyarakat terlihat menyebar di sepanjang pesisir Pantai Sudamala yang berada di Jalan Pantai Pede Km 3, Desa Gorontalo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. 

Mereka membawa kantong-kantong sampah berukuran besar untuk mengumpulkan sampah plastik, botol minuman, gelas plastik, hingga pecahan styrofoam yang terbawa arus laut.

 

Baca juga: Tampil di Festival Golo Koe, Sanggar Nilo Watu Buan: Terima Kasih Untuk Uskup Labuan Bajo

 

 

Pemandangan yang mencuri perhatian terlihat saat para peserta berjalan berkelompok sambil menenteng kantong-kantong sampah yang semakin berat dan penuh. Dalam waktu singkat, tumpukan sampah menggunung di sejumlah titik pengumpulan.

Kantong-kantong sampah berwarna hitam, putih, dan merah yang bertumpuk di tepi pantai menjadi gambaran nyata masih seriusnya persoalan sampah pesisir di Labuan Bajo.

Namun di saat yang sama, gunungan sampah itu juga menjadi simbol kuat semangat gotong royong masyarakat dalam menjaga lingkungan dan masa depan destinasi wisata super prioritas tersebut.

Aksi bersih pantai ini dipimpin langsung oleh Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, dan dihadiri Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus, para imam, biarawan-biarawati, unsur Forkopimda, pemerintah daerah, pelaku pariwisata, komunitas lingkungan, pelajar, hingga umat Katolik dari berbagai wilayah.

Selain membersihkan pantai, kegiatan peluncuran festival juga diwarnai pelepasan sepasang burung merpati sebagai simbol perdamaian dan harapan, serta penanaman bibit kelapa sebagai bentuk kepedulian terhadap ekosistem pesisir dan upaya mitigasi perubahan iklim.

Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, mengatakan peluncuran Festival Golo Koe 2026 sengaja dipadukan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia sebagai bentuk komitmen bersama menjaga bumi.

Menurutnya, tema Hari Lingkungan Hidup tahun ini, “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, merupakan alarm yang mengingatkan semua pihak agar tidak hanya berbicara tentang krisis iklim, tetapi juga melakukan tindakan nyata.

“Yang dibutuhkan bukan sekadar retorika. Kecemasan terhadap krisis iklim harus dijawab dengan aksi nyata seperti menanam pohon dan membersihkan sampah. Kalau hanya berhenti pada wacana, ancaman yang kita khawatirkan justru akan datang lebih cepat,” ujar Edistasius, Kamis (4/06/2026). 

Ia menilai penyatuan dua momentum besar tersebut bukan sebuah kebetulan, melainkan refleksi dari kepedulian yang sama terhadap masa depan lingkungan.

“Festival Golo Koe tahun ini mengangkat tema yang sangat agung, yakni Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan. Dengan tagline Melangkah Bersama, Pulihkan Bumi, festival ini menjadi ajakan moral bagi kita semua untuk bergerak bersama menjaga rumah bersama,” ujarnya.

Edistasius juga menegaskan Festival Golo Koe harus memberi ruang yang lebih besar bagi pelaku UMKM, petani, dan nelayan lokal. Namun keberpihakan itu harus berjalan seiring dengan tanggung jawab menjaga lingkungan.

“Festival Golo Koe wajib menerapkan prinsip ramah lingkungan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengelola sampah dengan baik, dan mengedukasi pengunjung untuk menjaga kebersihan,” ungkapnya.

Sementara itu Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus menegaskan  dunia saat ini menghadapi dua ancaman besar, yakni krisis iklim dan kelangkaan ekologis.

“Yang kita hadapi saat ini bukan sekadar perubahan iklim, tetapi kekacauan iklim. Kita mengalaminya setiap hari melalui berbagai bencana yang sulit diprediksi seperti banjir, longsor dan berbagai bentuk bencana lainnya,” ujar Mgr. Maksimus Regus. 

Mgr. Maksimus juga mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara Keuskupan Labuan Bajo, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, dunia usaha, komunitas dan berbagai pihak dalam menyukseskan Festival Golo Koe.

Ia menyebut Festival Golo Koe yang kini memasuki penyelenggaraan tahun kelima telah menjadi kebanggaan bersama karena berhasil masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) dan menjadi salah satu festival unggulan nasional.

“Ini adalah pencapaian bersama. Karena itu Keuskupan menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat yang terus membangun kolaborasi sehingga Festival Golo Koe semakin dikenal di tingkat nasional,” ujarnya.
Festival Golo Koe sendiri telah berkembang menjadi salah satu perhelatan budaya dan religius terbesar di Indonesia Timur sejak pertama kali digelar pada 2022.

Rangkaian kegiatan akan berlanjut dengan Prosesi Maria Asumta Nusantara yang dimulai pada 10 Juli 2026 dari Paroki Lengkong Cepang, Lembor Selatan. Selanjutnya, puncak Festival Golo Koe 2026 akan berlangsung pada 10 hingga 15 Agustus 2026 di Labuan Bajo.

Melalui festival ini, Gereja bersama seluruh elemen masyarakat mengajak publik untuk tidak hanya merayakan iman dan budaya, tetapi juga terlibat langsung dalam gerakan kolektif menjaga bumi sebagai rumah bersama.(iar) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.