Mitos Kelopak Mata Turun, Ini Alasan Tidak Semua Kondisi Perlu Dioperasi
Willem Jonata June 04, 2026 06:20 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak orang menganggap gangguan pada kelopak mata hanya masalah penampilan. 

Mata terlihat sedikit turun, tidak simetris, atau sering berair dianggap hal biasa.

Padahal, pada kondisi tertentu, gangguan kelopak mata justru dapat mengganggu fungsi penglihatan dan berisiko menimbulkan masalah jangka panjang bila terlambat ditangani.

Dokter Spesialis Mata RS Pondok Indah – Puri Indah, dr. Tri Wahyu, Sp.M menjelaskan, penanganan gangguan kelopak mata tidak selalu harus operasi. 

Pendekatannya bergantung pada apakah gangguan tersebut memengaruhi fungsi atau hanya aspek estetika.

Tidak Semua Kelopak Mata Turun Harus Dioperasi

Menurut dr. Tri, beberapa orang memiliki kelopak mata yang sedikit berbeda antara kanan dan kiri, namun fungsi penglihatannya masih baik.

"Ada terlihat perbedaan antara kanan dan kiri atau tidak simetris, mereka tidak mau. Dok, nggak apa-apa, saya nggak usah dioperasi. Ya nggak masalah," ujar dr. Tri pada media briefing di Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026). 

Baca juga: Bukan Amblyopia, Ini Dampak Sebenarnya Screen Time Berlebihan bagi Mata Anak

Ia menjelaskan, pada kondisi ringan, terutama bila fungsi penglihatan masih normal dan kelopak mata tidak mengganggu area penglihatan, operasi bukan keharusan.

Namun situasinya berbeda jika kelainan mulai mengganggu fungsi mata.

Kondisi Mata yang Jadi Indikasi Mutlak Ditangani

Beberapa gangguan kelopak mata justru perlu penanganan lebih cepat karena dapat mengancam fungsi penglihatan.

Kondisi seperti ptosis atau kelopak mata turun berat, ektropion, entropion, hingga kelainan saluran air mata dapat menyebabkan gangguan serius.

"Ini adalah salah satu indikasi mutlak dilakukannya operasi supaya fungsi mata bisa berkembang secara optimal," katanya.

Dokter biasanya akan melihat apakah kelopak sudah menutupi pupil, mengganggu jalur penglihatan, menyebabkan mata terus berair, atau menggesek permukaan bola mata.

Kompres Hangat dan Dingin, Jangan Sampai Tertukar

Penanganan awal di rumah juga perlu tepat. Banyak orang mengompres semua keluhan mata dengan cara yang sama. Padahal penggunaannya berbeda.

Kompres hangat disarankan untuk:

  • Mata kering
  • Mata lelah akibat monitor
  • Bintitan
  • Infeksi kelopak mata tertentu
  • Keluhan akibat terlalu lama di ruang ber-AC

Sementara kompres dingin dipakai untuk:

  • Trauma atau benturan
  • Memar
  • Kelopak bengkak karena alergi
  • Bengkak pasca cedera

"Jadi beda. Kompres hangat, kompres dingin, penggunaannya pada kasus yang berbeda," jelasnya.

Botox Tidak Selalu untuk Cantik

Botox ternyata tidak hanya digunakan untuk mengurangi kerutan.

Dalam praktik dokter mata, botox juga digunakan untuk menangani kedutan kelopak mata yang menetap dan tidak membaik dengan terapi biasa.

Selain itu, tindakan lain seperti blefaroplasti, koreksi ptosis, rekonstruksi pasca tumor hingga operasi saluran air mata memiliki indikasi yang berbeda pada setiap pasien.

Menurut dr. Tri, aspek kosmetik memang penting, tetapi fungsi mata tetap menjadi prioritas utama.

"Karena kosmetik tanpa fungsi bisa menyebabkan penderitaan kepada pasien," tegasnya.

Karena itu, sebelum memutuskan tindakan apa pun, pasien perlu memahami manfaat, risiko, dan tujuan terapi agar hasil yang dicapai tidak hanya baik secara tampilan, tetapi juga aman bagi penglihatan.

 

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.