Rupiah Melemah, Harga Karet di Sumsel Makin Perkasa Nyaris Tembus Rp42 Ribu per Kilogram
tarso romli June 04, 2026 07:27 PM

 

Baca juga: Menjelang Iduladha 1447 H, Harga Karet Mingguan di Tingkat Petani OKI Tembus Rp18.000 per Kilogram


SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Harga komoditas karet di Sumatera Selatan kembali menunjukkan tren positif pada pertengahan pekan ini. Kombinasi antara penguatan harga di pasar internasional dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mendongkrak harga karet dengan Kadar Karet Kering (KKK) 100 persen hingga nyaris menyentuh angka Rp42.000 per kilogram.

Berdasarkan data perdagangan pada Kamis (4/6/2026), harga karet acuan SGX-Sicom tercatat berada di level 234,4 sen AS per kilogram.

Di saat yang sama, nilai tukar rupiah bertengger di posisi Rp17.841 per dolar AS.

Perpaduan faktor tersebut membuat harga karet KKK 100 persen hari ini bertengger di angka Rp41.819 per kilogram.

Angka ini mengalami kenaikan sebesar Rp139 per kilogram jika dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya yang berada di level Rp41.680 per kilogram.

Sekretaris Jenderal APKARINDO Sumatera Selatan, Rudi Arpian, mengatakan tren penguatan harga ini membuka peluang besar bagi komoditas karet untuk mencapai level tertinggi baru dalam waktu dekat.

Bagi daerah eksportir seperti Sumsel, melemahnya rupiah justru menjadi berkah karena nilai konversi ke dalam mata uang domestik menjadi lebih besar.

“Pasar karet masih menunjukkan sentimen positif. Selain didukung harga internasional yang stabil, pelemahan rupiah memberikan efek langsung terhadap peningkatan harga karet dalam negeri,” ujar Rudi saat dikonfirmasi, Kamis (4/6/2026).

Rudi menambahkan, penguatan yang terjadi secara bertahap sejak awal pekan menunjukkan bahwa pasar berada dalam jalur yang tepat.

 Jika momentum ini terjaga, karet berpotensi kembali menjadi komoditas perkebunan unggulan yang berkontribusi signifikan terhadap pemulihan ekonomi masyarakat Sumatera Selatan setelah sempat menghadapi fluktuasi tajam selama beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Harga Karet Mingguan di OKI Tembus Rp17.000 per Kilogram, Tertinggi Sepanjang Tahun 2026

Harga Naik, Produksi Justru Menyusut

Meskipun disambut dengan rasa syukur oleh para petani di lapangan, kenaikan harga acuan ini belum sepenuhnya memberikan keuntungan maksimal.

Pasalnya, harga yang diterima langsung oleh petani di tingkat pengepul lokal biasanya berkisar 40 hingga 50 persen dari harga KKK 100 persen yang berlaku di pabrik pengolahan.

Kondisi tersebut diperparah dengan penurunan volume produksi getah akibat faktor cuaca dan usia tanaman.

Masuknya sejumlah wilayah Sumsel ke musim kemarau membuat aliran getah pada pohon karet tidak seproduktif saat musim hujan.

"Harganya memang naik sedikit demi sedikit, tetapi sekarang getah karetnya yang berkurang. Ini karena sudah mulai masuk musim kemarau, ditambah lagi mayoritas pohon karet kami sudah tua jadi kurang produktif," keluh Umar, salah seorang petani karet di kawasan Gandus, Palembang.

Untuk menyiasati penurunan produksi ini, petani harus turun ke kebun untuk menyadap karet jauh lebih awal pada pagi hari.

 Jika penyadapan dilakukan terlalu siang, suhu panas khas musim kemarau akan membuat getah pada bidang sadap menjadi lebih cepat membeku, sehingga volume yang dihasilkan semakin merosot.

Para petani berharap stabilitas harga yang tinggi ini dapat bertahan lama hingga kondisi cuaca kembali membaik, sehingga peningkatan harga dapat berjalan beriringan dengan volume panen yang melimpah untuk menyejahterakan keluarga mereka.

Rincian Harga Karet Berdasarkan Kadar Karet Kering (KKK) per 4 Juni 2026:

Berikut adalah daftar harga acuan komoditas karet di tingkat pabrik pengolahan sebelum dikurangi biaya produksi dan rantai pemasaran:

KKK 100 persen: Rp41.819 per kg
KKK 70 % : Rp29.273 per kg
KKK 60 % : Rp25.091 per kg
KKK 50 % : Rp20.910 per kg
KKK 40 % : Rp16.728 per kg
KKK 30 % : Rp12.546 per kg

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.