Sempat Tembus 40 Titik Panas di Muratara, BPBD Duga Dampak Aktivitas Warga Buka Lahan Kebun
tarso romli June 04, 2026 07:27 PM

Baca juga: Citra Satelit Deteksi 25 Titik Hotspot di Sumsel, Pemkab Banyuasin Gencarkan Antisipasi Karhutla


SRIPOKU.COM, MURATARA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, mendeteksi adanya lonjakan signifikan jumlah titik panas (hotspot) di wilayahnya. Kemunculan puluhan titik panas tersebut diduga kuat dipicu oleh aktivitas pembukaan lahan perkebunan oleh warga dengan cara dibakar.

Kepala BPBD Muratara, Hasbi Hasidqi, mengungkapkan bahwa lonjakan drastis itu sempat terpantau pada akhir pekan lalu, sebelum akhirnya intensitasnya berangsur-angsur menurun.

"Berdasarkan perkiraan kami, kemungkinan masih ada pola masyarakat yang membuka lahan dengan cara dibakar. Kemarin jumlah hotspot sempat tinggi, menembus angka 40 titik pada Jumat (29/5/2026) lalu," ungkap Hasbi kepada wartawan, Kamis (4/6/2026).

Beruntung, grafik titik panas tersebut langsung mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir. Hal itu mengindikasikan kobaran api cepat padam lantaran skala pembakarannya tergolong kecil, seperti pembersihan kebun rakyat yang langsung dimatikan setelah selesai.

"Saat ini jumlah hotspot sudah turun drastis, tinggal menyisakan sekitar lima titik. Berdasarkan pemetaan koordinat, sebaran titik panas ini mayoritas terkonsentrasi di wilayah Kecamatan Rawas Ilir," jelasnya.

Antisipasi Karhutla di Zona Gambut
Hasbi menjelaskan, hampir seluruh kecamatan di Bumi Beselang Serasan masuk dalam kategori rawan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) karena karakteristik tanahnya yang cenderung kering. Kondisi ini diperparah dengan keberadaan kantong-kantong lahan gambut di beberapa sektor yang memiliki risiko kebakaran bawah permukaan jika memasuki musim kering.

"Hampir seluruh wilayah di Muratara itu rawan karena kondisi lahannya kering. Sebagian kecil merupakan lahan gambut, seperti yang tersebar di wilayah Kecamatan Rawas Ilir, Nibung, Karang Dapo, dan Rupit. Daerah-daerah itu yang lahan gambutnya cukup luas," papar Hasbi.

Saat ini, wilayah Muratara sebenarnya masih berada dalam fase transisi atau peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Oleh sebab itu, status kesiagaan darurat secara resmi baru akan diterbitkan dalam waktu dekat.

Baca juga: Muara Enim Jadi Penyumbang Hotspot Terbanyak di Sumsel, Total Capai 34 Titik Muncul Awal Juni

"Surat edaran mengenai kesiapsiagaan bencana akan menyusul dalam minggu-minggu ini. Secara regulasi, sekarang belum masuk masa darurat Karhutla karena masih masa transisi. Namun berdasarkan rilis BMKG, dari bulan Juni sampai Agustus 2026 ini diperkirakan sudah masuk musim kemarau, dan yang kami khawatirkan adalah potensi terjadinya fenomena cuaca ekstrem," tambahnya.

Mengingat fase kemarau panjang sudah di depan mata, BPBD Muratara mengeluarkan imbauan tegas agar masyarakat tidak lagi menerapkan metode bakar dalam membuka lahan pertanian karena melanggar regulasi serta memicu polusi udara yang merusak kesehatan. Kewaspadaan personal juga diminta ditingkatkan, termasuk menghindari tindakan lalai seperti membuang puntung rokok sembarangan di area semak kering.

Selain sektor masyarakat, BPBD juga telah menyurati seluruh perusahaan perkebunan dan instansi swasta yang beroperasi di wilayah Muratara untuk meningkatkan sistem proteksi kebakaran internal mereka.

"Pihak korporasi sudah kami imbau secara tertulis. Kami juga meminta peta titik koordinat konsesi wilayah mereka. Langkah ini merupakan bentuk kolaborasi agar sektor swasta ikut siaga mandiri dan melakukan antisipasi dini terhadap potensi Karhutla di sekitar area kerja mereka," pungkas Hasbi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.