Duka Haji Kloter 12 Malang: Satu Jemaah Meninggal 30 Menit Jelang Landing, Satu Lagi Wafat di Bus
Sarah Elnyora Rumaropen June 04, 2026 07:35 PM

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Perjalanan pulang jemaah haji Kloter 12 asal Kota Malang berubah menjadi pemandangan yang memilukan.

Hanya bersenang sekitar 30 menit sebelum pesawat mendarat di Bandara Internasional Juanda, seorang jemaah lansia berusia 70 tahun ditemukan meninggal dunia di dalam toilet pesawat.

Duka rombongan semakin bertambah setelah seorang jemaah perempuan berusia 58 tahun juga dinyatakan wafat di dalam bus saat perjalanan menuju Asrama Haji Sukolilo Surabaya.

Kronologi Duka di Udara

Jemaah yang meninggal dunia di dalam pesawat adalah seorang lansia, yang sesuai identitas di KTP, kelahiran tahun 1956 atau sudah berusia 70 tahun.

Peristiwa bermula saat jemaah tersebut ditemukan dalam keadaan lemas di dalam toilet pesawat.

Petugas kesehatan mendapati kondisi tersebut setelah menaruh curiga lantaran yang bersangkutan tidak segera kembali ke kursi penumpang.

Melihat situasi darurat itu, petugas kesehatan dengan dibantu jemaah yang lain langsung melakukan tindakan cepat.

Jemaah lansia itu sudah berusaha dibantu dengan menggunakan alat pacu jantung, namun nyatanya yang bersangkutan tetap tidak tertolong.

Baca juga: Tiga Calon Sekda Kota Batu Akan Diumumkan ke Publik

Korban diduga kuat terkena serangan jantung.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, selama berada di Tanah Suci yang bersangkutan sebenarnya juga sudah sempat dirawat dengan penyakit yang sama.

Namun, karena kondisinya kemudian dirasa sudah stabil dan membaik, jemaah tersebut diperkenankan untuk pulang, hingga akhirnya nyawanya tak tertolong saat perjalanan pulang ke Tanah Air.

Pesawat yang membawa rombongan Kloter 12 asal Kota Malang itu sendiri mendarat di Bandara Internasional Juanda pukul 11.00 WIB.

Tepat tiga puluh menit menjelang pesawat landing ini, jemaah tersebut mengembuskan napas terakhirnya di pesawat.

Saat dicek kembali, detak jantungnya memang sudah tidak ada.

Begitu pesawat mendarat, petugas bergerak cepat langsung membawa jemaah yang meninggal itu dengan mobil ambulans khusus untuk segera dibawa ke kamar jenazah RSUD Haji Jatim.

Jemaah Perempuan Wafat di Bus

Rupanya duka Kloter 12 belum berakhir.

Sekitar 1,5 jam setelah peristiwa di pesawat, seorang jemaah perempuan menyusul meninggal dunia di dalam bus.

Perjalanan dengan bus dari Bandara Juanda menuju ke Asrama Haji Sukolilo Surabaya pun kembali diwarnai suasana duka yang mendalam.

Seorang jemaah perempuan berusia sekitar 58 tahun asal Kota Malang tersebut, didapati sudah dalam keadaan tak bernyawa di dalam penjemputan.

Baca juga: Perda Penyelenggaraan Parkir di Kota Malang yang Baru Beri Penjelasan Tarif Gratis di Lahan Parkir

Saat petugas melakukan pengecekan medis secara langsung, yang bersangkutan memang dipastikan sudah tidak bernyawa.

Begitu rombongan bus tiba di lingkungan Asrama Haji Sukolilo, petugas langsung mengevakuasinya ke RSUD Haji Jatim yang posisinya berada tepat bersebelahan dengan Asrama Haji.

Kepala Bidang Kesehatan PPIH Debarkasi Surabaya, Rosidi Roslan, menuturkan semua jemaah yang mengalami masalah dalam kesehatannya dipastikan mendapat penanganan medis sebagaimana mestinya.

"Kami ikut berbela sungkawa, dua jemaah meninggal setibanya di Tanah Air. Satu meninggal di pesawat dan satunya di bus menuju Asrama Haji," kata Rosidi yang juga menjabat sebagai Kepala Balai Besar Karantina Kesehatan (BBKK) Surabaya.

Rosidi bahkan mencatat, jika diakumulasikan sejak masa keberangkatan, proses ibadah haji, hingga fase pemulangan saat ini, total jemaah haji dari Debarkasi Surabaya yang meninggal dunia sudah mencapai 49 orang.

Kebanyakan dari mereka memang meninggal dunia saat berada di Tanah Suci.

Meskipun demikian, Rosidi menyebut sistem pemeriksaan kesehatan dari awal sudah berjalan dengan baik.

Baca juga: Penambahan Koridor dan Armada Bus Trans Jatim di Malang Raya Masih Menunggu Kepastian Pemprov Jatim

Apalagi sejak di daerah asal, kondisi kesehatan mereka juga sudah diperiksakan secara ketat hingga akhirnya dinyatakan Istithaah atau layak untuk melakukan perjalanan ibadah haji.

"Namun yang harus dicatat bahwa ibadah haji adalah ibadah menuntut kesiapan fisik. Bisa jadi saat hendak berangkat dinyatakan istithaah. Namun karena kelelahan, adaptasi iklim, dan suasana kebatinan memengaruhi kondisi jemaah," terang Rosidi.

Faktor-faktor kelelahan fisik tersebut diperparah karena banyak jemaah yang dari awal sudah memiliki riwayat penyakit bawaan hingga akhirnya dinyatakan masuk kategori risiko tinggi (risti).

Tercatat ada sekitar 70 persen jemaah yang masih tergolong risti, belum lagi ditambah dengan banyaknya jumlah jemaah lansia.

Kondisi-kondisi akumulatif inilah yang dinilai memperparah kondisi kesehatan jemaah di lapangan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.