Nanik Akhirnya Muncul Usai Jadi Kepala BGN, Langsung Ubah Target Penerima MBG
Noval Andriansyah June 04, 2026 09:19 PM

Tribunlampung.co.id, Jakarta - Setelah sempat dinanti-nanti kehadirannya, pasca-kisruh hukum pimpinan lama, Kepala Badan Gizi Nasional ( BGN ) yang baru, Nanik S Deyang, akhirnya menampakkan diri di kantor.

Baca juga: Keberadaan Nanik Seusai Gantikan Dadan Jadi Kepala BGN, Belum Muncul di Kantor

Tak butuh waktu lama untuk beradaptasi, Nanik langsung membuat gebrakan besar dengan merombak total target capaian penerima manfaat program andalan pemerintah, Makan Bergizi Gratis ( MBG ), untuk tahun 2026.

Kemunculan perdana Nanik di gedung dinas Jakarta Pusat ini membawa angin perubahan arah kebijakan instansi. Ia menegaskan, ke depan BGN tidak akan lagi sekadar jorjoran mengejar angka kuantitas, melainkan beralih fokus pada pembenahan kualitas gizi dan standar kesehatan dapur umum di lapangan.

Langkah berani ini diambil setelah jajaran pimpinan baru BGN menghadap dan berdiskusi langsung dengan Presiden Prabowo Subianto.

Kebijakan anyar tersebut juga menjadi bagian dari strategi besar untuk melakukan efisiensi anggaran sekaligus menajamkan sasaran penerima manfaat agar lebih tepat sasaran.

"Dampaknya ya, kemarin kami bertiga dipanggil Presiden dan kami sudah menyampaikan ke beliau tahun 2026 ini mohon Bapak kami tidak mengejar kuantitas."

"Kami akan perbaiki kualitas, sehingga bisa jadi kami tidak akan mengejar ke 82 juta. Tapi bagaimana dapur-dapur ini sehat, memberikan makan yang bergizi, ya. Lalu refocusing," ungkap Nanik di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026), dilansir Tribunnews.com.

Sebagai bentuk konkret dari penataan ulang ini, Nanik menjelaskan bahwa BGN bakal mengevaluasi ulang pemberian makanan gratis di sekolah-sekolah yang tergolong elite alias mahal.

Ia menilai kelompok tersebut relatif mampu secara ekonomi, sehingga anggaran yang ada bisa dialokasikan untuk urusan yang lebih mendesak.

Uang hasil efisiensi dari sekolah-sekolah mahal itu nantinya bakal dialihkan secara penuh untuk membantu masyarakat yang tinggal di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

"Nah, sekarang kita fokuskan, kan sekarang semua sekolah dikasih. Nah, sekarang kita fokuskan adalah ke 3T dan terutama untuk 3B," tegas Nanik menguraikan peta jalan barunya.

Kelompok 3B yang dimaksud Nanik meliputi prioritas bagi ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan para balita.

Kebijakan menggeser fokus ke kelompok rentan ini diambil berdasarkan rekomendasi ketat dari para pakar gizi dan dokter anak.

Berdasarkan kajian medis, intervensi gizi dinilai bakal jauh lebih krusial dan memberikan dampak efektif jangka panjang jika diberikan sejak bulan pertama bayi berada di dalam kandungan hingga anak menginjak usia 9 tahun.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.