TRIBUNJAKARTA.COM - Mengkonsumsi es, cokelat, atau gorengan kerap dianggap orangtua sebagai penyebab batuk dan pilek pada anak.
Dokter spesialis anak, Wanda Gautami, mengungkapkan bahwa faktor terbesar yang memicu batuk dan pilek pada anak justru sering kali tidak kasat mata.
Salah satunya adalah segitiga infeksi dan alergen rumahan seperti tungau debu.
Dikutip TribunJakarta.com dari YouTube Tanya Dokter, dokter Wanda menjelaskan bahwa batuk dan pilek pada anak secara garis besar disebabkan oleh dua jalur utama, yakni infeksi dan alergi.
Untuk kasus infeksi, penularan terjadi karena adanya ketidakseimbangan dalam konsep yang disebut "segitiga infeksi".
"Jadi, segitiga, namanya segitiga infeksi. Yang pertama, itu terkait dengan tubuh anak itu sendiri, jadi host-nya. Bagaimana keadaan anak, bagaimana gizinya, bagaimana kekebalan tubuhnya," ujar dokter Wanda.
Faktor kedua dan ketiga dalam segitiga tersebut adalah lingkungan dan kuman itu sendiri.
Dokter Wanda menekankan bahwa menjaga nutrisi anak saja tidak cukup jika faktor lingkungan tidak mendukung.
Lingkungan yang padat, paparan asap rokok, kelembapan udara yang buruk, hingga tingginya sirkulasi virus seperti influenza di sekolah tetap memperbesar risiko anak tertular penyakit.
"Walaupun kita sebagai orang tua udah kasih makanan bergizi buat anak kita, kita udah usahakan berbagai multivitamin, atau anak kita udah kita jaga, tapi kalau lingkungannya ternyata ada yang merokok, atau misalnya lingkungannya kurang bersih... tentu masih tetap bisa tertular juga," tambahnya.
Mengenai anggapan bahwa konsumsi makanan tertentu seperti es krim atau gorengan menjadi penyebab langsung batuk, dokter Wanda meluruskan bahwa pengaruhnya cenderung tidak langsung.
Makanan manis atau berminyak memang dapat meningkatkan sensitivitas saluran pernapasan atau memicu batuk jika minyak yang digunakan kurang baik, sehingga disarankan untuk dihindari saat anak sakit.
Namun, penyebab batuk non-infeksi yang paling sering ditemukan justru berasal dari debu rumah.
Menurutnya, tungau debu rumah (house dust mites) adalah alergen tersering yang memicu batuk jangka panjang pada anak.
Alergen ini hidup dengan memakan sisa-sisa kulit mati manusia dan sangat sulit dihilangkan sepenuhnya meski kasur atau perabot telah dibersihkan menggunakan penyedot debu.
"Tungau debu rumah itu alergen yang tersering yang menyebabkan batuk-batuk khususnya pada anak-anak. Dan dia selain menyebabkan gejala alergi di kulit, paling sering justru alergi yang sifatnya hirup. Jadi batuk, pilek, hidung mampet, dan semacamnya," terang dokter Wanda.
Oleh karena itu, para orang tua diimbau tidak hanya fokus pada pembatasan makanan anak, tetapi juga lebih cermat dalam menjaga kebersihan kualitas udara kamar, meminimalkan paparan asap rokok, serta mengontrol kebersihan perabot rumah tangga secara berkala.