Teror Api di Seyegan Belum Berhenti, Korban Butuh Blower untuk Halau Gas
Yoseph Hary W June 05, 2026 01:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Keluarga korban 'teror api' di Seyegan Sleman merasa saat ini sangat membutuhkan blower untuk mengusir gas yang diduga menjadi pemicu munculnya api misterius di rumah tersebut. 

Pasalnya, fenomena aneh kebakaran berulang di rumah Agusyani, di Dusun Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman, itu belum berhenti.

Total 97 api per Kamis sore

Hingga Kamis (4/6/2026) sore, atau hampir dua pekan, total kemunculan letupan api telah mencapai 97 kejadian. 

Peristiwa ini melumpuhkan usaha pemotongan ayam milik keluarga korban, dan memaksa penghuni rumah harus tetap siaga sepanjang hari. 

Anak Agusyani, Mutfiana mengungkapkan, kerugian materiil akibat kerusakan fisik bangunan maupun barang-barang yang terbakar saat ini diperkirakan menembus angka Rp 70an juta rupiah. Sebab, dalam peristiwa ini memaksa keluarga membongkar keramik, saluran paralon dan septitank yang semula dicurigai sebagai biang kerok kemunculan gas metana. Dinding rumah dan perabotan juga hangus terbakar. Nilai kerugian tersebut belum termasuk akibat berhentinya roda perputaran usaha.

"Belum (termasuk penurunan omset usaha). (Jumlah ini) karena kemarin dibongkar septitanknya, tembok-temboknya, keramiknya dan lain sebagainya," kata dia.

Kerugian juga menghitung pengisian ulang Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Semula penggantian alat pemadam api ini menggunakan biaya pribadi, sebelum akhirnya ada bantuan dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Fia mengatakan, Pemerintah Kabupaten Sleman telah menyarankan agar lokasi usaha direlokasi sementara demi mempermudah proses penelitian ilmiah oleh tim ahli. 

Pengosongan rumah ini dinilai penting mengingat adanya dugaan kandungan gas hidrogen di area tersebut. Fia mengaku mau direlokasi asalkan tidak jauh dari rumah. Misalnya direlokasi di ruko sebelah rumah. Jika direlokasi di sana, ia berencana mendirikan tenda usaha darurat di dekat ruko agar tidak kehilangan pelanggan yang sudah dibangun dari nol.

Kebutuhan mendesak: blower 

Sedangkan terkait kebutuhan mendesak yang diharapkan keluarga korban saat ini adalah alat penghalau gas. 

"Yang paling kami butuhkan saat ini adalah blower atau kipas angin besar untuk menghalau gas," ujarnya. 

Kemunculan titik api secara tiba-tiba di rumat Agusyani ini sudah sangat meresahkan. Dampaknya tidak hanya materi, tetapi juga menguras kondisi fisik dan psikis penghuni rumah. Penghuni orang yang tinggal di rumah tersebut terpaksa harus berjaga bergantian selama 24 jam penuh bersama warga dan para relawan. 

"Paling lama kami bisa tidur hanya 3 jam, itu pun bergantian. Tensi darah naik, kurang tidur, kurang makan, dan asupan gizi jadi tidak teratur," ungkapnya.

Meski demikian, pihak keluarga mengaku sedikit lega karena bantuan dari warga sekitar, keluarga, Pemerintah dan peralatan APAR dari Damkar mulai mengalir. Keluarga korban juga mengaku mendukung jika rumahnya dijadikan lokasi penelitian lebih lanjut oleh tim ahli lintas sektor agar penyebab pasti kebakaran berulang ini segera terungkap secara pasti.(*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.