99 Titik Api Muncul dalam 13 Hari di Rumah Warga Seyegan Sleman
Muhammad Fatoni June 05, 2026 08:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kondisi rumah Agus Yani di Kasuran, Seyegan, Sleman, belum juga beranjak normal. 

Sejauh ini tercatat 99 titik api muncul dengan beragam intensitas hingga hari ketiga belas, Kamis (4/6/2026), sejak fenomena alam ini pertama terjadi pada Sabtu (23/5/2026) dini hari. 

Terbaru, api tiba-tiba muncul dan membakar gulungan kabel yang diletakan di belakang rumah, Kamis kemarin. 

Kemunculan api dipergoki Mutfiana, anak dari Agus Yani. 

Ia yang siaga dan mengontrol situasi rumah segera berteriak memanggil bapaknya ketika melihat gulungan kabel sudah meleleh dijilat si jago merah. 

Peristiwa tersebut terjadi pukul 13.10 WIB. 

Sang bapak dan ibu yang berada di depan, langsung berdatangan ke belakang untuk melihat kondisi barang yang terbakar. 

Pantauan Tribun Jogja, nyala api telah menjilat gulungan kabel yang tersimpan dalam karung di belakang rumah. 

Gulungan kabel tersebut sebelumnya sudah pernah terbakar dan kini terulang lagi. 

"Ho’oh, (kabel) ini yang (pernah) kebakaran kemarin," kata Mutfiana.

Baca juga: Tepat Dua Pekan, 100 Titik Teror Api Muncul di Rumah Warga Seyegan Sleman

Pada Kamis, kebakaran setidaknya sudah berlangsung lima kali. Rinciannya pukul 00.12 api membakar celana di kamar depan. 

Pukul 01.43, membakar buku kamar belakang. Pukul 01.53 kasur di depan terbakar. 

Pukul 12.27 api kembali muncul di belakang ruko, yang kini digunakan sebagai pengungsian keluarga Agus. 

Api membakar kardus dan menjadi yang ketiga kali setelah dua hari lalu membakar triplek dan sprei. 

Kemudian, pukul 13.10, api membakar gulungan kabel di belakang rumah.

Pukul 22.44, api kembali muncul di ruang tengah, membakar kardus telur.

Kondisi serupa juga terjadi pada Rabu (3/6/2026) malam. 

Api tiba-tiba muncul dan membakar barang di kamar tengah maupun halaman belakang. 

Keluarga Agus sedikit banyak hapal pola. 

Ketika baskara melindap di ufuk barat sana, kewaspadaan harus ditingkatkan segera, berlipat ganda. 

Sebab, cukup sering titik api muncul tatkala hari beranjak gelap.

Benar saja, tak berselang lama, ketika jam menunjukkan angka 18.50, tumpukan kayu di halaman belakang terbakar hebat. Apinya menyalak hampir satu meter ke atas. 

Untuk diketahui, sebelumnya sudah terjadi kebakaran serupa sebanyak tiga kali di titik yang sama. 

Artinya, ini adalah kali keempat tumpukan kayu itu digilas api panas. Pukul 20.00, sebuah kaus di luar rumah mendadak terbakar.

Hingga kini, belum ada solusi konkret untuk menghentikan teror api. 

Hampir dua pekan nirhenti keluarga ini berbagi ruang dengan bara api. 

"Nggegirisi (mengkhawatirkan)," tutur Agus Yani menggambarkan teror api dan dua pekan yang melelahkan di Seyegan. 

MENYALA - Titik api yang membakar tumpukan kayu di halaman belakang rumah Agus Yani di Kasuran, Seyegan, Sleman, Rabu (3/6/2026) malam.
MENYALA - Titik api yang membakar tumpukan kayu di halaman belakang rumah Agus Yani di Kasuran, Seyegan, Sleman, Rabu (3/6/2026) malam. (Tribun Jogja/Hendy Kurniawan)

Dibahas ahli

Sejumlah tim ahli lintas sektor pada Kamis sore kemarin melakukan pertemuan di Kantor Kapanewon Seyegan untuk membahas kondisi, hasil pengamatan, dan upaya penanganan teror api di rumah Agus Yani. 

Sinergi lintas ahli ini penting sebab fenomena langka ini belum masuk ke dalam 12 daftar Kajian Risiko Bencana Daerah, sehingga sinkronisasi hasil data lapangan diperlukan, terutama bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman untuk menentukan langkah mitigasi darurat. 

Dosen Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan (DTGL) UGM, Dr. Sarju Winardi, menyampaikan, melalui tiga rangkaian observasi dan pengukuran menggunakan detektor gas serta teknologi kamera thermal sejak akhir Mei hingga awal Juni 2026, tim ahli Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM mengonfirmasi bahwa rentetan kejadian api berulang di rumah Agusyani dipicu oleh akumulasi gas hidrogen (H2) konsentrasi tinggi, bukan karena faktor mistis.

Sarju menjelaskan, pengukuran lapangan menunjukkan kadar hidrogen di dalam ruangan melonjak ekstrem hingga mencapai 40 ppm bahkan hasil pengukuran bisa didapati hingga menyentuh 2.500 ppm pada saluran pipa air. 

Ini jauh melampaui kondisi normal atmosfer yang hanya 5 ppm. 

Tim mendeteksi lonjakan ini terjadi secara spontan di siang hari di tengah kerumunan orang. 

Fakta ini sekaligus menepis anggapan bahwa api hanya muncul saat rumah kosong.
"Jadi, nyuwun sewu ini menepis anggapan bahwa api itu keluarnya nunggu tidak ada orang. Banyak orang gitu ya, siang-siang apinya nyala juga. Nah, pada saat api nyala di kamar itu dan kami melakukan deteksi, terbaca gas hidrogen yang sangat tinggi sampai 40 ppm. Normalnya gas di udara itu hidrogen hanya 5 ppm," kata dia. 

Fermentasi limbah

Tim UGM menyusun hipotesis bahwa gas hidrogen terbentuk dari proses dark fermentation limbah organik pemotongan ayam di belakang rumah yang telah merembes ke bawah lantai selama bertahun-tahun. 

Gas hidrogen yang sangat ringan ini kemudian berasosiasi dengan gas fosfin (PH3), gas yang terbentuk dari material kaya fosfat seperti tulang dan bulu ayam. 

Sifat gas fosfin yang sangat reaktif dan mudah menyala pada suhu kamar bertindak sebagai pemantik utama yang membakar gas hidrogen saat bersentuhan dengan oksigen. 

Untuk memutus rantai segitiga api yakni bahan bakar, panas, dan oksigen serta untuk menjamin keselamatan penghuni rumah, tim ahli UGM mengeluarkan empat rekomendasi. 

Pertama, membuka sirkulasi udara dalam rumah selebar-lebarnya agar gas hidrogen segera terbuang keluar dan tidak mengumpul di dalam ruangan. 

Kedua, penggunaan kipas angin besar atau blower untuk menghalau akumulasi rembesan gas bawah tanah agar tidak mencapai kadar jenuh yang rawan memantik api. 

Ketiga, seluruh perabot rumah tangga yang bersifat mudah terbakar harus dikeluarkan dari dalam rumah karena media tersebut terbukti menjadi tempat terjebaknya gas. 

Keempat, tim UGM membantu melakukan solusi dengan pengeboran tanah di empat titik strategis untuk menyuntikkan cairan basa (air kapur). 

Langkah ini bertujuan menjenuhkan tanah guna menekan dan menonaktifkan aktivitas bakteri Clostridium, yakni mikroorganisme yang bertanggung jawab mengubah limbah organik menjadi gas hidrogen.

"Empat rekomendasi ini sangat terbuka untuk masukan dan diskusi," ujarnya. 

MENYALA - Titik api yang membakar beberapa barang di rumah Agus Yani di Kasuran, Seyegan, Sleman, Rabu (3/6/2026) malam.
MENYALA - Titik api yang membakar beberapa barang di rumah Agus Yani di Kasuran, Seyegan, Sleman, Rabu (3/6/2026) malam. (Tribun Jogja/Hendy Kurniawan)

Pemantik

Tim ahli dari BPPTKG juga turut menerjunkan tim untuk menguji keabsahan hipotesis akademisi terkait teror api misterius di Seyegan, Sleman. 

Menggunakan sensor keselamatan kerja (safety tool), BPPTKG memperluas investigasi pada aspek pemantik api atau segitiga api yang memicu terbakarnya akumulasi gas bawah tanah di lokasi tersebut.

Ketua Tim Mitigasi Bencana Gunung Merapi BPPTKG, Andika Bayu Aji, mengatakan, berdasarkan hasil pengukuran lapangan, BPPTKG mencatat kadar gas metana (CH4) di dalam rumah masih berada di angka 0 -1 persen.

Titik tertinggi sebesar 4 persen di dekat area pohon bambu luar rumah. 

Angka ini dinilai belum memenuhi syarat ambang batas ledakan metana yang berada di kisaran 5-15 persen.

Untuk memastikan kadar gas hidrogenyang memiliki rentang ambang batas terbakar sangat lebar yakni 4-78 persen, BPPTKG telah mengambil sampel menggunakan tabung khusus untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium. 

Namun, ia menekankan bahwa gas hidrogen tidak dapat menyala sendiri begitu saja karena membutuhkan suhu auto-ignition di atas 500°C. 

Sedangkan, pemantauan kamera thermal udara lewat drone menunjukkan suhu lingkungan di luar dan di dalam rumah tergolong normal, yakni hanya berkisar antara 32-37°C.

"Jadi, kemungkinan pemantiknya bukan karena suhu panas lingkungan, melainkan bisa jadi karena listrik statis," kata dia. 

Dalam kasus ini, BPPTKG menyarankan pengecekan potensi paparan listrik statis kuat di sekitar lokasi dan menindaklanjuti teori keberadaan gas fosfin.

Baca juga: Teror Api di Seyegan Belum Berhenti, Korban Butuh Blower untuk Halau Gas

Kombinasi gas

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Pengda Jawa Timur sekaligus Kandidat Doktor Ilmu Geologi UPN Veteran Yogyakarta, Handoko Teguh Wibowo, menduga rentetan kebakaran ini merupakan kombinasi pembentukan gas dari faktor alami) dan buatan. 

Ia bercerita, berdasarkan pengalamannya selama hampir sepuluh tahun menangani karakteristik gas dangkal bertekanan rendah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, fenomena ini murni akibat pergerakan gas alam yang mencari jalan keluar ke permukaan bumi dan bukan fenomena supranatural.

Handoko menjelaskan bahwa gas metana (CH4) dan gas hidrogen (H2) di lokasi tersebut keluar secara bersamaan dari bawah tanah, dibuktikan dengan temuan gelembung gas di bawah Sungai Nepen dekat pemukiman warga. 

Sifat gas hidrogen yang sangat ringan membuatnya bergerak lebih cepat dan bertindak sebagai penjelajah media berpori.         

Hidrogen memiliki reologi khas yang sangat sensitif, gas ini tidak membutuhkan pemantik tinggi dan dapat tersulut secara spontan hanya oleh daya listrik statis dari tubuh manusia atau perangkat elektronik, selama kadar oksigen ruangan berada di rentang 4-72 persen.

"Di luar rentang itu, gas tidak akan menyala," imbuhnya. 

Handoko menawarkan dua langkah untuk menjinakkan "gas liar" di Seyegan agar aman bagi pemukiman warga. 

Yakni dengan pembangunan sumur reservoir dangkal 0-40 meter dan kompresor. 

Gas liar yang merembes di bawah rumah warga disedot menggunakan mesin kompresor untuk dikonsentrasikan ke dalam tangki penampungan khusus. Bisa dimanfaatkan untuk pengganti LPG maupun dibakar (flare) secara aman.

Kedua, langkah teknis berupa reorientasi aliran gas perlu dilakukan. 

Tim melakukan pengeboran ulang yang dikombinasikan dengan proses dewatering atau pengurasan air tanah secara terus-menerus. 

Metode ini bertujuan memaksa tekanan hidrostatik bumi agar orientasi aliran gas bawah tanah kembali terpusat ke satu sumur utama yang terisolasi, sehingga rembesan gas berbahaya tidak menyebar secara ke area fondasi rumah warga. (rif/hdy/maw)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.