Prevalensi Stunting di 5 Desa Beltim di Atas Target 15,38 Persen, Renggiang Tertinggi
suhendri June 05, 2026 08:50 AM

MANGGAR, BABEL NEWS - Upaya percepatan penurunan angka tengkes (stunting) di Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, masih harus menghadapi tantangan.

Pemerintah Kabupaten Belitung Timur mencatat adanya sejumlah wilayah yang memiliki angka prevalensi stunting di atas target yang ditetapkan sebesar 15,38 persen.

“Permasalahan stunting masih menjadi tantangan serius yang harus kita tangani bersama. Data yang ada menunjukkan prevalensi stunting di Beltim masih menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa periode terakhir,” kata Wakil Bupati sekaligus Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Belitung Timur Khairil Anwar dalam rilis, Kamis (4/6/2026).

Berdasarkan data yang ada, per 19 Mei 2026 tercatat ada lima desa di Belitung Timur yang memiliki angka prevalensi stunting di atas target yang ditetapkan kabupaten sebesar 15,38 persen.

Desa Renggiang menjadi wilayah dengan catatan prevalensi stunting tertinggi di Belitung Timur, yakni 24,53 persen.

Berikutnya Desa Simpang Tiga dengan angka prevalensi sebesar 21,88 persen, Desa Aik Madu 20 persen, Desa Tanjung Batu Itam 19,10 persen, dan Desa Simpang Pesak 16,37 persen.

Data yang ada juga menunjukkan bahwa secara keseluruhan prevalensi stunting Kabupaten Belitung Timur per April 2026 berada di angka 7,83 persen.

Angka ini mengalami kenaikan jika dibandingkan baseline tahun 2025 yang berada di angka 6,11 persen. Baseline adalah titik awal atau referensi yang digunakan sebagai dasar perbandingan atau evaluasi.

Khairil menegaskan persoalan tersebut tidak bisa lagi dibiarkan. Ia meminta seluruh pihak terkait untuk segera memperkuat penanganan secara terintegrasi hingga ke tingkat desa.

Khairil menyebutkan, urusan menurunkan angka stunting bukanlah tugas dinas kesehatan saja, namun juga  melibatkan semua elemen perpanjangan tangan pemerintah, mulai dari aparatur dinas di tingkat kabupaten, pemerintah kecamatan, puskesmas, petugas lapangan keluarga berencana (PLKB), pemerintah desa, hingga tim pendamping keluarga (TPK) yang bersentuhan langsung dengan warga.

“Kecamatan harus aktif sebagai koordinator wilayah, puskesmas memperkuat layanan kesehatan dan gizi, sementara PLKB dan tim pendamping keluarga melakukan pendampingan serta pemantauan terhadap keluarga sasaran secara berkelanjutan,” ujar Khairil.

Ia pun berharap komitmen tersebut dibuktikan dengan aksi nyata jajarannya saat turun mendampingi masyarakat.

"Kami berharap semuanya dapat memperkuat sinergi dan menghadirkan langkah konkret agar target percepatan penurunan stunting dapat tercapai serta kualitas generasi masa depan Beltim makin baik," tutur Khairil.

Capaian positif

Di luar lima desa dengan prevalensi stunting di atas target yang ditetapkan kabupaten, Khairil mengapresiasi kinerja desa lain yang mencatatkan performa gemilang dalam menekan angka stunting.

Desa Buding sukses menjadi wilayah dengan tingkat prevalensi stunting terendah di Belitung Timur, yakni hanya 1,20 persen.

Berikutnya, Desa Lalang Jaya mencatatkan prevalensi 2,09 persen, dan Desa Kurnia Jaya 2,28 persen.

Khairil menilai capaian positif desa-desa tersebut wajib ditiru dan dijadikan contoh nyata bahwa menurunkan kasus stunting sangat mungkin dilakukan jika semuanya berjalan beriringan.

Lebih lanjut, Khairil menginstruksikan seluruh jajaran TPPS untuk terus membenahi kualitas dan kebenaran data stunting yang dihimpun dari lapangan.

"Data yang akurat dan mutakhir sangat penting agar program dan intervensi yang dilakukan benar-benar tepat sasaran dan memberikan hasil yang optimal," ujarnya. (*/z1)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.