Emosi dan kekecewaan mendalam dirasakan Jepang saat gagal melaju ke perempat final Piala Dunia 2022 di Qatar empat tahun lalu. Tim Samurai Biru harus tersingkir setelah kalah lewat adu penalti dari Kroasia, yang kemudian finis di posisi ketiga.
Pada ajang tersebut, penyerang muda Jepang, Takefusa Kubo, menjadi pemain termuda dalam skuad asuhan Hajime Moriyasu. Saat itu Kubo baru berusia 21 tahun.
Empat tahun berselang, status pemain termuda kini dipegang oleh Kento Shiogai yang juga berusia 21 tahun untuk Piala Dunia 2026.
Dalam kurun waktu empat tahun itu, Jepang mengalami perkembangan signifikan baik dari sisi kualitas individu maupun pengalaman bermain di level tertinggi.
Sejak pertama kali berpartisipasi di Piala Dunia tahun 1998, Jepang selalu menunjukkan peningkatan performa dengan pencapaian terbaik mencapai babak 16 besar.
Menatap Piala Dunia 2026, skuad Jepang tampil dengan rasa percaya diri tinggi berkat pelajaran dari pengalaman masa lalu dan kematangan tim yang terus berkembang.
"Ada satu momen yang membuat saya sadar betapa kuatnya kami sekarang," ujar Kubo dalam wawancaranya dengan FIFA pada Jumat (5/6/2026).
"Momen itu terjadi pada pertandingan keempat atau kelima kualifikasi Asia. Saat kami unggul sekitar enam poin, saya benar-benar menyadari betapa tangguhnya kami saat ini," lanjutnya.
"Saya merasa kami jauh lebih percaya diri. Ini bukan hanya soal hasil akhir, tapi juga cara kami bermain dan bagaimana kekompakan kami sebagai satu kesatuan tim," tambah Kubo.
Di Piala Dunia, setiap detail permainan menjadi sangat penting. Tim yang lengah sedikit saja bisa kehilangan segalanya.
Kubo merasakan hal itu langsung ketika Jepang ditaklukkan Kroasia, yang kemudian merebut posisi ketiga di Qatar.
Kekalahan tersebut menambah daftar panjang perjalanan Jepang yang selalu terhenti di babak 16 besar pada edisi 2002, 2010, 2018, dan 2022.
"Pertandingan itu benar-benar membuka mata saya bahwa mengubah sejarah bukan hal yang mudah," ungkap Kubo.
"Mungkin karena intensitas permainan kami atau detail kecil yang gagal kami eksekusi dengan sempurna, kami sadar masih ada hal yang kurang dari kami."
"Di Piala Dunia, hasil pertandingan sering ditentukan oleh selisih yang sangat tipis. Karena itu, penting bagi kami untuk memperhatikan setiap aspek permainan dengan hati-hati," jelasnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, para pemain Jepang menunjukkan perkembangan luar biasa, terutama dengan semakin banyaknya pemain yang berkarier di luar negeri.
Jika pada tahun 2022 Jepang memiliki 19 pemain dari 26 yang bermain di luar negeri, kini pada 2026 hanya tiga pemain lokal yang dibawa oleh Moriyasu. Artinya, ada 24 pemain abroad yang berkarier di berbagai liga top dunia, terutama di Eropa.
Fakta tersebut semakin menambah rasa percaya diri Kubo dan rekan-rekannya, apalagi dengan hasil positif dalam beberapa laga terakhir.
Pada FIFA Matchday bulan Maret, Jepang sukses meraih dua kemenangan sulit di kandang Skotlandia dan Inggris dengan skor identik 0-1.
"Kami menyesuaikan taktik tergantung lawannya, namun secara mental kami selalu menghadapi setiap pertandingan dengan cara yang sama," ujar Kubo.
"Kami menghormati setiap lawan, tapi kami juga yakin sepenuhnya bahwa kami mampu menang," tegasnya.
Pengamat sepak bola dari Spieltag Indonesia, Adrian, dalam sebuah podcast bersama Tribunnews pada Minggu (31/5) menyebut Jepang tengah berada di periode emas, serupa dengan Norwegia.
Menurutnya, tim ini dihuni oleh generasi pemain yang luar biasa. Selain Kubo, ada Ayase Ueda (Feyenoord) yang menjadi pencetak gol terbanyak di Liga Belanda, Daichi Kamada (Crystal Palace), Ao Tanaka (Leeds United), Junya Ito (Stade de Reims), Ko Itakura (Ajax Amsterdam), hingga kiper Zion Suzuki (Parma).
Adrian menilai Jepang merupakan salah satu tim yang berpotensi besar menciptakan kejutan di Piala Dunia kali ini.
Apalagi mereka tergabung di Grup F bersama Belanda, Swedia, dan Tunisia. Meski begitu, Adrian tetap menilai Belanda sebagai kandidat kuat juara grup.
"Jepang di dua Piala Dunia terakhir tampil luar biasa. Mereka seperti Norwegia dengan generasi emasnya, plus sentuhan Hajime Moriyasu yang sudah berpengalaman di ajang besar. Dari sisi permainan, Jepang sudah selevel bahkan mungkin melampaui beberapa tim Eropa," tutur Adrian.
"Grup ini sangat menarik. Belanda selalu tampil konsisten di setiap turnamen, sementara Jepang dan Swedia bisa menjadi ancaman serius," tambahnya.
"Namun saya tetap melihat Belanda akan keluar sebagai juara Grup F," pungkasnya.
Sementara itu, pengamat sepak bola asal Semarang, Gigih Windar, punya pandangan berbeda. Ia menilai Jepang sudah bukan lagi tim kuda hitam.
Gigih mengingatkan bahwa Jepang sempat mengalahkan Brasil pada Oktober 2025, serta menumbangkan Jerman dan Spanyol di fase grup Piala Dunia 2022 — hasil yang membuat Jerman gagal lolos ke babak gugur untuk kedua kalinya secara beruntun setelah 2018.
"Jepang itu sudah bukan kuda hitam lagi. Menyebut mereka kuda hitam sekarang sudah tidak relevan," tegas Gigih saat diwawancarai Tribunnews pada Rabu (4/5/2026).
"Kalau melihat skuad mereka untuk Piala Dunia tahun ini, komposisinya luar biasa mewah," lanjutnya sambil memaparkan daftar pemain Jepang yang berkarier di Eropa.
Menurut Gigih, Jepang berpeluang melangkah lebih jauh dari edisi sebelumnya, meski menembus semifinal masih menjadi tantangan berat mengingat berbagai faktor yang memengaruhi.
"Kalau disebut unggulan, iya. Tapi untuk menembus semifinal sepertinya masih sulit. Paling realistis mereka sampai perempat final," kata Gigih.
Pada Piala Dunia 2026, Jepang akan memulai perjuangannya di Grup F melawan Belanda pada 15 Juni, kemudian menghadapi Tunisia pada 21 Juni, dan menutup fase grup melawan Swedia pada 26 Juni.