TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Jepang semakin dekat dengan status raksasa sepak bola dunia.
Usai tampil konsisten dalam beberapa edisi Piala Dunia dan terus melahirkan pemain-pemain yang bersinar di liga-liga top Eropa, muncul pertanyaan besar: apakah saatnya Samurai Biru menjadi juara dunia?
Untuk mendalaminya Manager Online Tribunpekanbaru.com, Alhafis Yasir berkesempatan melakukan wawancara eksklusif bersama legenda PSPS Miskardi.
Dalam podcast yang disiarkan di kanal Youtube Tribun Pekanbaru Official Kamis (4/6/2026), dibahas bagaimana peluang Jepang di Piala Dunia 2026.
Berikut petikan wawancaranya
Alhafis Yasir (T): Jadi gimana atmosfer menjelang pelaksanaan piala dunia ini?
Miskardi (M): Tentu ini merupakan pesta olahraga terbesar kedua setelah Olimpiade yang di tunggu-tunggu oleh masyarakat, apalagi di pergelaran tahun 2026 ini ada 48 peserta kalau kita dahulu kan cuma 32. Kemudian ditambah lagi atmosfer pertikaian antara Iran dan Amerika dan itu kan juga ikut mempengaruhi Piala Dunia Asia. Amerika tuan rumah dan Iran peserta.
T: Mari kita membahas tentang tim jagoan, ada yang bilang Prancis, Spanyol, Argentina, kalau abang gimana ini?
M: Kalau tim jagoan kebanyakan bilang yang berhasil memenangkan piala dunia, dari ranking FIFA kalau sekarang kan Perancis, Spanyol, Argentina dan sekarang banyak pemain yang bersinar tentu Portugal, di sana ada Ronaldo, ini adalah pertandingan terakhir. Tapi kalau saya berpandangannya kayaknya Jepang.
T: Kenapa bisa menyebut nama Jepang?
M: Jepang itu kita tahu mereka punya etos kerja bagus, kemudian federasi sepakbola Jepang sudah membuat blueprint, bagaimana mereka akan jadi juara di Piala Dunia di 2050 kalau tidak salah, dan pemain-pemain Jepang sekarang dari 26 yang disampaikan oleh pelatihnya, 23 orang merumput di Liga Eropa. ini merupakan modal besar bagi Jepang, apalagi kemarin mereka baru mengalahkan Brasil dan Inggris, pelatihnya sudah merancang enam uji coba yang merupakan representasi dari grup nantinya.
T: Apakah ini karena kekuatan mereka atau melihat dari sejarah mereka yang meningkat dari sebelum-sebelumnya? karena sebelumnya mereka belum pernah masuk semifinal?
M: Jepang sudah 8 kali berturut-turut lolos ke piala dunia dan mereka 4 kali lolos 16 besar, itu prestasi maksimal yang mereka raih, dan pelatih sekarang itu kan sudah lama menangani tim walaupun mereka gagal kemarin tapi dia tetap diberikan kepercayaan, dalam artian chemistry sudah tercipta antara pemain dan pelatih, kemudian mereka adalah tim pertama yang lolos setelah tiga tuan rumah, setelah itu merancang uji coba, sekarang kita melihat betapa prioritasnya Jepang.
T: Kalau bicara level kita di Asia yang paling tinggi itu Korea Selatan masuk semi final tahun 2002, yaitu tuan bersama Jepang sama Korsel, namun sekarang Korsel walaupun lolos tetapi namanya tidak disebut seperti jepang, bagaimana pendapatnya?
M: Kita sekarang enggak melihat superioritasnya Korea, kalau dahulu kita berhadapan dengan Korea kan itu sudah pasti kalah, Kalau sekarang kayaknya U-19 atau U-23 kita sudah bisa mengimbangi, tapi kalau menghadapi Jepang kita sudah tidak levelnya.
T: Kira-kira tim lain mana yang bisa menjadi kejutan, apakah Portugal atau Belanda atau ada yang lain?
M: Kalau sekarang saya melihat Senegal, ada sosok Sadio Mane, tahun kemarin mereka sempat juara Afrika, tapi dicopot, namun secara permainan di lapangan mereka menang 1-0 kemudian ada insiden kemudian diselidiki dan mereka digagalkan tapi sekarang dalam tahap banding, namun menurut saya ini malah menjadi spirit, ingin menunjukkan kepada dunia dan Afrika mereka punya kekuatan, karena di sana ada Sadio Maneh yang dianggap pahlawan, dan kalau kita dengar dari cerita-cerita, Sadio Mane bukan orang yang ego bintang, ia mengayomi, kepemimpinannya mempengaruhi kualitas tim ini.
(Tribunpekanbaru.com/Theo Rizky)