Alasan TKS Ikat Iubuh dan Lakban Mulut Anaknya, saat Ditemukan Kondisi Lemas Cuma Pakai Pampers
TRIBUNJATENG.COM, BANTUL - Pilu, seorang balita usia tiga tahun ditemukan warga terikat tangan dan kakinya menggunakan selendang. Sementara mulut dalam kondisi terlakban.
Kondisi balita lemas dan kedinginan karena AC dan kipas angin di ruangan tempatnya berada sengaja diarahkan padanya.
Yang lebih miris, pelaku perbuatan kejam tersebut adalah ibu si balita.
Peristiwa ini terjadi di sebuah rumah kontrakan di Padukuhan Kedaton RT07, Pleret, Kapanewon Pleret, Bantul pada Senin (1/6/2026) .
Baca juga: Polisi Tangkap Spesialis Pembobol TK di Wonosobo, Sudah Beraksi di 8 Sekolah
Ibu muda inisial TKS (25) telah diamankan oleh aparat kepolisian. Dan motif perbuatannya pun terungkap.
Berdasarkan hasil pemeriksaan aparat kepolisian, TKS nekat mengikat dan melakban mulut anaknya karena lelah mengurus anak sendirian.
Selama ini TKS mengurus anak kandungnya, ACB (3) sendirian di kamar kos yang disewanya.
Sementara sang suami, yakni RF (30) merantau ke Jakarta untuk mencari nafkah.
"Tindakan melakban tersebut tidak dipikirkan oleh pelaku risiko apa yang terjadi pada anak karena sudah terlalu capek mengurus anak sendiri. Sedangkan ayah korban/suami pelaku kerja di Jakarta pulang ke Yogyakarta setiap sebulan sekali," kata Kasi Humas Polres Bantul Iptu Rita Hidayanto dalam keterangan yang diterima Tribun Jogja.
Menurut Rita, rasa lelah merawat anak sendirian itu menumpuk hingga akhirnya TKS melakukan cara yang tidak manusiawi.
Ibu muda tersebut nekat mengikat kaki dan tangan anaknya dengan selendang.
Kemudian mulutnya dilakban.
Setelah itu TKS ingin refresing jalan-jalan melepas penatnya.
Rita menyebut, suami TKS, RF mengaku ingin menyelesaikan kasus tersebut secara kekeluargaan.
RF sudah memaafkan perbuatan TKS dan berjanji untuk memperbaiki keluarganya.
"Suami selaku kepala rumah tangga/wali dari Korban meminta agar kejadian tersebut diselesaikan secara kekeluargaan,"jelasnya.
"Ayah kandung korban untuk saat ini memaafkan pelaku dan sanggup untuk memperbaiki rumah tangga sehingga kejadian tersebut tidak terulang lagi," kata Rita.
Rita menyebut korban saat ini dirawat dan diasuh oleh keluarga ayah kandungnya di Patuk.
RF juga meminta maaf kepada masyarakat atas kegaduhan keluarganya.
Sebelumnya, warga di Padukuhan Kedaton RT 07, Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Bantul digegerkan dengan penemuan balita dalam kondisi tangan dan kaki terikat serta mulut dilakban pada Senin (1/6/2026) malam.
Korban yang berusia 3 tahun tersebut pertama kali ditemukan oleh salah satu tetangga kontrakan bernama Abdul Baqir Zein Ikhsan, yang saat itu mendengar suara tangisan lirih dari kontrakan sebelahnya pada Senin (1/6/2026), sekitar pukul 20.00 WIB.
"Saksi 1 sedang bakar sate di depan kontrakan mendengar suara tangisan anak kecil dari kamar kontrakan yang ditempati oleh korban sekitar pukul 20.00 WIB," kata Rita saat dihubungi wartawan melalui telepon, Rabu (3/6/2026).
Sebelumnya, saksi melihat TKS keluar-masuk kontrakannya sekitar pukul 18.00 WIB.
Mendengar tangisan, saksi menghubungi pemilik kontrakan, bernama Muhamad Astrianto Sofi W. Keduanya langsung membuka jendela menggunakan linggis.
ACB dalam keadaan lemas posisi mulut dilakban plastik bening.
"Kedua tangan diikat menggunakan lakban bening dan kedua kaki diikat menggunakan lakban bening dan selendang warna merah maroon," kata Rita.
Pemilik kontrakan, Muhamad Astrianto Sofi W alias Mamat mengatakan, pemandangan memilukan langsung terlihat di sudut ruangan ketika dirinya akhirnya berhasil menyusup ke dalam kamar.
Balita malang tersebut ditemukan dalam kondisi yang sangat mengenaskan dan tidak berdaya.
"Sampai di dalam kamar ternyata di pojokan kamar ada anak hanya pakai baju dan pampers dengan kondisi kedua tangan, kedua kaki dan mulutnya terikat lakban warna bening," ungkap Mamat dikutip dari Kompas.com.
Beruntung, lakban pada bagian mulut korban sudah terbuka sedikit sehingga balita tersebut masih bisa mengeluarkan suara tangisan lirih.
Yang membuat warga makin miris, pendingin ruangan (AC) dan kipas angin di kamar itu sengaja dinyalakan dan diarahkan langsung ke tubuh sang anak.
Balita tersebut langsung dievakuasi keluar ruangan dengan cepat. Warga bersama Mamat bergotong-royong memotong dan membuka lakban yang menjerat erat kedua tangan serta kaki anak tersebut.
"Baru dicopot lakbannya, setelah itu saya langsung bilang pak RT dan polisi," kata Mamat.
Saat proses evakuasi berlangsung, warga sempat mencoba menghubungi sang ibu berkali-kali melalui telepon genggamnya, namun nomornya tidak aktif. Warga kemudian langsung menghubungi ayah korban yang sedang merantau di Jakarta.
"Suaminya akhirnya dia pulang kemarin, Selasa (2/6) sekitar pukul 10.00 WIB," tutur Mamat.
Dari hasil penyelidikan sementara, TKS hanya menempati rumah kontrakan bersama korban. Sebab, suaminya bekerja di Jakarta. Korban dan ibu korban diketahui memegang alamat KTP Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul.
"Sebagai penanganan lebih lanjut, korban saat ini tengah dirawat dan tinggal bersama keluarga dari ayah korban. Kondisinya mulai membaik," kata Iptu Rita.
Di satu sisi, terduga pelaku yang merupakan ibu kandung korban, yakni TKS akhirnya berhasil diamankan oleh petugas. TKS diringkus tanpa perlawanan di rumah kontrakannya pada Rabu (3/6) siang sekitar pukul 12.30 WIB, setelah sempat menghilang usai meninggalkan anaknya dalam kondisi tragis.
(TribunJogja.com)