Sektor Housekeeping Bali Nilai Teknologi AI Hanya Pendukung, Bukan Pengganti Peran Manusia
Aloisius H Manggol June 05, 2026 02:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Badan Pimpinan Daerah Indonesian Housekeepers Association (BPD IHKA) Bali resmi menggelar International Housekeeper's Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 di Prime Plaza Hotel Sanur pada Jumat 5 Juni 2026. 

Membawa tema From Tradition to Transformation, ajang berskala internasional ini menjadi ruang diskusi krusial mengenai sejauh mana teknologi Artificial Intelligence (AI) dan otomatisasi dapat diterapkan dalam operasional housekeeping, khususnya di industri pariwisata Bali.

Acara ini dihadiri oleh sekitar 500 peserta serta mengundang partisipan dari berbagai negara ASEAN seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam, hingga perwakilan dari berbagai provinsi di Indonesia.

Baca juga: Lima Orang Warga Sempat Diserang Anjing Rabies, Jembrana Catat 33 Kasus Positif pada Hewan

Ketua BPD IHKA Bali, I Gede Cahaya Adi Putra, mengungkapkan bahwa salah satu fokus utama dalam konferensi tahun ini adalah membedah relevansi AI di sektor industri perhotelan yang berbasis pada pelayanan langsung (hospitality). 

"Tema pada tahun ini kami mengadopsi from tradition to transformation. Jadi kita AI ini sedang berkembang, apakah cocok di Bali ini kita terapkan. Karena di Bali ini benar-benar hospitality itu harus bersentuhan, apakah bisa digantikan dengan robot? Dan kita juga menghadirkan talk shownantinya adalah lima negara yang akan membicarakan tema pada hari ini," ujar Cahaya Adi Putra.

Baca juga: Dua Cewek Terlibat Kecelakaan Adu Jangkrik di Jalanan, 1 Orang Tewas dengan Kondisi Wajah Luka Parah

Ia mengakui beberapa teknologi otomatisasi memang sudah mulai diadopsi dalam operasional harian housekeeping, seperti mesin pembersih lantai otomatis. Namun, peran manusia tetap mutlak diperlukan untuk aspek manajerial dan pemeliharaan kualitas.

 


"Beberapa ada yang bisa kayak pakem sekarang sudah ada yang otomatis, kayak scrubber juga mesin brasing itu sudah ada yang otomatis. Cuman kembali lagi, perlu orang yang mempertahankan untuk scheduling seperti apa dan lain-lain, itu tidak bisa hanya sekedar robot saja jalan. Perlu sekali, tidak bisa digantikan," tegasnya.

 


Cahaya juga membandingkan tren ini dengan negara maju seperti Jepang yang mulai menerapkan sistem AI secara penuh. Menurutnya, konsep tersebut sulit diterapkan di Bali mengingat ekspektasi wisatawan yang datang ke Bali sangat tinggi terhadap aspek pelayanan yang personal.

 


"Mungkin kalau saya kemarin melihat di YouTube sudah ada di Jepang itu totally menggunakan AI dari penyambutan tamu, front office, dan lain-lain sampai check-in. Tapi di Bali kayaknya tidak akan bisa dilakukan. Karena benar-benar kita bersentuhan harus dengan tamu, bagaimana kita mentreattamu tidak hanya tamu datang check-in dilepas saja. Tamu datang, mereka sudah bayar, harus dilayani sepenuh hati. Kepuasan yang mereka cari," tambahnya.

 


Senada dengan hal tersebut, Nyoman Sugiarta selaku Dewan Pembina IHKA Bali sekaligus Ketua Harian Badan Pusat IHKA, menegaskan bahwa tenaga kerja manusia (people) tetap menjadi kekuatan utama pariwisata Bali yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan.

 


"Tentunya walaupun kita mengangkat tema sekarang dengan teknologi AI ini, tetapi kita di Bali justru mengedepankan yaitu ke pelayanan dengan hati ya. Lebih ke personalized service, berarti itu people, orang gitu. Bagaimanapun orang itu di Bali masih kita sangat perlukan karena itu menjadi selling point-nya kita di Bali," kata Nyoman Sugiarta.

 


Melalui acara yang dihadiri oleh sekitar 500 orang ini, Sugiarta berharap para profesional housekeeping dapat menyeimbangkan antara adopsi teknologi terkini dengan peningkatan kualitas pelayanan manual yang mendalam.

 


"Harapan dengan acara ini ya kita meningkatkan sinergi, kolaborasi, dan juga profesionalisme kita. Sehingga kita benar-benar bisa melayani dengan hati, attention to detail, dan juga update teknologi juga. Di mananya kira-kira kita bisa update teknologi," jelasnya.

 


Apresiasi tinggi juga datang dari Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace). Beliau menekankan bahwa di tengah persaingan global yang semakin ketat, divisi housekeeping memegang peranan yang sangat vital dalam membentuk kesan pertama dan pengalaman keseluruhan wisatawan.

 


"Saya mengapresiasi dan sangat mendukung ya, bagaimana kita tahu persaingan kita akan makin ketat. Dan kita tahu juga housekeeping merupakan garda terdepan. Jadi experience pengalaman wisatawan di pariwisata khususnya di hotel, restoran itu pasti housekeeping punya peran yang sangat besar sekali," tutur Cok Ace.

 


Ia berharap melalui kompetisi dan konferensi internasional ini, kompetensi para anggota IHKA terus meningkat demi kemajuan pariwisata Bali ke depan.

 


"Oleh sebab itu saya mengapresiasi organisasi ini selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan, kompetisi, dan sertifikat khususnya daripada anggota-anggotanya. Mudah-mudahanlah ke depannya housekeeping terus makin maju, makin jaya untuk membangun pariwisata Bali yang terbaik," pungkasnya.

 


Total Peserta Bed-Making Competition sebanyak 34 Hotel dan 15 Hotel School (termasuk peserta dari luar Bali dan Filipina). Negara Partisipan Lomba ASEAN diantaranya Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Total Estimasi Kehadiran sebanyak 500 orang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.