Laporan wartawan TribunJatim.com, Anggit Pujie Widodo
TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Di Perumahan Griya Cemara Asri II, Desa Kebontemu, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, hampir tak pernah sepi dari kunjungan tamu.
Di sebuah rumah sederhana yang berada di lingkungan perumahan itu, banyak orang menggantungkan hidupnya, bukan bekerja, tapi untuk sembuh.
Mereka datang bukan untuk menghadiri acara keluarga ataupun kegiatan sosial. Satu per satu pelanggan dari berbagai daerah berdatangan dengan harapan yang sama, mencari jalan pemulihan atas berbagai keluhan kesehatan yang mereka alami.
Ada yang datang dengan langkah tertatih akibat stroke. Sebagian lainnya mengeluhkan saraf terjepit, nyeri sendi, asam urat, hipertensi hingga gangguan lambung.
Di rumah itulah mereka bertemu dengan Winarto, sosok yang lebih dikenal masyarakat dengan panggilan 'Pak Win Saraf'.
Menariknya, pria tersebut bukan tenaga medis ataupun terapis profesional yang membuka praktik khusus. Dalam kesehariannya, Winarto merupakan pegawai di Dinas Perhubungan Kabupaten Jombang yang tetap menjalankan tugasnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).
Baca juga: Nasib Penyanyi Muda Meninggal Dunia usai 3 Kali Pijat, Alami Gangguan Saraf hingga Keracunan Darah
Namun di luar jam kerjanya, ia memilih mengabdikan waktu dan kemampuannya untuk membantu masyarakat melalui terapi totok saraf dan refleksi.
Nama Winarto perlahan dikenal luas dari mulut ke mulut. Tidak hanya warga Jombang, pasien yang datang tercatat berasal dari berbagai daerah seperti Surabaya, Mojokerto, Kediri, Nganjuk, Malang, Tuban, Lamongan, Semarang hingga Cirebon.
Bagi banyak pasien, rumah Winarto bukan sekadar tempat terapi. Tempat itu menjadi ruang bagi mereka untuk kembali menumbuhkan optimisme setelah berjuang menghadapi penyakit yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Di tengah banyaknya pasien yang datang, Winarto mengaku tidak pernah menjadikan aktivitas tersebut sebagai sumber penghasilan utama. Baginya, membantu sesama merupakan panggilan hati yang ingin terus dijalankan selama masih diberi kemampuan.
"Kalau ada orang sakit dan saya bisa membantu, saya lakukan semampunya. Soal biaya saya tidak pernah menentukan, seikhlasnya saja," ucap Winarto kepada Tribunjatim.com pada Jumat (5/6/2026).
Karena masih aktif bekerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten Jombang, pelayanan terapi dilakukan berdasarkan jadwal yang telah disepakati.
Untuk pasien yang berada di wilayah Jombang, ia terkadang bersedia mendatangi rumah pasien. Sementara pasien dari luar daerah umumnya datang langsung ke kediamannya.
Prinsip hidup yang dipegang Winarto terbilang sederhana. Ia meyakini bahwa manusia akan memiliki nilai lebih, ketika mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
"Selama masih diberi kemampuan, saya ingin membantu orang yang membutuhkan. Hidup itu harus bisa bermanfaat bagi sesama," ungkap Winarto.
Kemampuan terapi yang dimiliki Winarto, menurut pengakuannya, diperoleh melalui bimbingan leluhur yang mengajarinya memahami titik-titik saraf dan teknik terapi refleksi.
Pengetahuan tersebut kemudian terus diasah, hingga mampu diterapkan untuk membantu masyarakat yang datang kepadanya.
Cerita mengenai manfaat terapi yang dijalani bersama Winarto datang dari sejumlah pasien. Salah satunya Sodiq, warga Denanyar, Jombang.
Ia mengisahkan pernah mengalami stroke hingga tiga kali. Kondisi tersebut sempat membatasi aktivitasnya dan membuat kehidupan sehari-hari menjadi tidak mudah. Setelah menjalani terapi secara rutin, ia mengaku merasakan perubahan yang signifikan.
"Saya pernah kena stroke sampai tiga kali. Alhamdulillah setelah menjalani terapi, sekarang sudah sembuh dan bisa beraktivitas kembali," katanya saat dikonfirmasi.
Kesaksian serupa disampaikan Chairul, warga Jalan Gubernur Suryo, Jombang. Selama sekitar dua setengah bulan, ia harus menahan rasa sakit akibat saraf terjepit yang membuatnya kesulitan beraktivitas.
"Dulu duduk saja tidak bisa karena sakit. Setelah terapi di Pak Win, Alhamdulillah sekarang sudah normal dan bisa beraktivitas seperti biasa," bebernya.
Di tengah kesibukan menjalankan tugas sebagai ASN, Winarto memilih tetap membuka ruang bagi siapa saja yang membutuhkan bantuan.
Bukan untuk mencari popularitas, melainkan karena keyakinannya bahwa setiap kemampuan yang dimiliki akan lebih bermakna ketika digunakan untuk membantu orang lain.
Dari balik seragam Dinas Perhubungan yang dikenakannya setiap hari, Winarto membuktikan bahwa pengabdian kepada masyarakat bisa hadir dalam berbagai bentuk.
Melalui sentuhan tangan dan ketulusan niatnya, ia berusaha menebarkan harapan bagi mereka yang sedang berjuang memulihkan kesehatan.
"Semoga kemampuan saya ini bisa bermanfaat bagi orang lain dan menjadi tabungan pahala bagi saya dan keluarga," pungkas Winarto.