Contoh Modul Ajar Informatika Berbasis HOTS dan AI untuk Jenjang SMP Kurikulum Merdeka 2026
Siti Umnah June 05, 2026 01:27 PM

SRIPOKU.COM - Mata pelajaran Informatika pada Kurikulum Merdeka tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) bukan lagi sekadar belajar cara mengetik atau menyalakan komputer.

Lebih dari itu, fokus utama mapel ini adalah mengasah Kemampuan Berpikir Komputasional (Computational Thinking).

Untuk menciptakan suasana kelas yang inovatif, integrasi teknologi Artificial Intelligence (AI) dan penguatan Higher Order Thinking Skills (HOTS) menjadi kunci utama.

Baca juga: Contoh Modul Ajar IPAS Berbasis HOTS dan AI untuk Jenjang SD Kurikulum Merdeka 2026

Berikut adalah contoh Modul Ajar Informatika berbasis HOTS dan AI untuk SMP yang dapat Bapak/Ibu Guru adaptasi untuk menyambut tahun ajaran baru.

Mengapa Pembelajaran Informatika Harus Melibatkan AI dan HOTS?

Informatika adalah hulu dari perkembangan teknologi saat ini, termasuk AI.

Mengajarkan Informatika dengan metode ceramah konvensional tentu sudah tidak relevan bagi generasi digital native.

Dengan memanfaatkan platform AI (seperti chatbot edukasi atau generator kode), guru dapat mendemonstrasikan logika teknologi secara nyata.

Sementara itu, pendekatan HOTS melatih siswa SMP untuk tidak hanya menjadi pengguna (user) teknologi yang pasif, melainkan mampu menganalisis keamanan data, mengevaluasi validitas informasi, hingga merancang solusi algoritma sederhana atas masalah di sekitar mereka.

Contoh Modul Ajar Informatika SMP Berbasis HOTS dan AI

Berikut adalah cuplikan modul ajar untuk Fase D (Kelas 7 atau 8) pada elemen Dampak Sosial Informatika dengan topik "Etika Digital, Keamanan Data, dan Deteksi Hoaks Berbasis AI".

A. Informasi Umum

  • Instansi: SMP Negeri [Nama Sekolah]
  • Fase / Kelas: D / VIII (Delapan)
  • Elemen: Dampak Sosial Informatika (DSI)
  • Alokasi Waktu: 2 JP (2 X 40 menit)
  • Profil Pelajar Pancasila: Bernalar Kritis, Kreatif, dan Mandiri.

B. Kompetensi Inti

Capaian Pembelajaran (CP): Peserta didik mampu memahami konsekuensi logis dari keberadaan AI, mengevaluasi informasi digital, serta menerapkan etika dan keamanan dalam beraktivitas di dunia maya.

Tujuan Pembelajaran:

  • Melalui analisis kasus rekayasa digital (Deepfake/AI Generated), siswa mampu mengevaluasi validitas sebuah informasi digital secara kritis. (HOTS - C5)
  • Siswa dapat merancang panduan cyber security sederhana untuk melindungi data pribadi di media sosial dari ancaman kejahatan siber. (HOTS - C6)

Alur Kegiatan Pembelajaran (Pendekatan Deep Learning)

1. Kegiatan Pembuka (15 Menit)

  • Guru membuka pembelajaran dengan menunjukkan sebuah video pendek atau foto tokoh terkenal. Guru kemudian mengungkap fakta bahwa video/foto tersebut 100 persen palsu, dibuat menggunakan teknologi AI Deepfake.
  • Pertanyaan Pemantik (HOTS): "Jika teknologi AI sekarang bisa meniru wajah dan suara siapa saja dengan sangat mirip, apa bahayanya bagi keamanan data kita? Bagaimana cara kita membedakan mana berita yang asli dan mana yang hasil manipulasi AI?"

2. Kegiatan Inti (50 Menit)

  • Eksplorasi Kasus (Bernalar Kritis): Siswa dibagi ke dalam kelompok kecil. Setiap kelompok diberikan cetakan atau tautan berisi tangkapan layar berita hoaks lokal yang sempat viral (misalnya hoaks terkait infrastruktur kota atau isu kesehatan).
  • Pemanfaatan AI dalam Kelas: Guru mendemonstrasikan cara menggunakan alat bantu AI atau situs Fact-Checking resmi untuk melacak keaslian gambar dan data (misalnya Google Reverse Image Search atau chatbot cek hoaks). Siswa mencoba mempraktikkannya secara mandiri menggunakan gawai atau komputer laboratorium.
  • Diskusi Kelompok (HOTS): Siswa menganalisis dampak psikologis dan hukum (UU ITE) jika seseorang ikut menyebarkan berita hasil manipulasi AI tersebut tanpa menyaringnya terlebih dahulu.

3. Kegiatan Penutup (15 Menit)

  • Setiap kelompok memberikan kesimpulan berupa satu kalimat slogan "Saring Sebelum Sharing" versi mereka.
  • Guru melakukan refleksi dan menegaskan bahwa di era AI, kecerdasan nalar manusia (human intelligence) tetap memegang kendali penuh atas validitas informasi.

Contoh Instrumen Asesmen HOTS (Studi Kasus)

Untuk menguji kemampuan berpikir kritis siswa pada materi Informatika ini, berikut contoh soal yang bisa diterapkan:

Studi Kasus:

Rian menerima pesan berantai di grup WhatsApp berupa file dengan ekstensi .APK yang dinamai "Undangan Foto Digital Berbasis AI". Pengirimnya mengklaim bahwa jika file itu dibuka, wajah Rian akan otomatis diubah menjadi animasi keren oleh sistem AI.

Pertanyaan (HOTS):

Berdasarkan prinsip keamanan data digital (Cyber Security), analisislah langkah paling bijak yang harus diambil Rian beserta alasan logisnya!

Pilihan Jawaban:

A. Langsung mengunduh dan menginstalnya karena penasaran dengan kecanggihan AI tersebut.

B. Meneruskan (forward) pesan tersebut ke teman dekat untuk meminta pendapat mereka terlebih dahulu.

C. Menghapus pesan tersebut dan tidak menginstalnya, karena ekstensi .APK dari sumber tidak dikenal berpotensi sebagai malware pencuri data pribadi (Phishing). (Kunci Jawaban)

D. Mengunduhnya menggunakan HP orang lain agar data pribadi Rian sendiri tetap aman.

Tips Modifikasi untuk Guru Informatika SMP

  • Gunakan AI sebagai Mitra Diskusi: Saat mengajar materi algoritma atau pemrograman dasar (seperti Scratch atau Python), guru bisa meminta siswa menggunakan AI untuk mendeteksi letak kesalahan (debugging) pada kode yang mereka buat, lalu meminta siswa menjelaskan mengapa kesalahan itu terjadi.
  • Kontekstual: Angkatlah isu-isu digital yang dekat dengan keseharian anak SMP, seperti algoritma fyp media sosial, privasi akun game online, atau kecanduan gawai, agar pembelajaran terasa lebih hidup dan bermakna.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.