Daftar Barang yang Berpotensi Naik Harga Saat Rupiah Terus Melemah, Tembus Rp 18.037 per Dolar AS
SERAMBINEWS.COM - Rupiah kembali berada dalam tekanan dan mencatat posisi terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan Jumat (5/6/2026) pagi, rupiah menyentuh level Rp 18.037 per dolar AS.
Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 63 poin atau sekitar 0,35 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir membuat rupiah terus bergerak di zona rendah dan memunculkan kekhawatiran terhadap berbagai sektor ekonomi.
Kondisi ini tidak hanya menjadi perhatian pelaku pasar keuangan, tetapi juga masyarakat umum karena berpotensi memengaruhi harga barang, biaya hidup, hingga aktivitas dunia usaha.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan Dampak Utang Masih Terkendali
Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, maka biaya untuk membeli produk dari luar negeri otomatis menjadi lebih mahal.
Perusahaan yang mengimpor bahan baku, mesin produksi, komponen elektronik, maupun berbagai barang konsumsi harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk mendapatkan jumlah dolar yang sama.
Kenaikan biaya impor tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi.
Dalam banyak kasus, kenaikan biaya produksi akhirnya diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang dan jasa di pasar.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pada produk impor.
Barang yang diproduksi di dalam negeri pun bisa mengalami kenaikan harga apabila proses produksinya masih bergantung pada bahan baku, mesin, teknologi, atau transaksi yang menggunakan mata uang dolar AS.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.900 per Dollar AS, Cetak Rekor Terlemah di Tengah Gejolak Global
Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dalam beberapa bulan terakhir terjadi secara cukup signifikan.
Menurutnya, depresiasi rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap sebagian besar mata uang dunia.
"Dalam periode yang sama, rupiah melemah terhadap 86 persen mata uang di dunia. Rupiah juga melemah terhadap seluruh mata uang utama di ASEAN, meliputi SGD, THB, MYR, VND, dan PHP," ujar Wijayanto dikutip via Kompas.com, Kamis (4/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan tekanan yang dialami rupiah relatif lebih besar dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Padahal, beberapa mata uang negara tetangga justru berhasil menguat terhadap dolar AS dalam periode yang sama.
"Bahkan SGD, MYR, dan VND menguat terhadap dollar AS pada periode tersebut," kata dia.
Menurut Wijayanto, tingginya nilai tukar dolar AS dapat menjadi tantangan besar bagi dunia usaha dan aktivitas ekonomi nasional.
Tekanan terhadap rupiah bahkan diperkirakan masih berpotensi berlanjut hingga tahun 2027 apabila berbagai faktor fundamental ekonomi belum mengalami perbaikan yang memadai.
Baca juga: Rupiah Sentuh Rp17.900 per Dollar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah
Pelemahan rupiah umumnya akan berdampak pada meningkatnya tekanan inflasi.
Wijayanto menjelaskan bahwa setiap depresiasi rupiah sebesar 10 persen dapat mendorong inflasi sekitar 0,5 hingga 1 persen.
Kenaikan inflasi tersebut berpotensi menyebabkan berbagai kebutuhan masyarakat menjadi lebih mahal.
Mulai dari kebutuhan sehari-hari, produk konsumsi rumah tangga, hingga barang-barang bernilai besar dapat mengalami penyesuaian harga.
Selain masyarakat perkotaan, warga di pedesaan juga berisiko merasakan dampak yang cukup besar akibat kenaikan harga tersebut.
Bahkan dalam jangka panjang, daya beli masyarakat dapat mengalami penurunan apabila kenaikan pendapatan tidak mampu mengimbangi laju kenaikan harga barang dan jasa.
Baca juga: Rupiah Anjlok: Siapakah yang Paling Rentan?
Menurut Wijayanto, hampir seluruh sektor ekonomi akan terdampak jika pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu lama.
Namun terdapat sejumlah kelompok barang yang dinilai lebih rentan mengalami kenaikan harga dibandingkan sektor lainnya.
Kelompok tersebut meliputi:
Produk elektronik
Pakaian
Barang konsumsi cepat saji atau Fast Moving Consumer Goods (FMCG)
Material bangunan
Produk otomotif
"Barang elektronik, pakaian, FMCG, bangunan, dan otomotif. Hampir semua terkena dampak," kata Wijayanto.
Produk elektronik menjadi salah satu sektor yang paling sensitif karena sebagian besar komponennya masih berasal dari luar negeri.
Demikian pula industri otomotif yang masih menggunakan banyak komponen impor dalam proses produksinya.
Sementara itu, sektor konstruksi dan properti berpotensi menghadapi kenaikan biaya pembangunan akibat meningkatnya harga material bangunan.
Baca juga: Kilas Balik 21 Mei 1998: Saat Rupiah Anjlok, Harga Sembako Melonjak, Soeharto Akhirnya Mundur
Wijayanto menilai dampak pelemahan rupiah tidak selalu dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Kelompok masyarakat di wilayah pedesaan justru dinilai menghadapi risiko yang lebih besar.
Menurutnya, keterbatasan akses informasi, edukasi keuangan, serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan ekonomi membuat masyarakat desa menjadi kelompok yang paling rentan.
"Masyarakat desa justru paling terdampak. Mereka tidak mempunyai akses dan pengetahuan untuk merespons dan mengantisipasi. Posisi mereka menjadi pure price taker atau kelompok yang paling rentan dan paling sulit beradaptasi," ujarnya.
Selain itu, petani dan peternak juga berpotensi menghadapi tekanan tambahan karena biaya produksi meningkat lebih cepat dibandingkan kenaikan harga jual hasil usaha mereka.
Pelemahan rupiah juga berdampak langsung pada masyarakat yang memiliki kebutuhan transaksi dalam mata uang asing.
Biaya pendidikan di luar negeri berpotensi meningkat karena pembayaran uang kuliah, biaya hidup, dan kebutuhan lainnya menggunakan mata uang asing.
Demikian pula biaya perjalanan wisata ke luar negeri yang menjadi lebih mahal akibat meningkatnya nilai tukar dolar AS.
Kondisi tersebut dapat membuat sebagian masyarakat memilih menunda rencana studi maupun perjalanan internasional sampai kondisi nilai tukar lebih stabil.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.600 Per Dolar AS, Harga Tahu, Tempe Hingga Mi Instan Terancam Naik
Dari sisi bisnis, pelemahan rupiah tidak hanya meningkatkan biaya impor, tetapi juga dapat memicu kenaikan biaya pendanaan.
Apabila suku bunga naik untuk menjaga stabilitas ekonomi, maka biaya pinjaman perusahaan juga ikut meningkat.
Kondisi tersebut berpotensi menekan ekspansi usaha dan memperbesar risiko kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).
Sektor yang sangat bergantung pada pembiayaan konsumen seperti properti, kendaraan bermotor, dan produk konsumsi lainnya berisiko mengalami perlambatan permintaan.
Meski demikian, tidak semua sektor mengalami dampak negatif.
Eksportir komoditas seperti batu bara, minyak sawit mentah (CPO), dan nikel justru berpotensi memperoleh keuntungan karena pendapatan mereka menggunakan dolar AS.
Sebaliknya, industri elektronik, farmasi, otomotif, serta sebagian industri makanan yang mengandalkan bahan baku impor menghadapi tekanan biaya yang lebih besar.
Tekanan akibat pelemahan rupiah juga dirasakan oleh pemerintah.
Wijayanto menjelaskan bahwa sekitar 25 persen utang pemerintah masih menggunakan denominasi valuta asing.
Akibatnya, ketika rupiah melemah, nilai kewajiban pembayaran utang dalam mata uang asing ikut meningkat.
Ia memperkirakan pelemahan rupiah sepanjang 2026 dapat menambah beban utang pemerintah hingga sekitar Rp 175 triliun.
Selain itu, pemerintah juga berpotensi menghadapi tantangan yang lebih besar dalam menerbitkan surat utang berdenominasi rupiah.
Tekanan terhadap APBN juga dapat meningkat apabila pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak dunia.
Menurut Wijayanto, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel berpotensi meningkatkan defisit APBN sekitar Rp 6,8 triliun.
Sementara itu, setiap pelemahan rupiah sebesar 10 persen terhadap dolar AS dapat menambah defisit APBN hingga sekitar Rp 60 triliun.
"Kombinasi kenaikan harga minyak, depresiasi rupiah, dan pelemahan daya beli akan meningkatkan defisit APBN," jelasnya.
Di sisi lain, risiko imported inflation atau inflasi akibat kenaikan harga barang impor juga semakin besar.
Kondisi tersebut dapat membuat harga berbagai kebutuhan masyarakat terus meningkat dalam beberapa waktu ke depan.
Baca juga: Rupiah Dibuka Menguat ke Rp 17.383 per Dolar AS, IHSG Ikut Menghijau
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi, Bank Indonesia berpotensi mengambil langkah penyesuaian kebijakan moneter.
Salah satu opsi yang dapat dilakukan adalah menaikkan suku bunga acuan.
"BI harus mengantisipasi dengan menaikkan BI Rate atau SRBI Rate, sehingga imbal hasil SBN juga akan ikut terdongkrak," ujar Wijayanto.
Menurutnya, langkah paling penting saat ini adalah memperbaiki faktor-faktor yang menjadi penyebab utama pelemahan rupiah.
"Pemerintah perlu segera mengobati sebab pelemahan rupiah, bukan hanya fokus pada gejalanya semata," ujarnya.
Ia menilai penguatan neraca pembayaran, perbaikan strategi fiskal, serta komunikasi kebijakan yang lebih efektif menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat nilai tukar rupiah dalam jangka panjang.
Baca juga: Rupiah Melemah, Haruskah Tabungan Dipindah ke Dollar AS atau Emas?
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)