Di Tengah Polemik MBG, Jajang di Ciamis Justru Rasakan Manfaat: Kini Bisa Nabung untuk Nikah
ferri amiril June 05, 2026 02:35 PM

 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Di tengah polemik yang menerpa program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara nasional, cerita berbeda datang dari Kabupaten Ciamis.

Program yang menjadi sorotan itu justru membawa perubahan bagi sebagian masyarakat, salah satunya Jajang Nurjaman (25).

Warga Dusun Citutut, Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis itu mengaku kehidupannya mulai berubah setelah menjadi relawan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program MBG.

Sudah sekitar tujuh bulan terakhir, Jajang bekerja sebagai petugas pencuci ompreng atau wadah makanan yang digunakan dalam program tersebut.

Setiap hari, ia bekerja mulai pukul 13.00 WIB hingga sekitar pukul 21.00 WIB bersama relawan lainnya di dapur MBG wilayah Cijeungjing.

Baca juga: Kandang Ayam Disusupi Predator, Ular Sanca 2,2 Meter Dievakuasi Damkar Ciamis

Sebelum bergabung dengan program tersebut, Jajang mengaku hanya mengandalkan pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ia pernah bekerja di jasa sablon dan membuka bengkel kecil di rumah. Namun penghasilan yang diperoleh saat itu tidak menentu.

"Dulu mah serabutan, penghasilannya tidak pasti. Kadang ada, kadang tidak ada sama sekali," ujar Jajang, Jumat (5/6/2026).

Jajang mengaku tidak sempat menyelesaikan pendidikan hingga lulus SMP. 

Kondisi itu membuatnya cukup kesulitan mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan tetap.

Saat mendengar adanya pembukaan relawan dapur MBG di wilayahnya, ia langsung mencoba mendaftarkan diri.

Namun, setelah menyerahkan berkas lamaran, ia harus menunggu sekitar tiga bulan tanpa kabar.

"Saya sempat berpikir tidak diterima. Ternyata suatu hari dihubungi lewat WhatsApp untuk ikut seleksi. Alhamdulillah lolos," katanya.

Kini, setiap bulan Jajang menerima penghasilan sekitar Rp 2,4 juta.

Menurutnya, penghasilan tersebut jauh lebih baik dibandingkan saat dirinya mengandalkan pekerjaan serabutan.

"Kalau sekarang lebih jelas. Ada penghasilan tetap setiap bulan, jadi bisa mengatur kebutuhan sehari-hari. Sedikit-sedikit juga bisa membantu renovasi rumah orang tua," ucapnya.

Tak hanya itu, penghasilan yang diterimanya saat ini membuat Jajang mulai berani menyusun rencana masa depan.

Ia mengaku tengah menabung untuk biaya pernikahan.

"Sekarang lagi nabung buat nikah. Dulu waktu masih serabutan rasanya susah punya target karena penghasilannya tidak menentu," katanya sambil tersenyum.

Sebelum bekerja di program MBG, Jajang juga sempat merantau ke Kalimantan Tengah selama enam bulan.

Di perantauan, ia bekerja membuat batako dan sesekali menjadi pekerja di perkebunan kelapa sawit.

Namun karena jauh dari keluarga dan penghasilannya dinilai tidak sesuai harapan, ia memutuskan kembali ke kampung halaman.

"Merantau pernah ke Kalimantan. Kerja batako dan sawit sekitar enam bulan. Tapi akhirnya pulang lagi ke Ciamis," ujarnya.

Meski sudah bekerja sebagai relawan MBG, Jajang tetap menjalankan usaha tambal ban dan bengkel kecil miliknya pada pagi hingga siang hari sebelum berangkat bekerja.

Ia berharap program MBG tetap berjalan karena manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Harapan saya program ini terus berlanjut. Bukan hanya membantu penerima manfaat, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga seperti saya," katanya.

Sementara itu, orang tua Jajang, Ining, mengaku bersyukur anaknya kini memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang lebih pasti.

Menurutnya, sebelum bekerja di dapur MBG, pendapatan Jajang sering kali tidak menentu karena bergantung pada pekerjaan serabutan.

"Alhamdulillah sekarang ada penghasilan tetap. Sebagai orang tua tentu senang karena anak bisa lebih mandiri," ujar Ining.

Ia mengatakan, kemampuan memperbaiki motor yang dimiliki Jajang diperoleh secara otodidak sejak kecil dengan belajar dari ayahnya.

"Anak saya memang rajin bekerja. Dari kecil suka ikut di bengkel dan belajar sendiri. Makanya sekarang bisa membuka bengkel di rumah," katanya.

Ining berharap program MBG dapat terus berlanjut karena manfaatnya dirasakan banyak masyarakat, tidak hanya siswa penerima makanan bergizi tetapi juga warga yang bekerja di dalam program tersebut.

"Mudah-mudahan programnya terus ada. Banyak warga yang merasakan manfaatnya, termasuk anak saya," pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.