Teduhkan Hati dan Pikiran dengan Kalimat Tayyibah, UMI Menyongsong Masa Depan Kampus Digital
Ari Maryadi June 05, 2026 03:07 PM

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Civitas Akademika Universitas Muslim Indonesia (UMI), mengawali rutinitas pagi dengan zikir dan doa, Jumat (5/6/2026).

Kegiatan keagamaan pada pekan pertama Juni 2026 ini, sudah menjadi agenda rutin UMI tiap bulannya.

Tujuannya, merawat kejernihan hati dan pikiran dalam menjalin silaturahim antar sesama civitas akademika UMI.

Mahasiswa, pengurus BEM, dosen, pimpinan fakultas, rektorat hingga yayasan, berbaur dalam satu ruangan yang sama.

Mereka "duduk sama rendah, berdiri sama tinggi" melantunkan kalimat-kalimat "Tayyibah" (pujian kepada sang pencipta).

Tak ada sekat, di dalam Gelanggang Olahraga (GOR) UMI yang berlokasi di kampus II UMI Jl Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakkukang, Makassar, Sulawesi Selatan, itu.

Semua duduk berlesehan sembari mengucap tasbih, tahmid, takbir, tahlil dan salawat dengan khusyuk di gedung berkapasitas 3000 orang itu.

Pada momentum kekeluargaan ini, UMI memberikan penghargaan kepada dosen dan mahasiswa berprestasi dan mengharumkan nama perguruan tinggi di berbagai event.

Rangkaian acara semakin semarak dengan pemutaran film karya ke empat UMI, berjudul "Pura-pura Cinta".

Film itu disutradarai Syahrir Arsyad atau Rere Art2tonic dan produser Wakil Rektor II UMI Prof Dr H Zakir Sabara.

Rektor UMI, Prof Hambali Thalib, mengatakan, rangkaian kegiatan ini, bukan sekadar agenda rutin bulanan, melainkan momentum penting untuk merefleksi perjalanan institusi.

Menurutnya, refleksi diperlukan untuk melihat capaian yang telah diraih dengan penuh rasa syukur.

Sekaligus menilai kondisi internal secara jujur, dan menyusun langkah masa depan dengan penuh harapan.

"Hari ini adalah momentum refleksi. Momentum untuk melihat ke belakang dengan rasa syukur. Melihat ke dalam dengan kejujuran. Dan melihat ke depan dengan penuh harapan," ujarnya saat sambutan.

Bagi Prof Hambali, setiap institusi besar, memiliki tahapan perkembangan yang menentukan arah masa depannya.

Mulai dari masa membangun, mempercepat pertumbuhan, memperluas pengaruh, hingga memasuki fase konsolidasi menghadapi berbagai tantangan secara bersamaan.

Mendapat amanah sebagai Pelaksana Tugas Rektor pada 28 September 2024 dan ditetapkan sebagai rektor definitif pada 27 Desember 2024, membuat Prof Hambali tak jumawa.

Guru Besar Hukum UMI ini, mengaku sadar betul atas tanggung jawab jabatan yang diamanahkan terhadap dirinya.

"Pada saat itu yang harus dijaga bukan hanya administrasi universitas. Yang harus dijaga adalah ketenangan hati banyak orang, kepercayaan masyarakat, dan nama baik UMI yang telah dibangun para pendiri dan para pendahulu selama lebih dari tujuh dekade," sebutnya.

Awal mengemban amanah, Prof Hambali mengaku harus menghadapi beragam opini, persepsi, harapan, dan kekhawatiran yang berkembang secara bersamaan.

Pada kondisi itu, kepemimpinan seorang rektor dituntut untuk menghadirkan ketenangan dan kepastian bagi seluruh keluarga besar kampus.

"Ada yang harus dijawab dengan kerja keras, ada yang diselesaikan dengan kesabaran, ada yang ditunjukkan melalui keteladanan, dan ada pula yang hanya bisa diserahkan dalam doa," terangnya.

Olehnya itu, Prof Hambali mengatakan, prioritas utama yang harus dilakukan yaitu memastikan aktivitas akademik tetap berjalan normal, dosen tetap mengajar, mahasiswa tetap belajar, dan orang tua tetap percaya menitipkan pendidikan anak-anak mereka kepada UMI.

Setelah stabilitas terjaga, pihaknya memasuki fase konsolidasi dengan menyatukan seluruh kekuatan dan energi besar yang dimiliki UMI, mulai dari yayasan, senat akademik, pimpinan universitas, fakultas, lembaga, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga alumni.

"Setelah itu kami masuk pada fase konsolidasi. Kami mencoba menyatukan energi besar UMI. Energi Yayasan, energi Senat Akademik, energi pimpinan universitas, fakultas, Lembaga, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga alumni," terangnya

Prof Hambali menyebut banyak pekerjaan mendasar yang telah dilakukan, termasuk menyelaraskan Statuta UMI 2024 dengan penyusunan Renstra dan Renop UMI 2025–2029.

Juga menyusun rencana anggaran tahunan berbasis indikator kinerja utama dan akreditasi, memperkuat pengendalian keuangan, serta menata aset universitas bersama yayasan.

Selain itu, UMI juga mengembangkan budaya kerja berbasis ibadah dan menerapkan kebijakan larangan gratifikasi dalam bentuk apa pun guna memperkuat tata kelola kelembagaan.

"Karena kami percaya bahwa Universitas besar tidak boleh dibangun berdasarkan kebiasaan. Universitas besar harus dibangun berdasarkan sistem," tuturnya.

Salah satu agenda besar yang sedang dijalankan UMI saat ini adalah transformasi digital melalui penyusunan Master Plan Digital UMI 2025–2029 yang dirancang bersama mitra global dari Tiongkok.

"Kita sedang membangun fondasi ekosistem digital yang kami beri nama UMI CONNECTION yang merupakan Sebuah sistem yang akan mengintegrasikan akademik, keuangan, SDM, penelitian, kemahasiswaan, infrastruktur, dashboard pimpinan, kecerdasan buatan, hingga smart campus," tukasnya.

Kampus masa depan, lanjutnya, tidak cukup hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga harus membangun sistem yang mampu menciptakan peradaban dan menjawab tantangan zaman.

Berbagai upaya yang dilakukan mulai menunjukkan hasil positif melalui peningkatan publikasi ilmiah, penguatan skor SINTA, bertambahnya jurnal terindeks GARUDA, serta meningkatnya pendanaan penelitian.

"Alhamdulillah. Berbagai ikhtiar mulai menunjukkan hasil. Publikasi ilmiah meningkat, skor SINTA menguat, jurnal-jurnal UMI semakin banyak terindeks GARUDA, dan pendanaan penelitian terus bertambah," imbuhnya.

Reputasi UMI dalam berbagai pemeringkatan dunia seperti Webometrics, EduRank, dan UniRank juga disebut mengalami tren peningkatan yang menggembirakan dalam beberapa tahun terakhir.

Selain itu, prestasi mahasiswa semakin berkembang, jejaring kerja sama internasional terus meluas, dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap UMI menunjukkan pertumbuhan yang positif.

"Prestasi mahasiswa semakin membanggakan, kolaborasi internasional semakin luas, dan yang paling penting, kepercayaan masyarakat kepada UMI terus tumbuh," paparnya.

Meski demikian, Prof Hambali mengingatkan, seluruh capaian tersebut tidak boleh membuat civitas akademika merasa puas karena tantangan yang lebih besar justru berada di depan.

Ia bilang, perkembangan kecerdasan buatan akan mengubah cara manusia belajar, bekerja, mengajar, melakukan penelitian, hingga menciptakan nilai ekonomi dalam dunia pendidikan tinggi.

Apalagi arah transformasi UMI ke depan harus berfokus pada penguatan kampus digital, pengelolaan data, pemanfaatan kecerdasan buatan, penjaminan mutu, keberlanjutan, dan nilai-nilai kemanusiaan tanpa meninggalkan jati diri keislaman.

"Kampus tidak lagi hanya bersaing dengan kampus tetangga, kampus dalam satu kota, atau bahkan kampus dalam satu negara. Kita akan bersaing dengan institusi-institusi terbaik dunia yang dapat menjangkau mahasiswa melalui platform digital tanpa mengenal batas geografis," ungkapnya.

Dalam rangka Milad ke-72 UMI, berbagai kegiatan strategis telah dipersiapkan.

Termasuk penyelenggaraan konferensi internasional yang menghadirkan akademisi dan ilmuwan dari berbagai negara.

"Alhamdulillah. Dalam rangka Milad ke-72 UMI, berbagai kegiatan telah disiapkan oleh Wakil Rektor 1 sebagai ketua panitia, kita akan menyelenggarakan International Conference yang menghadirkan para akademisi dan ilmuwan dari berbagai negara," ucapnya 

UMI juga merencanakan penandatanganan nota kesepahaman dengan BRIN sebagai bagian dari upaya memperluas kolaborasi dan memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan bangsa.

Senada dengan Prof Hambali, Ketua Yayasan Wakaf UMI, Masrurah Mokhtar, juga berharap UMI terus berkembang dan semakin maju memasuki usia ke-72 tahun.

Ia mengatakan zikir dan doa bersama menjadi bentuk komitmen seluruh keluarga besar UMI untuk tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam di tengah berbagai perubahan zaman.

"Semuanya sempat berubah, perekonomian, tradisi. Zikir dan doa kita lakukan sebagai bentuk komitmen dalam memegang prinsip-prinsip islam," harap Prof Masrurah.

"Mari kita menjaga persatuan kita bagaimana UMI dalam menghadapi situasi yang serba canggih ini agar tetap dijamah oleh nilai-nilai islam," lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof Mansyur Ramly, mengingatkan pentingnya keseimbangan dalam mengadopsi teknologi informasi di tengah perubahan yang sangat cepat.

Ia mengajak seluruh civitas akademika untuk tidak melupakan jasa para pendiri dan pendahulu UMI yang telah meletakkan fondasi kampus hingga berkembang seperti saat ini.

"Tapi lebih khusus mari kita doakan para pendiri UMI, kita tidak ada di sini tanpa mereka. Kita tidak ada sekarang tanpa pendahulu kita," kata Prof Mansyur Ramly.

Menurutnya, penghormatan terhadap sejarah dan para pendahulu menjadi modal penting untuk memastikan arah masa depan UMI tetap berada pada jalur yang benar.

"Kita ingin menjadikan UMI kampus berbasis IT yang mungkin insyaallah terbaik di kawasan Indonesia Timur atau diluar pulau Jawa. Kita doakan," imbuhnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.