MAKASSAR – Piala Dunia 2026 semakin dekat untuk digelar.
Total 48 negara akan bersaing memperebutkan gelar terbaik pada edisi ke-23 turnamen sepak bola terbesar dunia tersebut.
Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada akan menjadi tuan rumah bersama untuk ajang yang berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026.
Menjelang dimulainya Piala Dunia, mantan Asisten Pelatih PSM Makassar, Budiardjo Thalib, mengenang kembali momen empat dekade silam.
Pada tahun 1986, Piala Dunia diselenggarakan di Meksiko.
Saat itu, Budiardjo yang berusia 16 tahun menyaksikan laga final antara dua kekuatan besar sepak bola dunia: Jerman Barat dan Argentina.
Skuad Jerman Barat diperkuat oleh Harald Schumacher, Thomas Berthold, Andreas Brehme, Klaus Augenthaler, Lothar Matthäus, serta Rudi Völler.
Sementara di pihak Argentina, ada nama-nama besar seperti Diego Armando Maradona, Jorge Valdano, Julio Olarticoechea, Daniel Ruggeri, Jorge Burruchaga, dan Daniel Passarella.
Pada pertandingan itu, Argentina berhasil keluar sebagai juara setelah menundukkan Jerman Barat dengan skor 3-2.
Sejak saat itulah, Budiardjo menjadi pendukung setia Argentina dan Jerman di setiap edisi Piala Dunia hingga kini.
“Dua tim favorit saya tidak pernah berubah, Jerman dan Argentina,” ujarnya saat dihubungi pada Jumat (5/6/2026).
Dari sepuluh kali Piala Dunia yang ia ikuti, Budiardjo menyebut momen paling berkesan adalah edisi 2014 di Brasil.
Terutama ketika Jerman mempermalukan tuan rumah Brasil dengan kemenangan telak 7-1.
Tidak hanya itu, final tahun tersebut juga mempertemukan dua tim favoritnya, Jerman dan Argentina.
Pada laga puncak itu, Jerman akhirnya menjadi juara dunia setelah menundukkan Argentina dengan skor 1-0.
Gol tunggal kemenangan dicetak oleh Mario Götze pada menit ke-113.
“Yang paling berkesan tentu kemenangan Jerman di kandang Brasil tahun 2014 dengan skor 7-1,” kenang mantan pelatih Persik Kediri tersebut.
Budiardjo meyakini, baik Jerman maupun Argentina akan kembali tampil kuat di Piala Dunia 2026.
Menurutnya, Der Panzer memiliki deretan pemain muda dengan mental tangguh, sementara Argentina selalu dikenal dengan semangat juang yang tak kenal menyerah.
“Tim seperti Argentina, dengan Lionel Messi dan rekan-rekannya, selalu bisa bangkit dan membalikkan keadaan,” jelasnya.
“Jerman dan Argentina sama-sama punya mental juara,” tambahnya.
Budiardjo menilai pemain kunci bagi Jerman saat ini adalah penyerang Arsenal, Kai Havertz.
Havertz berperan penting dalam keberhasilan Arsenal meraih gelar juara Liga Inggris setelah penantian 22 tahun, dan mental juara itu diharapkan terbawa ke tim nasional.
Sementara untuk Argentina, sang kapten Lionel Messi tetap menjadi pembeda utama, didukung oleh gelandang Liverpool, Alexis Mac Allister.
“Pemain kunci Jerman adalah Havertz, sementara untuk Argentina tentu Messi dan Mac Allister,” ujarnya.
Lebih lanjut, Budiardjo menyebutkan bahwa pesaing utama Jerman dan Argentina datang dari Brasil, Spanyol, Belanda, serta Prancis.
Empat negara tersebut dianggap memiliki skuad dengan kualitas yang sangat baik.
“Brasil, Spanyol, Belanda, dan Prancis adalah tim-tim kuat dengan skuad yang hebat,” pungkasnya.