Harga Karet di Kuansing Semakin Perkasa, Tembus Rp 20.669 per Kilogram
Firmauli Sihaloho June 05, 2026 04:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM,KUANSING - Harga karet di tingkat lelang di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau kembali melambung.

Pada pekan ini, harga karet tembus Rp20.669 per kilogram atau naik Rp544 dibandingkan pekan lalu yang berada di angka Rp20.125 per kilogram.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kuansing, Andriyama Putra, Jumat (5/6/2026) mengatakan tingginya harga didorong oleh permintaan industri global yang kuat.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menjadi pendongkrak harga karet.

"Untuk di Kuansing, kualitas karet masuk KKK 60 persen. Jika kualitas ditingkatkan lagi menjadi KKK 100 persen, tentunya akan semakin mahal," ujarnya.

Meski harga tinggi namun produksi karet harian masih di angka 8 ton per hari.

"Menurunnya produksi karet disebabkan cuaca ekstrem. Suhu panas yang terjadi beberapa pekan belakangan membuat getah karet sedikit, ujarnya.

Selain cuaca, alih fungsi lahan karet menjadi tanaman sawit juga menjadi salah satu faktornya.

Baca juga: Teror Pocong Jadi-jadian Kembali Terjadi di Pekanbaru, Pelaku Naik Teras Hendak Matikan Saklar Lampu

Baca juga: 84 SPPG di Bengkalis Distribusikan MBG Seperti Biasa, Belum Ada Kendala Pencairan Dana

Masyarakat yang memiliki kebun karet diminta untuk tetap mempertahankan tanaman karetnya meskipun harga karet kerap mengalami fluktuasi.

Menurutnya, keberadaan dua komoditas perkebunan utama tersebut menjadi penyangga ekonomi masyarakat pedesaan.

Ketika salah satu komoditas mengalami penurunan harga, komoditas lainnya dapat menjadi sumber pendapatan alternatif bagi keluarga.

“Meski harga sawit saat ini tinggi dan harga karet masih rendah, masyarakat sebaiknya tetap mempertahankan kebun karet. Ini sebagai langkah berjaga-jaga jika suatu saat harga sawit kembali turun dan harga karet justru relatif stabil,” ujarnya.

Ia menilai pengalaman selama ini menunjukkan harga komoditas perkebunan sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar global.

Karena itu, ketergantungan hanya pada satu jenis komoditas berpotensi menimbulkan risiko ekonomi bagi masyarakat.

Selain sebagai sumber pendapatan, keberadaan kebun karet dan sawit secara bersamaan juga menciptakan keseimbangan ekonomi di tingkat rumah tangga.

Masyarakat memiliki pilihan sumber penghasilan sesuai kondisi harga pasar yang berlaku.

“Kalau kedua komoditas ini bisa dipertahankan, masyarakat akan lebih siap menghadapi perubahan harga global. Bahkan akan lebih baik lagi jika suatu saat harga karet dan sawit sama-sama mengalami kenaikan,” katanya.

Dengan tetap menjaga keberadaan kebun karet di tengah ekspansi sawit, masyarakat dinilai telah mempertahankan fondasi ekonomi keluarga sekaligus menjaga keberlanjutan sektor perkebunan di daerah.

"Pemerintah juga terus mendorong upaya peningkatan produktivitas perkebunan karet agar komoditas tersebut tetap memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan bagi petani," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.