Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) menyusun Buku Kesehatan Reproduksi Berdasarkan Siklus Hidup sebagai referensi untuk membantu masyarakat memahami kesehatan reproduksi.
Terkait penyusunan buku tersebut, kegiatan sosialisasi dan uji keterbacaan pun dilakukan untuk mengetahui sejauh mana isi buku dapat dipahami oleh pengguna sehingga dapat disempurnakan sebelum digunakan secara lebih luas.
"Buku ini disusun sebagai referensi untuk membantu masyarakat memahami kesehatan reproduksi sesuai dengan tahapan kehidupan masing-masing," kata Direktur Bina Kesehatan Reproduksi Kemendukbangga Riri Mutia Ichwan dalam keterangannya di Jakarta Selatan, Jumat.
Menurut dia, pendekatan kesehatan reproduksi tidak hanya ditujukan kepada kelompok usia subur, tetapi harus dipahami secara komprehensif sepanjang siklus hidup, mulai dari anak usia dini, remaja, dewasa, hingga lanjut usia.
Terlebih, sampai dengan saat ini, masih terdapat sejumlah tantangan dalam pemahaman dan praktik kesehatan reproduksi di masyarakat, di antaranya rendahnya literasi kesehatan reproduksi, masih berkembangnya mitos dan stigma, pernikahan usia dini, kehamilan yang tidak direncanakan, serta terbatasnya akses terhadap informasi dan layanan yang berkualitas.
"Ada juga pendekatan edukasi yang belum terintegrasi berdasarkan siklus hidup dinilai membuat berbagai intervensi yang dilakukan belum berjalan optimal dan berkelanjutan," ujar Riri.
Lebih lanjut, dia berharap Buku Kesehatan Reproduksi Berdasarkan Siklus Hidup itu dapat menjadi rujukan bagi pengelola program maupun masyarakat.
"Kami berharap sosialisasi dan uji keterbacaan buku kesehatan reproduksi berdasarkan siklus hidup ini dapat meningkatkan pemahaman serta membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan reproduksi pada setiap tahap kehidupan," tutur Riri.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Jakarta Selatan Rizky Hamid mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut dan berharap materi yang disampaikan dapat diteruskan kepada masyarakat secara luas.
"Kami sangat senang dan mengucapkan terima kasih kepada Kemendukbangga yang telah menginisiasi kegiatan ini. Peserta juga terlihat antusias dan menyimak dengan baik materi yang disampaikan oleh para narasumber," ungkap Rizky.
Sebanyak 40 peserta mengikuti sosialisasi dan uji keterbacaan materi kesehatan reproduksi berdasarkan siklus hidup yang digelar di aula Gedung Suku Dinas PPAPP Jakarta Selatan.
Para peserta itu terdiri dari Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) kelurahan, petugas Pelayanan Keluarga Terpadu (PKT) kecamatan, kader kesehatan kelurahan, Forum Anak, Forum Generasi Berencana (Genre), pengurus sekolah lansia, serta peserta didik sekolah lansia.





