Pelatih asal Belgia, Hugo Broos, menjadi tokoh kunci di balik keberhasilan Tim Nasional Afrika Selatan memastikan tempat di Piala Dunia 2026.
Broos dikenal sebagai salah satu pelatih paling berpengalaman yang tampil di turnamen tersebut.
Pada usia 74 tahun, ia sukses membawa Afrika Selatan kembali tampil di ajang paling bergengsi dunia setelah absen cukup lama.
Sebelum berkarier sebagai pelatih, Broos terlebih dahulu dikenal sebagai pemain yang pernah memperkuat Tim Nasional Belgia.
Karier kepelatihannya dimulai di Belgia, di mana ia menukangi sejumlah klub besar seperti Club Brugge, Anderlecht, dan Genk dengan hasil yang gemilang.
Prestasi di level klub membuat Broos meraih penghargaan Pelatih Terbaik Belgia sebanyak empat kali sepanjang kariernya.
Namanya semakin dikenal di kancah internasional ketika menangani Tim Nasional Kamerun.
Puncak kejayaannya terjadi pada tahun 2017, saat ia memimpin Kamerun menjuarai Piala Afrika meski timnya tidak diunggulkan sejak awal turnamen.
Keberhasilan tersebut semakin memperkuat reputasi Broos sebagai pelatih yang mampu membangun tim tangguh dengan struktur permainan yang solid dan kompetitif.
Pada tahun 2021, Broos resmi ditunjuk untuk menangani Tim Nasional Afrika Selatan.
Meski sempat diragukan karena faktor usia, ia berhasil membawa perubahan besar bagi skuad Bafana Bafana melalui pendekatan disiplin dan keberanian memberi kesempatan kepada para pemain muda.
Kerja kerasnya mulai berbuah hasil ketika Afrika Selatan finis di posisi ketiga Piala Afrika 2023.
Momentum positif tersebut berlanjut ke babak kualifikasi Piala Dunia 2026, di mana mereka tampil konsisten.
Di bawah arahan Broos, Afrika Selatan berhasil menjadi juara Grup C zona Afrika dan mengamankan tiket ke putaran final.
Keberhasilan itu menegaskan posisi Hugo Broos sebagai salah satu pelatih paling berpengalaman yang patut diwaspadai di Piala Dunia 2026.
Dalam wawancara yang dikutip dari kanal YouTube Tribunnews pada Minggu (31/5/2026), pengamat sepak bola Adrian menyoroti padatnya jadwal pertandingan yang dijalani para pemain menjelang turnamen besar.
Menurut Adrian, jadwal kompetisi klub yang terlalu berdekatan dengan turnamen internasional berpotensi menimbulkan cedera akibat minimnya waktu pemulihan.
"Menurut saya, ini dapat meningkatkan risiko cedera pada pemain. Kita tentu berharap tidak ada pemain yang cedera selama turnamen, karena hal itu bisa memengaruhi kekuatan tim dan berdampak pada kualitas kompetisi secara keseluruhan," ujarnya.
(Laporan Jurnalis TribunWow.com – Peserta Magang STMIK Amikom Surakarta, Della Eka Prasetya)