Update Kasus Remaja Surabaya Tewas Dikeroyok Teman, Keluarga Minta Diusut Tuntas
Cak Sur June 05, 2026 05:32 PM

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Kasus kekerasan jalanan kembali memakan korban jiwa. Seorang remaja berinisial TJK (19) dilaporkan meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif akibat koma selama lima hari di RSUD dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur (Jatim).

Korban mengembuskan napas terakhirnya, setelah menjadi korban pengeroyokan oleh teman-temannya di kawasan Jalan Manukan Mukti, Surabaya pada Minggu (31/5/2026).

Kasus pengeroyokan remaja surabaya ini kini tengah ditangani secara intensif oleh aparat kepolisian setempat.

Baca juga: Remaja Surabaya Tewas Dikeroyok Teman Gara-Gara Sandal, Sempat Koma 5 Hari

Sosok TJK: Remaja Sopan dan Berprestasi yang Baru Lulus SMA

Kepergian TJK menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar tempat tinggalnya di Manukan Kulon.

Korban yang baru saja lulus dari sebuah SMA negeri di kawasan Jalan Manukan Madya Kota Surabaya, dikenal sebagai pribadi yang santun dan introvert.

Nia Sanjaya (38), tetangga sekaligus sahabat dekat mendiang ibu korban, membeberkan kepribadian baik TJK selama masa hidupnya.

Menurut Nia, korban tidak pernah membuat masalah dan selalu bersikap sopan kepada para tetangga sekitar.

"Kalau dengan pihak-pihak ibu-ibu yang ada di sini dia tuh sopan gitu loh. Ya sangat disayangkan sampai terjadi seperti ini gitu loh," kata Nia saat ditemui SURYA.co.id di dekat rumah duka pada Kamis (4/6/2026).

Nia menambahkan, bahwa TJK tidak pernah berbuat onar sewajarnya anak remaja pada umumnya.

"Setahu saya korban itu enggak pernah bikin masalah yang bagaimana sewajarnya anak-anak remaja gitu. Tapi bagi saya korban pribadi yang baik. Pendiam," kenangnya.

Hal senada diungkapkan oleh Ketua RT 01 RW 01, Manukan Kulon, Wijayanto Raharjo.

Ia menegaskan bahwa korban adalah sosok yang bersahabat dan membaur secara wajar dengan lingkungan sekitar.

"Iya kayak anak-anak itu lah, iya masih wajar, gumbul-gumbul atau nyangkruk-nyangkruk gitu," ujar Wijayanto saat memberikan keterangan di lokasi.

Impian Kuliah dan Foto Terakhir untuk Peti Mati

Tragisnya, maut menjemput TJK tepat sebelum dirinya sempat mencicipi masa depan yang telah ia rancang.

TJK meninggal dunia sebelum sempat mengambil ijazah kelulusan sekolahnya.

"Jadi enggak sempat, belum sempat untuk pendaftaran kuliah, belum sempat ngambil ijazah. Dari pihak keluarga juga menyayangkan sampai terjadi peristiwa seperti ini," tutur Nia menahan kesedihan.

Sebelum wafat, TJK memiliki impian besar untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui jalur beasiswa yang difasilitasi sekolah.

Ia bahkan sempat menyiapkan pasfoto dengan mengenakan kemeja putih untuk kelengkapan berkas administrasi.

Namun, foto kemeja putih yang sedianya digunakan untuk meraih masa depan tersebut, justru berakhir menjadi foto pajangan di atas peti pemakaman korban.

"Dia tanya-tanya ke kakak-kakaknya itu bagaimana cara pengurusannya. Setelah itu korban kan minta foto. Minta foto pakai kemeja warna putih, katanya untuk persiapan untuk pendaftaran kuliah. Setelah foto dicetak, ternyata fotonya malah untuk yang di peti," kata Nia seraya menahan tangis.

Penyelidikan Polisi dan Penangkapan Terduga Pelaku

Kakak sulung korban, Hana Novia Kristiani (32), membenarkan bahwa sang adik memiliki kepribadian introvert, namun sangat disukai oleh teman-temannya karena pembawaannya yang hangat.

"Jadi sekalipun dia introvert, tapi dia ini banyak disukai sama orang-orang. Bahkan orang tua teman-temannya itu biasanya itu suka kalau misalnya dia itu main atau tidur di rumah temannya," jelas Hana.

KASUS PENGEROYOKAN - Kakak korban TJK, Hana Novia Kristiani, saat ditemui di rumah duka Jalan Manukan Yoso II, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (4/6/2026). Korban mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan medis intensif dan mengalami koma selama lima hari, akibat dikeroyok oleh beberapa temannya sendiri.
KASUS PENGEROYOKAN - Kakak korban TJK, Hana Novia Kristiani, saat ditemui di rumah duka Jalan Manukan Yoso II, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (4/6/2026). Korban mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan medis intensif dan mengalami koma selama lima hari, akibat dikeroyok oleh beberapa temannya sendiri. (Surya.co.id/Luhur Pambudi)

Keluarga berharap hukum ditegakkan dengan seadil-adilnya atas peristiwa berdarah ini.

"Saya berharapnya kasus ini bisa terselesaikan sesuai dengan hukum yang berlaku," tegas Hana.

Proses Pemakaman Sempat Tertunda

Jenazah TJK yang awalnya direncanakan dimakamkan pada Kamis sore di TPU Babat Jerawat terpaksa diundur hingga Jumat (5/6/2026) pukul 08.00 WIB, guna menyelesaikan proses autopsi kepolisian.

Sementara itu, pihak kepolisian bergerak cepat mengamankan para terduga pelaku pengeroyokan tersebut.

Kanit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya, AKP Raditya Herlambang, mengonfirmasi pihaknya telah mengamankan beberapa orang untuk pemeriksaan.

"Ini masih proses pemeriksaan. Perkembangan mohon waktu kami infokan," ungkap AKP Raditya Herlambang saat dihubungi SURYA.co.id pada Kamis malam.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.