Kenapa Hanya Nanik S Deyang yang Tak Tersangka Korupsi MBG? Pengamat Singgung Loyalitas ke Prabowo
Tsaniyah Faidah June 05, 2026 06:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Analis Komunikasi Politik Universitas Paramadina Jakarta, Hendri Satrio atau Hensa, memberikan tanggapan terkait posisi Nanik S Deyang yang tidak ikut terseret dalam kasus korupsi di Badan Gizi Nasional (BGN).

Publik sempat mempertanyakan hal tersebut karena Nanik merupakan bagian dari petinggi BGN, namun ia menjadi satu-satunya yang tidak tersangkut kasus hukum yang menimpa tiga rekannya.

Sebagai informasi, kasus dugaan tindak pidana korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun 2025 sampai 2026 telah menjerat eks Kepala BGN Dadan Hindayana serta dua Wakil Kepala BGN, yakni Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya.

Menanggapi pertanyaan di masyarakat, Hensa memilih untuk berprasangka baik. Ia menilai hal itu wajar karena Nanik merupakan pihak yang paling belakangan bergabung di lembaga tersebut.

Nanik sendiri dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Wakil Kepala BGN pada 17 September 2025, sementara Lodewyk sudah lebih dulu menjabat sejak 22 Oktober 2024.

"Ada pertanyaan juga di masyarakat ini kenapa Naniknya enggak kena ya, kan gitu, yang tiga sudah masuk gitu ya, kalau saya sih positif thinking aja karena dia paling belakangan juga masuknya," ungkap Hensa, Jumat (5/6/2026), dikutip dari YouTube tvOne.

Selain faktor waktu bergabung, Hensa juga menilai bahwa Nanik selama ini menunjukkan loyalitas yang sangat kuat kepada Presiden. "Dia tegak lurus ke Pak Prabowo, sehingga dia bisa menjaga marwah itu," ucap Hensa.

Surat dari Balik Tahanan dan Ucapan Selamat Sony Sanjaya

Setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi MBG, Sony Sanjaya sempat mengirimkan sebuah surat kepada Nanik S Deyang.

Surat yang berisi ucapan selamat atas jabatan baru Nanik sebagai Kepala BGN tersebut diunggah oleh Sony melalui akun Instagram pribadinya, @sonysanjayabd, pada Rabu (3/6/2026).

Dalam suratnya, Sony juga menyampaikan apresiasi atas sebuah hadiah indah yang diberikan Nanik kepadanya, meskipun ia tidak menjelaskan secara rinci mengenai bentuk hadiah tersebut.

"Kepada Yth: Ibu Nanik S Deyang. Selamat atas jabatan baru sebagai Kepala BGN. Terima kasih atas hadiah indah yang diberikan kepada saya," tulis Sony dalam surat tersebut.

Melalui kolom takarir (caption), Sony menuliskan doa dan harapan agar sahabatnya itu dapat menjalankan amanah baru dengan baik.

"Sebuah kebahagian melihat sahabat dan rekan yang baik mendapatkan amanah yang lebih besar untuk mengabdi kepada bangsa," ujar Sony.

"Selamat atas jabatan baru sebagai Badan Gizi Nasional. Semoga senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menjalankan tugas."

Hubungan Dekat Sejak Pilpres dan Peringatan Pengamat

Nanik S Deyang dijadwalkan akan resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala BGN yang baru pada Senin (8/6/2026) pekan depan.

Bersamanya, Presiden juga akan melantik para Wakil Kepala BGN yang baru, yaitu Mayjen TNI Trenggono dan Agustina Arumsari.

Menanggapi pergantian kepemimpinan ini, Direktur Eksekutif Trias Politika, Agung Baskoro, menilai bahwa terpilihnya Nanik tidak terlepas dari motif politik dan kedekatan personal yang sudah terjalin lama dengan Prabowo.

Hubungan keduanya diketahui sudah terajut sejak Pemilu 2014 saat Nanik masih aktif sebagai jurnalis.

Setelah itu, Nanik konsisten berada di lingkaran pendukung Prabowo, termasuk menjadi Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019, hingga akhirnya mengawal kemenangan Prabowo di Pilpres 2024.

"Relasi dengan Bu Nanik secara personal sudah lama ya terajut sejak masa kampanye Pilpres, setahu saya 2019. Bahkan jauh dari itu, 2014 juga ada relasi ya persahabatan antara Bu Nanik dengan Pak Prabowo," ungkap Agung dalam wawancara eksklusif bersama Tribunnews dalam program ON FOCUS, Kamis (4/6/2026).

"Jadi suka atau tidak memang ketika terjadi reshuffle ini motif politiknya lebih kuat ketimbang motif teknokratisnya."

Kendati memiliki riwayat persahabatan yang erat, Agung meminta agar Presiden Prabowo tetap melakukan pengawasan ketat terhadap kinerja Nanik di BGN.

Hal ini menjadi krusial mengingat program Makan Bergizi Gratis merupakan program utama pemerintah yang langsung diasosiasikan dengan figur Presiden.

Agung menegaskan bahwa publik membutuhkan transparansi dan akuntabilitas yang tinggi dalam pengelolaan anggaran jumbo BGN yang mencapai lebih dari Rp300 triliun, atau diasumsikan sekitar Rp1 triliun per bulan.

Penggunaan dana tersebut harus dipastikan berjalan profesional dan hati-hati (prudent) agar tidak memicu kekhawatiran publik maupun pasar.

"Sehingga ini bisa menjadi masukan juga bagi Presiden untuk memonitor kinerja dari Mbak Nanik gitu ya. Apakah memang sudah sesuai tupoksinya? Apakah mampu memainkan peran untuk memastikan kualitas itu bisa tercapai gitu," pungkas Agung.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.