TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi langsung mengungsikan anggota keluarganya ke tempat aman setelah mendapati rentetan pengintaian yang semakin mengkhawatirkan oleh orang tidak dikenal (OTK).
OTK ini mengintai aktivitas keluarganya hingga kawasan rumah pribadi.
"24 Mei (2026) kekhawatiran sudah mulai terasa, saya kemudian mengevakuasi saya keluarga saya dan semuanya ke safe house ke rumah pengungsian karena menurut saya ini sudah mulai enggak aman," kata Islah dalam konferensi pers di Kantor YLBHI, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).
Islah menuturkan, ibundanya ia ungsikan keluar Jakarta.
Sedangkan anaknya yang sempat kembali ke Indonesia karena jeda kuliah di Malaysia, dipercepat keberangkatannya kembali ke Negeri Jiran.
Menurut Islah, Malaysia saat ini menjadi tempat yang aman bagi anak-anaknya ketimbang tetap berada di Indonesia.
Baca juga: Warga Dapati OTK Diduga TNI Bawa Alat Intelijen saat Memantau Rumah Islah Bahrawi
"Kebetulan akhirnya anak saya yang kuliah di Malaysia saya berangkatkan cepat. Mungkin lebih secure menurut saya kalau di Malaysia," katanya.
Islah mengatakan berdasarkan analisisnya, kelompok OTK ini adalah tim intelijen yang bergerak secara terorganisir.
Di mana, mereka berasal dari lintas instansi berbeda namun dikendalikan berdasarkan satu perintah komando.
Motifnya adalah melakukan intimidasi secara psikis maupun fisik.
Baca juga: Keluarga Diikuti hingga Anak Dikuntit, Islah Bahrawi Ceritakan Teror yang Dialaminya
"Saya sebut terorganisir karena besar kemungkinan dari orang-orang ini berada dalam lintas instansi yang berbeda tapi diorganisir oleh satu instansi saja atas perintah satu komandan saja," kata dia.
Kecurigaan ini berangkat dari lokasi titik kumpul mereka yang sama, antara warung kopi atau parkiran Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.
Kemudian orang-orang dari kelompok ini saling berbagi informasi dari hasil pengintaian yang dilakukan.
Dari penjabaran ini, Islah menyimpulkan bahwa para OTK tersebut berasal dari instansi militer.
Hal ini juga diperkuat dari tangkapan citra CCTV yang memperlihatkan wajah-wajah para OTK sebagaimana hasil telaah koalisi masyarakat sipil.
"Kemungkinan OTK ini dari militer kemungkinan besar dari enam wajah yang kita kumpulkan itu ini kemungkinan besar orang tak dikenal ini dari militer," kata dia.
Ia menuturkan kejadian penguntitan ini bermula ketika dirinya tengah berada di Yogyakarta.
Di sana, dua OTK berada di depan rumahnya selama hampir 2,5 jam. Informasi ini ia dapati dari para tetangganya.
"Pada tanggal 18 dan 15 Mei itu, ketika saya masih di Yogya, itu ada dua OTK dan bahkan dia berada di depan rumah saya itu kurang lebih 2,5 jam,” kata Islah.
Kemudian sekitar sembilan orang secara bergantian datang menggunakan motor dan mobil berbeda.
Mereka disebut memotret dan merekam rumah Islah.
Bahkan berusaha mengarahkan kamera ke dalam rumah dengan menaikkan ponsel melewati pagar setinggi sekitar 1,8 meter.
Menurut tetangga Islah, para OTK juga menanyakan berbagai informasi pribadi mengenai dia dan keluarganya.
Mulai dari jumlah anggota keluarga, aktivitas anak-anaknya, lokasi kerja, hingga jadwal asisten rumah tangga.
Pada 21 Mei, Islah menjemput anaknya yang pulang dari Malaysia melalui Bandara Soekarno-Hatta.
Dalam perjalanan menuju kawasan PIK 2 untuk makan bersama keluarga, keponakannya mencurigai sebuah mobil Avanza yang terus mengikuti kendaraan mereka.
Mobil yang dicurigai itu sempat difoto keponakannya.
Setelah diselidiki, mobil yang sama ditemui berada sekitar 80 meter dari rumahnya di sebuah warung kopi.
Anak Juga Dikuntit
Pada 21 Mei malam, Islah menghubungi anaknya.
Anak Islah juga merasa diikuti oleh kendaraan yang disebut memiliki ciri serupa hingga ke kantor.
Mobil itu terekam oleh dash cam sang anak.
Merasa situasi semakin mengkhawatirkan, Islah mulai berkoordinasi dengan warga sekitar untuk meningkatkan ronda lingkungan.
Pada malam yang sama, warga memergoki seorang pengendara motor yang diduga membawa perangkat Direction Finder (DF), yakni alat yang menurut Islah dapat digunakan untuk melacak posisi seseorang melalui sinyal seluler.
Saat dipergoki, pengendara tersebut disebut langsung melarikan diri.
Namun rekan yang diboncengnya tertinggal dan berhasil direkam warga.
Kemudian pada 22-24 Mei, melalui rekaman CCTV dan pengamatan warga, sejumlah orang yang diduga terlibat dalam pengintaian berhasil di dokumentasikan.
Islah mengklaim terdapat sekitar tujuh hingga sembilan orang yang menggunakan empat sepeda motor dan dua mobil berbeda.
Hingga 1 Juni, Islah mengaku masih menemukan orang yang memotret dan merekam rumahnya.
Menurutnya, orang tersebut terlihat berhati-hati dan menghindari kamera CCTV maupun kemungkinan pemotretan dari warga sekitar.
"Bahwa sampai tadi malam pun saya masih dikuntit," imbuhnya.
Teror Diduga dari TNI
Dalam sesi wawancara setelah konferensi pers, Islah menegaskan OTK yang wajahnya terekam oleh kamera CCTV sudah mereka identifikasi.
“Ada beberapa gambar yang sudah kita dapatkan, enam orang itu ternyata teridentifikasi sebagai anggota TNI. Saya perjelas, anggota TNI,” tuturnya.
“Tapi lebih jauh dari itu kita belum bisa menjelaskan ini di kesatuan mana, di satuan kerja yang mana,” sambung dia.