Parodikan Disabilitas untuk FYP, TikToker Ini Diserbu Kritik
Joanita Ary June 05, 2026 09:33 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Jagat media sosial kembali diwarnai polemik setelah seorang kreator konten TikTok dengan nama pengguna @violettaaxandrea atau yang dikenal sebagai Xander menjadi sasaran kritik keras dari publik.

Konten promosi produk kecantikan yang diunggahnya memicu kemarahan warganet karena dinilai menampilkan stereotipe negatif terhadap penyandang disabilitas.

Konten yang belakangan viral tersebut memperlihatkan Xander membuat ekspresi dan gestur yang oleh banyak pengguna media sosial dianggap menyerupai atau memparodikan kondisi tertentu yang kerap dialami penyandang disabilitas.

Alih-alih dianggap sebagai strategi pemasaran yang kreatif, video itu justru menuai kecaman karena dinilai menjadikan kondisi disabilitas sebagai bahan candaan demi menarik perhatian dan meningkatkan keterlibatan audiens.

Kritik datang dari berbagai kalangan, termasuk aktivis dan pengguna media sosial yang menilai tindakan tersebut tidak hanya tidak sensitif, tetapi juga berpotensi memperkuat stigma yang selama ini dihadapi kelompok penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari.

Di berbagai platform media sosial, warganet menuding konten tersebut sebagai bentuk ableisme, yakni sikap diskriminatif atau prasangka terhadap penyandang disabilitas yang menganggap mereka berada pada posisi lebih rendah dibandingkan individu non-disabilitas.

Istilah ableisme sendiri merujuk pada berbagai bentuk perlakuan yang meremehkan, mengejek, mengucilkan, atau mengabaikan kebutuhan penyandang disabilitas.

Praktik tersebut tidak selalu muncul dalam bentuk tindakan yang terang-terangan, melainkan juga bisa hadir melalui candaan, stereotipe, representasi yang tidak tepat di media, hingga minimnya aksesibilitas dalam ruang publik.

Sejumlah pengguna media sosial menilai konten yang dibuat Xander menjadi contoh bagaimana kondisi disabilitas kerap dijadikan alat hiburan atau strategi pemasaran tanpa mempertimbangkan dampak psikologis dan sosial bagi kelompok yang bersangkutan.

Kecaman yang terus bergulir akhirnya mendorong Xander memberikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf secara terbuka melalui unggahan terbaru di akun TikTok pribadinya.

Dalam pernyataannya, ia mengaku tidak pernah memiliki niat untuk menghina maupun mengejek penyandang disabilitas.

"Saya tidak pernah berniat untuk menyinggung atau merendahkan siapa pun," demikian inti pernyataan yang disampaikan Xander dalam unggahan permintaan maafnya.

Ia juga menyampaikan penyesalan atas kegaduhan yang muncul akibat konten tersebut dan mengaku menerima berbagai masukan dari masyarakat terkait sensitivitas isu disabilitas.

Meski demikian, permintaan maaf itu belum sepenuhnya meredakan perdebatan.

Hingga kini, kolom komentar pada sejumlah unggahan terkait masih dipenuhi diskusi dan kritik dari warganet. 

Sebagian pengguna media sosial mengapresiasi langkah Xander yang bersedia meminta maaf, namun tidak sedikit pula yang menilai kasus tersebut harus menjadi pelajaran penting bagi para kreator konten lainnya.

Menurut mereka, kreativitas dalam membuat materi promosi maupun hiburan di media sosial tetap harus dibarengi dengan empati dan pemahaman terhadap kelompok rentan.

Terlebih, di era digital saat ini, sebuah konten dapat menjangkau jutaan orang dalam waktu singkat dan berpotensi membentuk persepsi publik terhadap suatu kelompok masyarakat.

Polemik yang melibatkan Xander kembali mengingatkan bahwa isu inklusivitas dan penghormatan terhadap penyandang disabilitas masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Di tengah maraknya persaingan mencari perhatian di media sosial, para kreator dituntut tidak hanya kreatif, tetapi juga bertanggung jawab atas pesan yang mereka sampaikan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.