BANJARMASINPOST.CO.ID - Mengapa minat baca di kalangan anak muda masih menjadi tantangan? Karena generasi saat ini hidup di tengah begitu banyak pilihan hiburan dan informasi yang tersedia secara instan. Menurut Fitri Ferina, tantangannya bukan karena anak muda tidak suka belajar, melainkan karena perhatian mereka harus terbagi ke banyak hal.
Karena itu, ujar sarjana sastra Inggris dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) 2014 ini, literasi perlu hadir dengan pendekatan yang lebih dekat, relevan, dan sesuai dengan kehidupan mereka.
“Menumbuhkan minat baca sejak dini, semuanya dimulai dari keluarga. Saya mencintai buku karena tumbuh di rumah yang dekat dengan dunia pendidikan. Melihat ayah membaca, mendengarkan beliau bercerita tentang sastra dan puisi, serta mendapat hadiah buku dari kakak menjadi pengalaman yang membentuk kebiasaan membaca dalam diri saya,” ungkapnya.
Jadi, anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat. Karena itu, budaya membaca perlu dimulai dari rumah sebelum diperkuat oleh sekolah dan lingkungan.
Seperti halnya Fitri, ketertarikan terhadap buku tumbuh sejak kecil. Ia dibesarkan di keluarga yang sangat dekat dengan dunia pendidikan. Ayahnya seorang guru Bahasa Indonesia, dan kakaknya seorang dosen.
“Seingat saya, rumah kami hampir tidak pernah jauh dari buku. Ayah sering membawa pulang berbagai bacaan, mulai dari buku pelajaran, novel, hingga kumpulan puisi. Dari beliau saya mulai mengenal karya-karya Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bachri. Walaupun saat itu belum sepenuhnya memahami maknanya, saya menikmati keindahan kata-kata dan cara puisi menghadirkan perasaan,” kenangnya.
Buku pertama yang benar-benar ia baca sendiri adalah novel klasik dalam edisi bahasa Inggris yaitu Journey to the Center of the Earth karya Jules Verne yang dibelikan oleh kakaknya. Buku itu membuka imajinasi Fitri tentang petualangan, pengetahuan, dan dunia yang begitu luas. Dari situlah kebiasaan membaca tumbuh dan terus menemaninya hingga sekarang.
Fitri yang saat ini bekerja sebagai Regional Service Quality Bank Syariah Indonesia (BSI) Regional Kalimantan, sangat menikmati berbagai jenis bacaan. Dari kecil akrab dengan sastra dan puisi yang mengajarkan bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa.
Seiring waktu, saya semakin menyukai novel inspiratif seperti seri Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, novel misteri karya Agatha Christie, serta buku-buku pengembangan diri seperti Chicken Soup for the Soul dan Blink karya Malcolm Gladwell.
“Setiap genre memberikan pelajaran yang berbeda. Sastra mengajarkan kepekaan, novel mengajarkan empati, buku pengembangan diri mengajarkan refleksi, dan novel misteri melatih kemampuan berpikir kritis serta analitis,” jelasnya.
Saran Fitri, rekomendasi buku wajib baca untuk pembaca pemula adalah Laskar Pelangi dan seluruh sekuelnya karya Andrea Hirata, kemudian Chicken Soup for the Soul, Blink karya Malcolm Gladwell, novel-novel karya Agatha Christie dan The Alchemist karya Paulo Coelho, karena buku-buku tersebut relatif mudah dinikmati tetapi tetap meninggalkan banyak pelajaran dan refleksi.
Penulis favorit, dari Indonesia, Fitri sangat mengagumi Andrea Hirata karena kemampuannya menghadirkan cerita yang sederhana tetapi penuh makna. Ia juga memiliki kedekatan khusus dengan karya-karya Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bachri. Dari luar negeri, Agatha Christie karena kecerdasannya merangkai misteri, serta Malcolm Gladwell yang mampu menjelaskan berbagai fenomena kehidupan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami.
Seri Laskar Pelangi adalah salah satu bacaan yang paling membekas bagi Fitri. Kisah tentang pendidikan, mimpi, keterbatasan, dan semangat belajar yang ditampilkan Andrea Hirata sangat menginspirasi. Buku itu mengingatkan bahwa kesempatan mungkin tidak selalu datang dalam kondisi ideal, tetapi semangat untuk belajar harus tetap hidup. Selain itu, Blink juga memberi perspektif baru tentang bagaimana manusia mengambil keputusan dan memahami intuisi.
Menurut Fitri, peran membaca buku sangat penting di tengah maraknya konten digital saat ini. Buku tetap memiliki peran yang sangat penting. Kita hidup di era ketika informasi tersedia dalam hitungan detik. Namun membaca buku memberikan sesuatu yang berbeda, yaitu kedalaman. Buku mengajak kita berpikir lebih lama, memahami lebih dalam, dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.
“Jika media sosial sering memberi kita informasi, maka buku membantu kita membangun pemahaman,” katanya.
Diakui Fitri, ia masih memiliki kedekatan emosional dengan buku cetak. Ada pengalaman yang berbeda ketika memegang buku secara langsung, membalik halaman, dan memberi tanda pada bagian yang berkesan. Namun ia juga memanfaatkan e-book ataupun audiobook karena lebih praktis di tengah mobilitas pekerjaan yang cukup tinggi.
“Yang terpenting bagi saya bukan medianya, tetapi bagaimana kebiasaan membaca tetap
Terjaga,” tukasnya.
Dalam hal karya tulis, selama ini ia lebih banyak menulis untuk kebutuhan profesi, pelatihan, self development, komunikasi publik, pelayanan, serta berbagai kegiatan edukasi. Belum ada buku yang ia terbitkan secara komersial. Namun ia memiliki keinginan untuk suatu saat membukukan pengalaman, pembelajaran, dan berbagai cerita yang ia temui selama berkarir di dunia pelayanan dan self development.
Jika suatu hari menulis buku, tema yang ingin diangkat adalah tentang pengembangan diri, komunikasi, pelayanan, kepemimpinan, serta kisah-kisah inspiratif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia percaya bahwa pengalaman sederhana sering kali menyimpan pelajaran yang paling berharga. (Salmah saurin)
Tak Sekadar Menambah Pengetahuan
Terhadap perkembangan literasi di Indonesia, Fitri berharap literasi tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi menjadi budaya belajar sepanjang hayat.
Literasi yang kuat akan melahirkan masyarakat yang lebih kritis, lebih terbuka terhadap perbedaan, dan lebih siap menghadapi perubahan zaman.
“Kepada generasi muda, jangan menunggu waktu yang benar-benar luang untuk mulai membaca, because life will always keep us busy. Saya sendiri saat ini tidak sesering dulu membaca buku karena berbagai kesibukan pekerjaan. Namun saya percaya bahwa beberapa halaman yang dibaca setiap hari tetap lebih baik daripada tidak membaca sama sekali,” terangnya.
Mulailah dari buku yang disukai. Tidak perlu yang berat atau rumit. Ketika menemukan buku yang tepat, membaca akan terasa menyenangkan, bukan menjadi beban.
“Karena pada akhirnya, membaca bukan hanya tentang menambah pengetahuan, tetapi tentang memperluas cara pandang dan menjaga diri agar terus bertumbuh. As I often believe, every great journey begins with a single page,” tandasnya. (Salmah saurin)