Isi Kecemasan Warga Tanahlaut Kalsel Pasca Munculnya Sejumlah Titik Api, Kadang Muncul Saat Subuh
Edi Nugroho June 05, 2026 11:48 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Isi kecemasan warga Tanahlaut Kalsel pasca munculnya sejumlah titik api, kadang muncul saat subuh.

Meski hujan masih kerap mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan, kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai ditingkatkan. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tala bahkan telah mendeteksi kemunculan lima titik panas (hotspot) selama Mei 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Tala Aspi Setia Rahman mengatakan pemantauan karhutla terus dilakukan bersama Daops Manggala Agni Kalimatan VI/Tala melalui aplikasi Sipongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, data BMKG, serta pengecekan langsung di lapangan.

Baca juga: Tim Gabungan Bag Rebut Kapolres HST Cup, Begini Jalannya Laga Final

Baca juga: Soroti Isu Lingkungan hingga Pendidikan, Mahasiswa dan Warga Demo di Kantor Gubernur Kalsel   

"Pada Mei lalu terpantau lima hotspot yang tersebar di Kecamatan Jorong, Panyipatan, dan Kintap. Vegetasi yang terbakar didominasi akasia, ilalang, semak belukar, galam, hingga bondong," kata Aspi, Jumat (5/6/2026).

Ia merinci, titik panas terpantau pada 22 Mei di Desa Sabuhur, Kecamatan Jorong. Kemudian pada 24 Mei di Desa Batakan, Kecamatan Panyipatan. Selanjutnya pada 27 dan 28 Mei muncul di Desa Kintapkecil, Kecamatan Kintap, serta kembali terpantau di Desa Batakan pada 28 Mei.

Munculnya hotspot tersebut menjadi peringatan dini bagi seluruh pihak untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terlebih sejumlah prakiraan cuaca menyebut musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dibanding tahun sebelumnya.

Menurut Aspi, BPBD Tala telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Di antaranya membagikan informasi harian mengenai curah hujan, prakiraan cuaca, tingkat kemudahan terbakar lapisan atas tanah dari BMKG, serta pemantauan titik panas dari aplikasi Sipongi.

Selain itu, monitoring dan evaluasi berkala terus dilakukan, disertai koordinasi rutin dengan camat di wilayah rawan karhutla.

"Kami juga melaksanakan sosialisasi penguatan ketangguhan bencana melalui program Keluarga Tangguh Bencana di wilayah-wilayah yang berisiko," ujarnya.

Berdasarkan pemetaan BPBD, wilayah yang paling rentan karhutla awalnya meliputi Kecamatan Tambangulang, Batibati, Kurau, Bumi Makmur, dan Panyipatan. 

Namun, perkembangan kondisi lapangan menunjukkan tiga kecamatan lain juga perlu mendapat perhatian serius, yakni Pelaihari, Takisung, dan Jorong.

Meski saat ini curah hujan masih cukup tinggi, Aspi menegaskan upaya mitigasi tidak boleh menunggu datangnya musim kemarau.

BPBD terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai langkah pencegahan karhutla, termasuk pengelolaan sampah rumah tangga selama musim kemarau serta pemanfaatan sumber air bersih saat terjadi kekeringan.

Sosialisasi juga menyasar lingkungan pendidikan. Bahkan simulasi kesiapsiagaan menghadapi karhutla telah dilaksanakan di Pondok Pesantren Riyadus Sholihin, Desa Kayuabang, KecamatanTambangulang.

Di sisi lain, koordinasi lintas sektor juga terus diperkuat. BPBD secara berkala menggelar forum koordinasi kebencanaan bersama TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah kecamatan, hingga relawan masyarakat.

"Apel siaga karhutla bersama juga sudah dilakukan, termasuk pengecekan peralatan dan kesiapan personel secara bersama-sama," jelas Aspi.

BPBD juga terus mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Langkah tersebut dinilai menjadi kunci penting untuk menekan risiko karhutla saat musim kemarau nanti.

Warga Tala berharap kesiapsiagaan seluruh pihak mampu mencegah terulangnya kabut asap seperti yang pernah terjadi pada musim kemarau panjang beberapa tahun lalu.

Syahrani Ahmad, warga Pelaihari, mengaku khawatir apabila tahun ini benar-benar terjadi El Nino ekstrem atau yang kerap disebut El Nino Godzilla. 

Menurutnya, pengalaman kemarau panjang sebelumnya cukup menyulitkan aktivitas masyarakat.

"Kalau asap sudah tebal, perjalanan ke Banjarmasin jadi tidak nyaman. Dulu jarak pandang di jalan poros Pelaihari-Banjarmasin sangat terbatas, apalagi waktu subuh. Itu sangat berisiko menyebabkan kecelakaan," ujarnya.

Hal senada disampaikan Nurhayati, warga Kecamatan Batibati. Ia berharap upaya pencegahan dapat dilakukan sejak dini sehingga masyarakat tidak kembali merasakan dampak buruk kabut asap.

"Selain mengganggu aktivitas, bernapas juga jadi tidak nyaman. Kami berharap pemerintah dan masyarakat sama-sama menjaga agar tidak terjadi kebakaran lahan saat kemarau nanti," katanya.

Diselimuti Kabut Asap, Ini 5 Cara Lindungi Diri dari Bahaya Polusi Udara

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan membuat sejumlah wilayah di sekitarnya tertutup kabut asap. Akibatnya, kualitas udara pun menjadi tidak sehat.

Berdasarkan riset 2013 yang dilakukan WHO, polusi udara dapat menyebabkan kanker pada manusia, terutama kanker paru-paru.

Selain menyebabkan kanker, polusi udara juga mempengaruhi sistem pernapasan (paru-paru), dan sistem peredaran darah tubuh, seperti diare, malaria, dan radang paru atau pneumonia.

Lalu, bagaimana cara mencegah dampak polusi udara pada kesehatan kita?

Melansir Hello Sehat, berikut 5 cara mencegah dampak buruk polusi udara pada kesehatan:

1. Pakai masker saat keluar rumah

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah selalu memakai masker untuk menghalangi debu polusi udara yang terhirup dan bisa masuk ke saluran pernapasan.

Sayangnya, sebagian masker yang dijual di pasaran bukanlah masker yang tepat untuk mencegah dan menghalangi polusi udara.

Dimatikan Demi Keamanan

Gunakan masker dengan bahan yang telah terbukti dapat menyaring udara sebaik mungkin, misalnya masker jenis n95.

2. Bersihkan lantai dari debu dan kotoran tempat tinggal secara berkala

Bahan kimia dan alergen dari polusi udara bisa terkumpul dan menumpuk menjadi debu di lingkungan maupun di dalam rumah.

Cara untuk meminimalisir penyebaran polusi udara ini adalah dengan menggunakan vakum yang mengandung filter high efficiency particulate air (HEPA).

Vakum atau pembersih jenis ini dapat mengurangi debu dan kotoran yang terbuat dari bahan kimia brominated (PBDEs), serta alergen seperti serbuk sari, bulu hewan peliharaan, dan tungau debu.

Teknologi filter HEPA diklaim mampu membuat bakteri dan alergen lainnya terjebak dalam penghisap debu.

3. Jaga kelembapan udara di dalam rumah

Selain menggunakan filter HEPA, kita disarankan untuk menjaga tingkat kelembapan di dalam ruangan rumah atau kantor.

Kita bisa menggunakan humidifier untuk melembapkan udara ruangan. Jaga kelembapan udara sekitar 30 hingga 50 persen, kelembapan dengan kadar tersebut dapat membantu mengendalikan alergen dan pemicu penyakit pernapasan lainnya.

4. Jaga asupan cairan dalam tubuh

Minum air yang cukup sangat membantu membuang racun dari tubuh. Cairan tubuh yang cukup juga memicu kelembapan yang membantu menyerap polusi yang masuk ke dalam tubuh agar tidak meluas.

5. Konsumsi makanan sehat

Makanan sehat sangat membantu menangkal racun jahat dari polusi udara. Oleh karena itu, konsumsilah makanan sehat, seperti sayur dan buah-buahan yang sarat akan vitamin C. Contohnya jeruk, lemon, anggur, dan jambu.

Sayur dan buah-buahan juga dapat memperkuat sistem imu sehingga tubuh kita mampu melawan racun yang masuk ke dalam tubuh.

Penelitian yang dilakukan Universitas Otago juga menyebutkan, vitamin C lebih lama bertahan di jaringan tubuh jika melalui buah dibandingkan dengan dari suplemen.

(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara/kompas.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.