Laporan Wartawan Serambi Indonesia Jafaruddin I Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Kerusakan hunian sementara (Huntara) yang ditempati penyintas banjir di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, terus bertambah setelah kawasan tersebut kembali diterjang angin kencang pada Kamis (4/6/2026).
Berdasarkan pendataan terbaru yang diterima pemerintah kecamatan dari para keuchik, terdapat tambahan 11 unit Huntara yang mengalami kerusakan.
Dengan demikian, total bangunan terdampak akibat cuaca ekstrem sejak Selasa (2/6/2026) hingga Kamis (4/6/2026), mencapai 69 unit.
Camat Langkahan, T Reza Ichwan kepada Serambinews.com, Jumat (5/6/2025), mengatakan, tambahan kerusakan tersebut tersebar di sejumlah lokasi huntara penyintas banjir.
Di kawasan Huntara Gampong Rumoh Rayeuk, tercatat lima unit mengalami kerusakan tambahan, masing-masing dua unit rusak sedang dan tiga unit rusak ringan.
Sementara di Gampong Geudumbak, satu unit Huntara program insitu atau hunian yang dibangun di lokasi asal rumah penyintas juga mengalami kerusakan.
Selain itu, lima unit Huntara di Dusun Leubok Meuku, Gampong Buket Linteung, turut mengalami kerusakan akibat terjangan angin kencang yang kembali melanda wilayah tersebut.
Baca juga: Kepala PRR Aceh Safrizal ZA Turun ke Langkahan, Pastikan Huntara Diperbaiki Segera
"Data ini kami terima dari para keuchik. Ada tambahan 11 unit huntara yang rusak sehingga total keseluruhan yang terdampak kini mencapai 69 unit," ujar Reza Ichwan kepada Serambinews.com, Jumat (5/6/2026).
Menurut Reza, pihaknya telah melaporkan perkembangan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.
Selain itu, pihak Kementerian dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga telah menerima laporan terkait kerusakan tambahan yang terjadi.
"Informasi yang kami terima, huntara yang rusak tersebut akan segera diperbaiki," katanya.
Sebelumnya, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara, sebanyak 58 unit Huntara dan fasilitas pendukung mengalami kerusakan akibat hujan deras disertai angin kencang yang melanda Langkahan pada Selasa (2/6/2026) sore.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Aceh Utara, Fauzan MA menjelaskan, kerusakan tersebar di beberapa titik lokasi Huntara yang dibangun untuk menampung penyintas banjir besar November 2025.
Di Gampong Rumoh Rayeuk yang merupakan kawasan Huntara bantuan BNPB, sebanyak 36 unit terdampak.
Dari jumlah tersebut, 11 unit mengalami rusak berat, 20 unit rusak sedang, dan lima unit rusak ringan.
Sementara di Gampong Langkahan, lima unit Huntara bantuan BNPB mengalami rusak ringan.
Baca juga: Angin Kencang Kembali Terjang Langkahan, Kerusakan Huntara Bertambah, Listrik Padam
Kerusakan cukup parah juga terjadi di Dusun Leubok Meuku, Gampong Buket Linteung. Sebanyak tujuh unit Huntara bantuan Kementerian Pekerjaan Umum serta satu unit musalla mengalami kerusakan berat akibat diterjang angin kencang.
Sedangkan di Gampong Geudumbak, dari 10 unit Huntara program insitu yang dibangun di lokasi asal rumah penyintas banjir, empat unit mengalami rusak berat, empat unit rusak sedang, dan dua unit rusak ringan.
Reza mengatakan, proses pendataan sempat terkendala akibat padamnya aliran listrik di sejumlah wilayah terdampak.
Selain itu, kondisi jalan yang belum sepenuhnya pulih pascabanjir besar tahun lalu juga menyulitkan petugas menjangkau lokasi-lokasi huntara.
"Pendataan masih terus dilakukan. Angin kencang kembali terjadi dan menyebabkan kerusakan tambahan pada sejumlah Huntara,” tukas dia.
“Selain itu, listrik juga padam sehingga menyulitkan petugas di lapangan mendata," ujarnya.
Musibah tersebut kembali menambah beban para penyintas banjir yang hingga kini masih menempati Huntara sambil menunggu pembangunan hunian tetap (Huntap).
Sebagian warga yang huntaranya mengalami kerusakan berat terpaksa mengungsi ke rumah kerabat maupun lokasi yang lebih aman.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kerusakan yang terus bertambah membuat warga berharap rehabilitasi huntara dapat segera dilakukan agar mereka dapat kembali tinggal dengan aman.
Sebelumnya, Kepala Posko Wilayah Aceh Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR), Safrizal Zakaria Ali atau Safrizal ZA memastikan, seluruh Huntara yang mengalami kerusakan akan direhabilitasi oleh kementerian dan lembaga yang membangunnya.
Perbaikan akan dilakukan dalam waktu dekat dengan target penyelesaian dalam waktu tujuh hari.
Pemerintah daerah bersama BPBD, BNPB, Kementerian Pekerjaan Umum, dan instansi terkait terus berkoordinasi untuk memastikan kebutuhan dasar warga terdampak tetap terpenuhi selama proses rehabilitasi berlangsung.(*)