TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sonjaya, menyatakan siap buka-bukaan mengenai kasus dugaan korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjeratnya.
Langkah ini diambil setelah dirinya resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung pada Rabu (3/6/2026).
Melalui kuasa hukumnya, Sony memberikan penjelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di dalam internal lembaga tersebut.
Ia juga membantah keras tuduhan yang diarahkan kepadanya selama ini terkait pengelolaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Sony sempat membantah terlibat dalam jual beli titik dapur maupun pengadaan barang.
Penjelasan itu ia sampaikan dalam wawancara eksklusif Tribunnews pada Selasa (2/6/2026) malam, tepat satu jam sebelum pengumuman pencopotan dirinya dari BGN.
Sony, yang menjabat sebagai ketua tim verifikasi penentuan dapur MBG, merasa namanya dicatut oleh oknum di lapangan.
Ia menyatakan berani bersumpah untuk membuktikan bahwa dirinya tidak menerima uang.
"Demi Allah saya tidak pernah menjual titik. Kadang-kadang ngomong gini saya bilang, sini tolong bawa Al-Qur'an 30 simpan di atas kepala saya, saya berani bersumpah," ujar Sony.
Siap Buka-bukaan dan Singgung Sosok yang Lebih Berpengaruh
Sony mengajukan diri sebagai justice collaborator (JC) saat diperiksa pada Kamis (4/6/2026) malam.
Baca juga: Sony Sonjaya Sesumbar Nama Besar di Balik Jual Beli Titik SPPG, Padahal Anaknya Punya 7 Dapur MBG
"Semalam sudah dituangkan dalam BAP bahwa Pak Sony akan menjadi justice collaborator. Memang beliau sampaikan sendiri kepada penyidik," kata kuasa hukum Sony, Krisna Murti.
Melalui status sebagai justice collaborator, Sony berniat membeberkan peran pihak-pihak lain yang terlibat.
Krisna Murti menilai selama ini kliennya sengaja dipojokkan agar terlihat sebagai pelaku utama di mata publik.
"Selama ini dia dipojokkan bahwa dia adalah yang menjual titik-titik dapur, dia yang menjual, dia yang mempermainkan dapur-dapur itu," tutur Krisna.
Berdasarkan pengakuan Sony, keputusan yang diambilnya berada di bawah kendali pihak lain yang memiliki pengaruh lebih besar.
Sony mengaku menerima tekanan dan arahan dari nama-nama tertentu selama bertugas.
"Padahal, menurut Pak Sony bahwa beliau dalam tekanan, ada atensi gitu lho. Diatensi oleh nama-nama besar yang akan beliau sampaikan nanti sendiri," lanjut Krisna.
Krisna menegaskan bahwa otak dari perkara jual beli dapur ini bukan kliennya.
Ia menyebut ada banyak tokoh berpengaruh yang terlibat dan identitasnya akan dibuka langsung oleh Sony kepada penyidik kejaksaan.
"Beliau ditekan, bahwa otaknya bukan beliau. Bahwa jangan disangkakan jual dapur-dapur itu adalah beliau. Nanti beliau akan sebutkan nanti. Banyak tokoh-tokohnya banyak," ujar Krisna.