Pihak berwenang di New York dan New Jersey telah membuka penyelidikan bersama terhadap praktik penjualan tiket FIFA setelah muncul tuduhan bahwa badan pengatur sepak bola dunia tersebut menerapkan harga yang tidak wajar dan kemungkinan menggunakan metode penjualan yang menyesatkan.
Pekan lalu, negara bagian New Jersey mengeluarkan surat panggilan resmi kepada FIFA untuk meminta informasi dan membuka penyelidikan formal terkait biaya tiket di Stadion MetLife, lokasi yang dipilih untuk menggelar partai final pada 19 Juli, menurut laporan ESPN.
Pada 27 Mei, Jaksa Agung New York Letitia James dan Jaksa Agung New Jersey Jennifer Davenport secara resmi mengonfirmasi penyelidikan gabungan tersebut.
Dalam pernyataan publik, keduanya menyoroti bahwa harga tiket yang ditetapkan FIFA jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Piala Dunia sebelumnya. Kenaikan tajam ini menimbulkan dugaan adanya manipulasi pasokan tiket serta pengaturan tempat duduk yang menyesatkan dalam turnamen tersebut.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney (kanan) menerima tiket simbolis Piala Dunia dari Presiden FIFA Gianni Infantino di Ottawa, Ontario, pada 10 Oktober 2025. Foto oleh AP.
California juga dilaporkan meminta klarifikasi dari FIFA setelah mempertanyakan transparansi peta tempat duduk selama proses penjualan tiket. Di seluruh negara bagian yang terlibat, otoritas akan menyelidiki apakah para penggemar telah disesatkan ketika membeli tiket untuk turnamen yang diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini.
Hingga kini, FIFA belum memberikan komentar resmi terkait penyelidikan yang sedang berlangsung tersebut.
Namun, Presiden FIFA Gianni Infantino sempat menjadi sorotan setelah melontarkan candaan bahwa penggemar yang membeli tiket final dengan harga lebih dari 2 juta dolar AS mungkin akan menerima hot dog dan sekaleng Coca-Cola yang diserahkan langsung olehnya, pernyataan yang memicu kemarahan publik, menurut BBC.
Pengacara olahraga Alexander Rojas mengatakan kepada The Sun bahwa FIFA tidak bisa menganggap enteng perkembangan hukum ini, karena jaksa agung negara bagian di Amerika Serikat memiliki kekuatan besar dalam urusan perlindungan konsumen.
Rojas menambahkan bahwa meskipun FIFA merupakan organisasi internasional, badan tersebut tetap harus mematuhi undang-undang perlindungan konsumen domestik ketika beroperasi dan menjual produk di wilayah AS. Karena partai final Piala Dunia akan digelar di wilayah New York dan New Jersey, akan semakin sulit bagi FIFA untuk menghindari penyelidikan.
Piala Dunia 2026 akan menjadi yang terbesar dalam sejarah, dengan format yang diperluas menjadi 48 tim untuk pertama kalinya. Sebelumnya, panitia penyelenggara gencar mempromosikan turnamen ini sebagai ajang yang paling mudah diakses oleh para penggemar.
Namun, kontroversi muncul terkait pembagian tempat duduk. Banyak penggemar menuduh FIFA mengubah posisi kursi antar kategori tiket setelah penjualan dibuka, sehingga pembeli tidak mendapatkan tempat duduk yang sesuai dengan harapan mereka berdasarkan harga yang telah dibayar.
Pemandangan panorama Stadion MetLife saat pertandingan Piala Dunia Antarklub FIFA antara Fluminense dan Chelsea pada 8 Juli 2025. Foto oleh AP.
Otoritas perlindungan konsumen New York memperingatkan bahwa FIFA dapat dianggap melanggar hukum negara bagian jika tuduhan praktik penjualan tiket yang menyesatkan tersebut terbukti benar. Legislator AS juga menuntut penjelasan terkait mekanisme penjualan dan pembagian tiket.
Pakar hukum memperkirakan bahwa penyelidikan ini dapat berujung pada sanksi bagi badan pengatur tersebut. Hukuman yang mungkin dijatuhkan antara lain pengembalian dana, kompensasi finansial, atau kewajiban untuk meningkatkan transparansi dalam distribusi tiket di masa mendatang. Mereka menilai bahwa mengubah susunan tempat duduk menjelang turnamen sangat tidak mungkin dilakukan, sehingga kompensasi finansial menjadi pilihan yang lebih realistis.
Para analis menekankan bahwa inti penyelidikan ini bukan pada hak FIFA untuk menjual tiket dengan harga premium, tetapi apakah konsumen telah dimanipulasi melalui informasi yang menyesatkan atau kelangkaan buatan.
Mengingat besarnya risiko reputasi, para analis memprediksi bahwa FIFA kemungkinan akan memilih penyelesaian finansial cepat daripada menghadapi sengketa hukum berkepanjangan, demi melindungi citra publiknya menjelang turnamen sepak bola terbesar di dunia.