Tak Suka Didesak Akhiri Perang, Trump: Negosiasi Iran Bisa Berlangsung Bertahun-tahun
Garudea Prabawati June 06, 2026 08:34 AM

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengkritik pihak-pihak yang mendesaknya untuk segera mencapai kesepakatan dengan Iran.

Ia menekankan bahwa hal-hal seperti itu mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Trump mengatakan dalam sebuah wawancara dengan NBC bahwa pemerintahannya bergerak sangat cepat terkait Iran.

Presiden AS mengatakan perang AS-Israel dan Iran saat ini memasuki bulan ketiga, membandingkan durasinya dengan Perang Vietnam yang jauh lebih lama dan menolak kritik terhadap pendekatannya untuk menyelesaikan konflik Iran dengan cepat.

"Kita baru berada di bulan ketiga operasi dibandingkan dengan Perang Vietnam yang berlangsung selama 19 tahun," kata Trump, Jumat (5/6/2026), membandingkannya dengan Perang AS melawan Vietnam puluhan tahun lalu.

Presiden AS mengatakan bahwa menangani masalah Iran akan memakan waktu bertahun-tahun.

Trump menuduh pemerintah Iran telah "memerangi" dan "menargetkan" warga Amerika selama 47 tahun.

Presiden dari Partai Republik itu mengklaim AS menghancurkan sepenuhnya kemampuan militer Iran, termasuk sebagian besar pabrik drone, landasan peluncuran, dan lokasi pembuatan rudal.

Ia mengatakan Iran mungkin mempertahankan sekitar 21-22 persen dari persenjatan rudalnya.

Menurutnya, jumlah rudal yang tersisa di sana memang banyak, tetapi tidak sebanyak ketika Amerika Serikat dan Israel memulai perang bersama mereka melawannya.

Baca juga: Perang Iran Hari ke-98: Israel Tetap Bombardir Lebanon, Hizbullah Sebut Gencatan Senjata Lelucon

Trump menekankan AS mengetahui secara pasti jumlah dan lokasi sisa-sisa rudal dan drone Iran serta lokasi pabrik-pabriknya, menegaskan militer AS melancarkan serangan yang menghancurkan hampir seluruh tentara Iran, sebagian besar pabrik drone dan landasan peluncuran, serta area pembuatan rudal di Iran selama perang.

Selain itu, Iran menunjukkan kemampuan rudal dan drone yang berkelanjutan melalui serangan yang dilakukan dalam beberapa hari terakhir di wilayah Teluk, termasuk serangan terhadap Bandara Internasional Kuwait.

Trump: AS Mencegah Iran Punya Senjata Nuklir

Mengenai perjanjian nuklir , Trump menekankan bahwa Iran hampir memiliki senjata nuklir sebanyak dua kali, tetapi dia tidak memberikan detail lebih lanjut.

Dengan dibantu Israel, Trump mengklaim perang terhadap Iran diperlukan untuk mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang dibantah oleh Iran.

Dia menambahkan perjanjian nuklir sebelumnya dengan Iran – yang disimpulkan pada era mantan Presiden Barack Obama – adalah jalan menuju perolehan senjata nuklir.

"Jika saya tidak membatalkan perjanjian nuklir (pada tahun 2018 selama masa jabatan pertamanya), Iran akan memiliki senjata nuklir lima tahun yang lalu," kata Trump.

Presiden AS telah berulang kali menyatakan AS menghancurkan sepenuhnya angkatan darat dan angkatan laut Iran, dan Iran tidak lagi memiliki kemampuan militer apa pun.

Meskipun gencatan senjata telah tercapai pada April lalu, negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri perang mengalami hambatan.

Pembicaraan langsung, yang dimulai pada bulan April dan dimediasi oleh Pakistan, telah terhenti, sementara pesan terus dipertukarkan melalui perantara, di tengah bentrokan berulang di Teluk yang mengancam gencatan senjata, lapor Al Arabiya.

Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran

Perang Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai terjadi pada 28 Februari 2026 setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang sejumlah fasilitas penting di Iran.

Serangan tersebut dilakukan dua hari setelah perundingan mengenai program nuklir Iran di Jenewa berakhir tanpa mencapai kesepakatan.

Amerika Serikat dan Israel menuduh Iran sedang mengembangkan senjata nuklir. Namun, Iran membantah tuduhan itu dan menegaskan bahwa program nuklirnya hanya digunakan untuk kebutuhan energi dan penelitian sipil, bukan untuk tujuan militer.

Situasi semakin memanas ketika Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia pada awal perang. Dalam kondisi tersebut, sejumlah laporan menyebut bahwa posisi kepemimpinan tertinggi kemudian diteruskan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.

Sebagai tanggapan atas serangan yang diterimanya, Iran melancarkan serangan ke berbagai sasaran di Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Iran juga memperketat pengamanan di Selat Hormuz, jalur penting yang menjadi salah satu pusat perdagangan energi dunia.

Setelah berlangsung hampir 40 hari, konflik mulai mereda dengan tercapainya gencatan senjata sementara pada 8 April 2026. Kesepakatan tersebut berhasil dicapai berkat mediasi yang dilakukan oleh Pakistan.

Meskipun pertempuran berhenti sementara, berbagai masalah utama masih belum terselesaikan. Program pengayaan uranium Iran serta pengaturan keamanan dan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi topik yang diperdebatkan.

Untuk menjaga kelangsungan proses perdamaian, Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi kembali mengunjungi Teheran guna melanjutkan peran negaranya sebagai mediator. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa situasi masih sensitif dan tindakan militer tetap bisa dilakukan jika perundingan tidak menunjukkan kemajuan.

Selain Pakistan, Oman dan Qatar juga ikut membantu menjembatani komunikasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Hingga saat ini, perundingan antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung dan belum menghasilkan kesepakatan akhir. Beberapa isu yang masih menjadi perdebatan antara lain program nuklir Iran, cadangan uranium yang telah diperkaya, pembukaan Selat Hormuz, serta pencabutan sanksi dan pencairan aset Iran yang dibekukan.

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa ia tetap mengutamakan jalur diplomasi, tetapi menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Sementara itu, pemerintah Iran dikabarkan telah menerima proposal terbaru AS melalui mediator, Pakistan.

Namun, Teheran belum memberikan jawaban karena masih meninjau proposal tersebut.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.