Pelaku UMKM Jateng Menjerit, Ratusan Gulung Tikar Akibat Bahan Pokok Mahal
muslimah June 06, 2026 09:14 AM

Pelaku UMKM Jateng Menjerit, Ratusan Gulung Tikar Akibat Bahan Pokok Mahal

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Asosiasi Pengusaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia (APMIKIMMDO) Jawa Tengah mengungkap ratusan pelaku UMKM Jateng terpaksa gulung tikar akibat terdampak ekonomi global.

Para pelaku UMKM terpaksa menutup usahanya karena harga pokok semakin mahal yang berimbas pada usaha mereka.

Sektor UMKM yang paling terpukul adalah usaha kebutuhan barang sekunder dan tersier seperti penjual pakaian.

"Ya kami belum mendata secara rinci jumlah UMKM terdampak kondisi ekonomi global saat ini, tapi aduan yang masuk jika dirata-rata setiap kabupaten/kota ada 5-10 UMKM jumlahnya bisa ratusan (gulung tikar)," ujar Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) APMIKIMMDO Jateng,   Ariyanto kepada Tribunjateng.com, Jumat (5/6/2026).

Baca juga: Libur Sekolah, Diskon 30 Persen Tiket Kereta Api, Ini Daftar dan Jadwalnya

Ariyanto juga menerima keluhan para pelaku UMKM di daerah yang bertahan dengan setengah mati demi melanjutkan usahanya. Mereka terpaksa berhenti menyewa lapak atau kios karena tak kuat membayar.

Alhasil, mereka mengalihkan usahanya ke rumah mereka yang menyebabkan omzet merosot.

"Ya mau gimana lagi, mereka juga yang banyak pindah ke usaha lain, seperti jualan kebutuhan primer seperti sembako, tapi ya kompetitor cukup ketat," katanya.

Ia menilai, penyebab UMKM Jateng gulung tikar karena dampak ekonomi global yang merembet ke naiknya harga kebutuhan pokok.

Ia merincikan, harga elpiji tiga kilogram sudah di angka Rp25 ribu, minyak goreng di harga Rp20 ribu dan Pertalite sudah langka.

"Pemerintah bilang harga elpiji Rp16 ribu, minyak goreng Rp17.500, kami yang membeli harganya jauh di angka yang dibilang pemerintah, lalu pertalite tidak naik tapi barang langka," terangnya.

Ekonomi Terjepit saat Pajak UMKM Diterapkan

Di tengah situasi sulit ini, Ariyanto menyayangkan rencana pemerintah yang bakal menerapkan pajak UMKM pada bulan Juni 2026.

Ia menyebut, kenaikan pajak UMKM sangat tidak tepat di saat UMKM kembang kempis secara pendapatan.

"Kami sedang kaji kenaikan pajak UMKM ini, dua langkah yang akan kami ambil, ketemu pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan turun ke jalan (aksi demonstrasi)," ungkapnya.

Ia mengatakan, Pemerintah selama ini tidak berpihak kepada para pelaku UMKM. Mereka setengah hati dalam memberdayakan para pelaku UMKM yang sebenarnya turut menggerakkan ekonomi.

Sikap setengah hati itu, UMKM di Jateng tidak dilibatkan dalam berbagai program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan justru menciptakan saingan baru UMKM melalui proyek Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

"Kami tidak dilibatkan dalam program MBG yang tidak jelas itu, pasar sembako juga diambil oleh KDKMP," bebernya.

Ia berharap, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mendengar keluhan para pelaku UMKM dengan turun ke lapangan berupa melakukan operasi pasar.

Langkah itu agar harga kebutuhan pokok setidaknya turun. "Dan, paling penting, batalkan Pajak UMKM," pintanya.

Respon Pemprov Jateng : UMKM Perlu Perkuat Inovasi

Kepala Dinas Koperasi UKM Provinsi Jawa Tengah, Eddy Sulistiyo Bramianto mengatakan, menghadapi kenaikan harga sembako saat ini, UMKM harus memiliki keunggulan dan inovasi supaya pasar tetap menerima. 

"Harga pasti jadi pertimbangan, maka kami dorong teman-teman UMKM ayo dong digitalisasi, ayo inovasi, ayo lihat ceruk pasar yang ada lalu dikembangkan," bebernya kepada Tribunjateng.com di Gedung Gradhika Bhakti Praja. 

Terkait bahan baku UMKM yang semakin mahal dibarengi daya beli masyarakat menurun, Bram menilai UMKM perlu memperkuat kolaborasi. (Iwn)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.