Pesan Camat Ngabang di Acara Balala' dan Ajak Masyarakat Maknai Ritual Sebagai Momentum Kebersamaan
Madrosid June 06, 2026 09:32 AM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, LANDAK – Camat Ngabang, Brian Paskalis, menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap pelaksanaan Balala’ Pantang Nagari Tahun 2026 yang digelar di Kabupaten Landak.

Menurut Brian, pelaksanaan ritual adat Nyangahatn tersebut merupakan bagian penting dari tradisi masyarakat Dayak yang perlu terus dilestarikan dan dimaknai secara mendalam oleh seluruh masyarakat.

"Saya selaku Camat Ngabang mengucapkan selamat atas pelaksanaan ritual adat Nyangahatn yang dilaksanakan bersama untuk Kabupaten Landak, Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Mempawah," ujarnya.

Ia berharap masyarakat tidak hanya memandang Balala’ Pantang Nagari sebagai kegiatan seremonial semata, tetapi sebagai momentum untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan, persatuan, dan semangat membangun daerah.

"Kiranya ritual adat ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial biasa. Mari kita jadikan momen ini sebagai langkah baru untuk membangun kehidupan yang lebih baik," katanya.

Baca juga: Dukung Ketahanan Pangan, DKPP Landak Buka Kios Pangan Dua Kali Sepekan, Jual Sembako di Bawah Harga

Brian menjelaskan, melalui Balala’ Pantang Nagari, masyarakat memanjatkan doa dan harapan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar senantiasa diberikan perlindungan, keselamatan, serta dijauhkan dari berbagai marabahaya dan penyakit.

"Melalui Balala’ ini, kita memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Semoga seluruh masyarakat yang menjalankannya diberikan keselamatan dan dijauhkan dari segala bentuk marabahaya maupun sakit penyakit," tuturnya.

Simbol Persatuan

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat yang telah mendukung dan menyukseskan kegiatan tersebut, termasuk masyarakat dari berbagai latar belakang etnis.

"Terima kasih atas dukungan seluruh masyarakat, baik dari etnis Dayak maupun etnis lainnya, yang telah bersama-sama menjaga kebersamaan dan kekompakan dalam kegiatan ini," ucapnya.

Brian berharap Balala’ Pantang Nagari dapat menjadi simbol persatuan masyarakat dalam mewujudkan Kabupaten Landak yang semakin maju dan harmonis.

"Semoga momen ini menjadi momentum kebersamaan kita untuk mewujudkan Kabupaten Landak yang lebih baik. Terima kasih atas partisipasi dan kekompakan dari kita semua. Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata," pungkasnya.

Tradisi Turun Temurun

Tradisi turun-temurun masyarakat Dayak tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian persiapan memasuki musim Bahuma atau masa berladang.

Pelaksanaan ritual adat diawali dengan prosesi baremah tutup saka yang digelar di Terminal Bis Ngabang pada Jumat sore. 

Berdasarkan ketentuan adat, masa Balala dimulai tepat pukul 18.00 WIB pada 5 Juni 2026 dan akan berakhir atau buka saka pada Sabtu 6 Juni 2026 pukul 18.00 WIB.

Selama masa Balala berlangsung, masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan menjaga sikap agar tidak melakukan hal-hal yang dianggap dapat merusak keseimbangan alam maupun melanggar nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur.

Bendahara Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Landak, Cahyatanus, mengatakan Balala merupakan bagian dari budaya dan ritual adat masyarakat Dayak yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan sosial maupun hubungan manusia dengan alam.

“Masa Balala dimulai tepat pukul 18.00 hari ini dan berlangsung sampai besok pukul 18.00 tanggal 6 Juni 2026,” ujar Cahyatanus usai mengikuti ritual baremah tutup saka.

Ia menjelaskan, tradisi Balala dilaksanakan sebagai bentuk persiapan masyarakat Dayak sebelum memasuki musim Bahuma atau membuka ladang. 

Setelah masa Balala selesai, masyarakat biasanya akan melaksanakan ritual Ngawah untuk mencari tanda-tanda alam terkait lokasi hutan atau lahan yang akan dijadikan huma atau ladang.

Menurutnya, dalam tradisi tersebut masyarakat diajak lebih peka terhadap pesan-pesan alam sekaligus memohon keberkahan kepada Tuhan Yang Maha Esa atau Jubata agar hasil pertanian yang diperoleh nantinya membawa kebaikan dan kesejahteraan.

“Sebelum Bahuma, masyarakat melakukan Ngawah untuk melihat tanda-tanda alam dan mendengar pesan-pesan dari hutan. Harapannya agar ladang yang dibuka nantinya mendapatkan berkat dan hasil yang baik dari Jubata,” jelasnya.

Cahyatanus menambahkan, Balala memiliki filosofi yang sangat luhur karena mengajarkan manusia untuk menjaga keseimbangan alam dan menahan diri dari tindakan yang dapat merusak lingkungan.

Pada masa Balala, masyarakat diharapkan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi mencederai alam. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.