TRIBUNGORONTALO.COM -Bupati Gorontalo Utara, Thariq Modanggu mempercepat pemulihan pasca banjir di Kecamatan Biau.
Banjir bandang yang menerjang lima desa wilayah Komunitas Adat Terpencil (KAT) yakni Desa Didingga, Luhuto, Bualo, Biau, dan Omuto pada Selasa 26 Mei 2026. Sebanyak 820 kepala keluarga dengan total 3.034 jiwa terdampak banjir di lima desa tersebut.
Bupati Gorontalo Utara, Thariq Modanggu mengapresiasi keterlibatan semua pihak yang bahu-membahu dalam penanganan pascabencana
"Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran TNI-Polri, dinas terkait, para donatur, serta kepada Pak Wahyu yang mewakili PT. HTI Gorontalo Utara (Hutan Tanaman Industri). Kontribusi dan sinergi nyata dari PT. HTI sangat membantu mempercepat pemulihan daerah terdampak," ujar Thariq Modanggu.
Aksi cepat tanggap memperbaiki infrastruktur vital seperti tanggul dinilai sangat krusial. Langkah ini berhasil meminimalisir potensi luapan air susulan sekaligus mempercepat proses normalisasi wilayah terdampak.
Selain perbaikan fisik tanggul, bantuan logistik kemanusiaan berupa kebutuhan pokok mendesak juga terus mengalir. Bantuan seperti beras, minyak goreng, mi instan, pakaian layak pakai, makanan siap saji, hingga pasokan air bersih telah disalurkan secara berkala melalui posko utama penanggulangan bencana untuk didistribusikan kepada warga
Pemkab Gorontalo Utara menerapkan skema penanganan hulu-hilir yang terintegrasi.
Pada tahap pemulihan infrastruktur fisik, pemerintah tengah menggenjot perbaikan tanggul irigasi serta normalisasi Sungai Didingga. Langkah cepat ini diambil agar fasilitas umum dan gedung sekolah dapat segera difungsikan kembali secara normal.
Bupati Gorontalo Utara, Thariq Modanggu menambahkan bahwa pemerintah daerah juga tengah mempersiapkan program penanganan tahap berikutnya yang berfokus pada penyelamatan kawasan hulu.
Program ini akan melibatkan kerja sama konservasi lingkungan dan penanaman pohon guna mengantisipasi serta mencegah terjadinya bencana serupa di masa depan
Bupati Thariq Modanggu menegaskan bahwa penanganan darurat yang berjalan optimal ini tidak lepas dari kuatnya kolaborasi lintas sektor.
Sinergi aktif terbangun erat antara Pemda Gorontalo Utara, TNI/Polri, BPBD, Dinas Sosial, organisasi relawan, pihak swasta termasuk PT HTI, serta adanya dukungan solidaritas dari Pemda Bolaang Mongondow Utara.
Pemda Gorontalo Utara terus mengawal dan memastikan seluruh proses distribusi bantuan berjalan secara merata, cepat, dan tepat sasaran.
Komitmen ini diambil agar seluruh warga terdampak di Kecamatan Biau dapat segera bangkit, pulih, dan beraktivitas normal kembali lepas dari masa tanggap darurat.
Sebelumnya, ebijakan Hulu-Hilir Pascabencana Biau (H2PB) diperkenalkan Thariq pada hari ketiga pascabanjir Biau melalui video yang diunggah di akun Facebook pribadinya pada 29 Mei 2026. Saat itu, ia menjelaskan konsep penanganan banjir dibagi dalam tiga tahapan utama.
Tahap pertama adalah penanganan darurat bagi warga terdampak, meliputi penyediaan dapur umum, distribusi air bersih, serta bantuan kebutuhan dasar lainnya.
Tahap kedua berfokus pada penanganan infrastruktur yang rusak akibat banjir, khususnya perbaikan tanggul irigasi yang jebol dan normalisasi aliran sungai yang menjadi penyebab meluasnya genangan.
Sementara tahap ketiga diarahkan pada penyelamatan kawasan hulu untuk mencegah banjir berulang di masa mendatang.
Thariq menyebut sejumlah langkah yang akan dilakukan pada tahap tersebut, antara lain investigasi kondisi hutan dan aktivitas penebangan kayu, penindakan terhadap praktik illegal logging, pelarangan pembukaan lahan baru di kawasan gunung dan perbukitan, penerapan sistem agroforestri pada lahan yang telah dibuka, hingga penggalakan Gerakan Agro Mopomulo (GAM).
Sebelumnya, Pemkab Gorontalo Utara juga telah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai dan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Gorontalo untuk mempercepat perbaikan tanggul yang jebol di Desa Didingga.
Tanggul tersebut diduga menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan meluasnya genangan air hingga ke permukiman warga saat banjir melanda Kecamatan Biau.
"Penanganan bencana tidak boleh hanya berhenti pada bantuan darurat kepada masyarakat terdampak. Yang lebih penting adalah memastikan sumber persoalan yang menyebabkan banjir dapat segera ditangani agar kejadian serupa tidak terus berulang," ujar Thariq.
Ia menegaskan percepatan perbaikan tanggul dan normalisasi sungai merupakan bagian dari implementasi kebijakan H2PB yang dirancang sebagai penanganan banjir secara komprehensif dari hulu hingga hilir. (*/Pemkab)