TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Sebanyak 650 pelari memadati kawasan Sanur, Bali, untuk merayakan Global Running Day 2026 yang digelar secara serentak oleh Asics di 10 kota besar Indonesia.
Angka kepesertaan ini melonjak tajam melampaui target awal panitia yang hanya menyasar 400 orang.
Antusiasme tinggi masyarakat urban Bali dalam ajang lari rekreasional berjarak 5 kilometer (5K) ini juga dihadiri langsung oleh ratu lompat jauh Indonesia asal Bali, Maria Natalia Londa.
Maria Londa mengapresiasi langkah konkret Asics yang merangkul komunitas jalanan di daerah dan menyokong pembiayaan kompetisi internasional atlet muda yang tidak sepenuhnya tercover pemerintah.
Baca juga: Gandeng Jatiluwih Festival VII 2026 Hadirkan Fun Run Dengan Target 2.000 Peserta Bersama ASITA
Maria menilai implikasi olahraga lari di Bali kini sangat positif, mengingat banyak pelari maraton terbaik Indonesia justru lahir dari budaya komunitas pelari jalanan (running culture), bukan dari dalam lintasan atletik resmi.
"Semoga ke depannya dengan masuknya Asics ke komunitas-komunitas, semakin banyak perempuan Bali yang berminat menjadi atlet dan bisa berprestasi di tingkat internasional," ungkap Maria.
Maria Londa juga membagikan tips kepada ratusan pelari terkait pentingnya melakukan rotasi sepatu demi meminimalkan risiko cedera fatal di area telapak kaki, seperti plantar fasciitis (cedera plantar).
Bagi atlet yang menghabiskan waktu latihan hingga 2-3 jam per sesi, penggunaan satu sepatu secara terus-menerus untuk jenis latihan berbeda adalah kesalahan besar.
"Saya termasuk atlet yang sangat picky dalam memilih sepatu. Sebelum menggunakan Asics, saya dulu pernah mengalami cedera plantar," ujarnya.
"Dari situ saya sadar bahwa kita butuh mengganti sepatu di setiap sesi berlatih dengan tipe yang berbeda," imbuh peraih medali emas Asian Games tersebut.
"Misalnya, hari Senin untuk weight training sepatunya berbeda dengan hari Selasa saat latihan plyometric. Kebutuhan jam berlatih yang tinggi membuat saya memerlukan banyak tipe sepatu yang bervariasi," jabarnya.
Maria rutin menyumbangkan sepatu-sepatu lamanya yang masih dalam kondisi prima ke sekolah-sekolah atau kejuaraan lokal di Bali demi mendukung pembinaan atlet junior tingkat SD dan SMP yang membutuhkan dukungan fasilitas.
Ia menjelaskan perbedaan mendasar antara alas kaki pelari jarak jauh dan nomor lompat.
Untuk bertanding di nomor andalannya, ia mengenakan sepatu kaku berpaku (spikes) tipe Long Jump Pro 3 dan Triple Jump Pro 3 yang dilengkapi komponen full carbon.
"Berbeda dengan sepatu lari umum yang lentur, sepatu khusus lompat tidak bisa ditekuk sama sekali karena dirancang kaku demi menghasilkan daya hentak maksimal di papan tumpuan," bebernya.
Pada kesempatan yang sama, Marketing Lead Asics Indonesia, Abiyoga Prakoso menjelaskan bahwa Global Running Day sebenarnya jatuh pada tanggal 3 Juni.
Namun, demi mengakomodasi para pelari dan komunitas di luar Jakarta, perayaannya digeser ke hari libur di tanggal yang unik, yakni 6 Juni 2026.
Pihaknya sengaja memecah dominasi kegiatan ibu kota dengan merangkul kota-kota di daerah seperti Bali, Makassar, Surabaya, hingga Tasikmalaya demi menggerakkan ekosistem olahraga nasional secara menyeluruh.
"Kita pengen coba spread our awareness juga lebih besar di kota-kota lain. Target awal kita sebenarnya cuma 400 peserta, tapi ternyata beyond our target mencapai 650 orang di Bali. Ini membuktikan pelari sekarang sudah masif banget," ujar Abiyoga.
Abiyoga menambahkan, dalam momentum perayaan global ini, pihaknya juga memperkenalkan inovasi sepatu lari terbaru mereka, Gel-Kayano 33, yang membawa pembaruan teknologi 4D Guidance System.
Teknologi ini dirancang secara khusus berbasis riset ilmiah manusia (human science based) untuk mendeteksi dan mendukung struktur kaki pelari, terutama mereka yang bertipe kaki datar (flat foot).
Sejak diluncurkan pada 1 Juni, volume penjualan produk ini di Bali tercatat sangat bombastis dalam kurun waktu lima hari karena tingginya kesadaran pelari lokal terhadap kesehatan kaki mereka.
"Kita tahu pelari sekarang sudah besar, tapi some of them they might having ketakutan untuk berlari. Di sini menjadi wadah buat mereka untuk lari sama-sama dan senang-senang," ujar dia.
Selain mengandalkan kecanggihan teknologi pelacakan kaki, pihaknya juga terus berkomitmen menumbuhkan bibit muda di daerah melalui program Jakarta Speed Run Youth Talent.
Program ini menjaring pelari perempuan di bawah usia 18 tahun, School Program di 20 sekolah di Indonesia, serta program Coach the Coach yang melatih para guru olahraga sekolah menggunakan pelatih berlisensi internasional.
"Program berkelanjutan ini dijalankan lewat sinergi erat bersama Kemenpora RI," pungkasnya. (*)