TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kreator konten TikTok Xander (@violettaaxandrea) jadi sorotan, karena di salah satu konten videonya berpura-pura disabilitas sambil mempromosikan produk kecantikan.
Konten tersebut memicu reaksi keras dari banyak pengguna media sosial.
Bukan hanya karena dianggap tidak berempati, konten yang ia buat dinilai menjadikan kondisi penyandang disabilitas sebagai bahan hiburan dan alat pemasaran.
Baca juga: KUHAP Belum Atur Standar Aksesibilitas Pengadilan Bagi Penyandang Disabilitas
Dokter umum sekaligus edukator kesehatan, dr. Adam Prabata, MD, Ph.D, menilai fenomena tersebut tidak bisa dianggap sekadar candaan biasa.
Melalui unggahannya di media sosial X, ia menyampaikan kemarahannya terhadap tren konten yang menjadikan kondisi disabilitas sebagai bahan humor.
“SUMPAH MARAH BANGET!!! Ini gak cuma di satu video, tapi ada di video-video orang ini lainnya,” tulis dr Adam Prabata.
Menurutnya, perilaku seperti itu termasuk bentuk ableism.
Ia menjelaskan jika Ableism merupakan prasangka atau diskriminasi terhadap penyandang disabilitas yang dapat muncul melalui sikap, ucapan, hingga bentuk hiburan.
“Video kaya begini termasuk ke dalam ableism yang merupakan bentuk prasangka dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Hitungannya sudah MERENDAHKAN mereka!” tulisnya dikutip dari akun X dr Adam Prabata, Sabtu (6/6/2026).
Konten semacam ini menjadi problematik karena muncul di ruang digital yang sangat mudah diakses dan cepat menyebar.
Akibatnya, narasi yang merendahkan kelompok tertentu berisiko dianggap normal oleh penonton.
Di media sosial, banyak pembuat konten sering beralasan bahwa materi yang dibuat hanyalah humor atau hiburan.
Namun menurut dr Adam, normalisasi humor yang merendahkan justru dapat memperkuat stigma.
“Hal-hal kaya begini yang dinormalisasi, apalagi dijadikan konten hiburan, hitungannya GAK LUCU!” tulisnya.
Stigma sosial terhadap penyandang disabilitas bukan hanya soal perasaan tersinggung.
Dampaknya bisa jauh lebih panjang, termasuk pada bagaimana masyarakat memperlakukan kelompok tersebut di kehidupan sehari-hari.
Saat stereotipe negatif terus diulang, masyarakat bisa semakin sulit melihat penyandang disabilitas sebagai individu yang setara.
Akibatnya, diskriminasi dapat semakin mengakar, baik di dunia pendidikan, pekerjaan, hingga ruang sosial.
Dampak ableism ternyata tidak berhenti pada stigma.
Dr Adam menjelaskan sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penyandang disabilitas yang terus-menerus terpapar perilaku merendahkan memiliki risiko gangguan psikologis lebih tinggi.
“Karena bisa memperkuat stigma sosial yang berdampak nyata terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan penyandang disabilitas,” tulisnya.
Ia juga menyoroti temuan penelitian yang menunjukkan adanya kaitan antara ableism dengan munculnya rasa malu berlebihan.
Rasa malu ini kemudian dapat berkembang menjadi masalah kesehatan mental lain.
“Penelitian menunjukkan bahwa penyandang disabilitas yang menonton atau melihat perilaku ableism ini berisiko mengalami masalah kesehatan mental, termasuk rasa malu (shame) yang memicu gejala depresi dan kecemasan,"jelas dr Adam masih dalam postingan yang sama.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena rasa malu berkepanjangan sering membuat seseorang menarik diri dari lingkungan sosial.
Selain mempengaruhi korban secara langsung, konten seperti ini juga dapat membentuk cara pandang audiens.
Dr Adam menyinggung penelitian tahun 2024 yang mengulas dampak humor terkait disabilitas.
Hasilnya menunjukkan bahwa humor semacam ini tidak sekadar membuat orang tertawa. Justru ada dampak sosial yang lebih luas.
“Penelitian lain tahun 2024 di Journal of Media Psychology meneliti mengenai humor disabilitas dan menemukan bahwa humor semacam ini justru memperkuat stereotype negatif, mengurangi empati penonton, dan menyebabkan distress emosional bagi penyandang disabilita, meskipun pembuat konten mengklaim ‘hanya bercanda’,"jelas dr Adam.
Dalam kondisi tertentu, korban juga bisa mengalami ejekan berulang, cyberbullying, hingga memilih diam karena takut kembali menjadi sasaran.
Situasi ini membuat ruang digital yang seharusnya inklusif justru terasa tidak aman bagi sebagian orang.
Fenomena viralnya konten seperti ini menjadi pengingat bahwa media sosial bukan hanya tempat mencari perhatian atau menjual produk.
Konten yang dibuat dan dibagikan juga memiliki dampak psikologis terhadap orang lain.
Karena itu, penting bagi kreator maupun pengguna media sosial untuk memahami bahwa humor yang melibatkan kelompok rentan memiliki konsekuensi nyata.
Di akhir unggahannya, dr Adam berharap tren serupa tidak terus berulang.
“Cukup marah-marahnya. Semoga tidak ada lagi humor-humor seperti ini," tutupnya.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)